Rasa bersalah Permaisuri Li Wei dapat dilihat oleh kaisar dengan sangat jelas dari raut wajahnya. Aneh sekali.
"Tidak peduli apapun! Aku tidak akan pernah menghukum Mei'er atau menyalahkannya!" ujarnya penuh penekanan, tampak tak suka ketika ada seseorang yang mengatakan jika putrinya adalah orang yang buruk. Sungguh kaisar yang satu ini sangat keras kepala, apa yang menyumbat otaknya hingga tidak bisa berpikir dengan baik?
Permaisuri Li Wei menghela napas berat.
"Aku tidak menyalahkan Mei'er, suamiku. Aku bingung bagaimana bisa Mei'er melakukan hal yang tidak pantas seperti itu." Wanita cantik tersebut berusaha menenangkan suaminya sebelum setan-setan pada tubuhnya keluar, itu akan membuatnya kerepotan.
BRAK!!
"Sudah ku bilang! Mei'er tidak akan melakukan hal-hal tidak pantas seperti apa yag kau sebutkan! Kenapa kau malah percaya pada pelayan itu?!!"
"Baiklah jika kau tidak percaya, Permaisuri ini akan mengundurkan diri. Salam, kaisar," ujar Permaisuri Li Wei menyudahi perdebatan dengan kaisar. Ia tahu berdebat dengan kepala batu hanyalah sia-sia.
~~~~~
"Apa Kakak tahu? Aku sangat senang saat ini, akhirnya kita bisa pergi dari istana menyebalkan itu!" Entah Wang Chu Mei sudah mengulang kata-kata tersebut beberapa kali untuk mengungkapkan rasa bahagianya. Mereka berdua duduk berhadapan di dalam kereta, yang satunya asyik berceloteh dan yang satu lagi hanya tersenyum sambil sesekali menanggapi.
Wang Xia Ai hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia memaklumi sikap adiknya yang selalu ceria dan semangat.
"Iya, Kakak sudah tahu. Kau sudah mengulang kata-kata itu hampir empat kali, Chu Mei," ujarnya lembut, kemudian kembali fokus membaca sebuah buku di tangannya.
"Hehe, habisnya aku terlalu senang, Kak."
Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menatap kagum ke arah kakaknya. Lihatlah caranya duduk, sangat anggun dan tenang, nada suaranya begitu lembut dan hatinya amat baik. Namun, dia terlalu baik untuk berada di lingkungan yang kejam. Sangat berbeda dengan dirinya yang cenderung tidak peduli dan melakukan semua hal sesuka hatinya.
"Kau harus mengubah sikapmu yang cepat marah dan selalu berkata sembarangan, Chu Mei. Ingat syarat yang Putra Mahkota ajukan agar kau diperbolehkan ikut," ujar Wang Xia Ai pada adiknya yang suka bersikap pecicilan, masih fokus membaca setiap lembaran buku.
"Iya-iya, aku tahu," jawabnya dengan perasaan dongkol. Ia masih mengingat perjanjian nya dengan Putra Mahkota, dan sekarang ia harus benar-benar melakukan syarat yang sangat bertentangan dengan sifatnya, tapi tak apa, ia bersedia asalkan bisa keluar dari istana itu.
"Ngomong-ngomong, Kak, aku rasa kita harus berhenti menyegel aura sepiritual kita. Sangat berbahaya jika hidup di tempat baru tanpa memiliki kekuatan. Aku tidak ingin Kakak direndahkan lagi." Wang Chu Mei mengusulkan pendapatnya. Ia sangat memikirkan keselamatan kakaknya yang mudah percaya pada wajah manis yang berkedok jahat.
"Apa itu perlu?" tanya Wang Xia Ai pada adiknya yang selalu berpikiran negatif ini. Ia mengetuk dagunya dengan jari telunjuk seraya berpikir, masih bingung mempertimbangkan saran sang adik.
"Tentu saja, Kak! Aku dengar bahwa Yang Mulia Kaisar Zhang memiliki tiga selir, ada baiknya kalau kita melepaskan sedikit aura kita untuk terhindar dari masalah, kita juga tidak bisa melepaskan secara keseluruhan, itu akan sangat merepotkan. Kita bisa saja diburu oleh orang-orang jahat," katanya bijak. Raut wajah serius nya membuat Wang Xia Ai tertawa, adiknya ini sangat lucu dengan ekspresi seperti itu.
"Hahaha Chu Mei, wajahmu lucu saat sedang serius. Baiklah-baiklah, aku setuju." Ia kemudian mengambil sikap lotus, lalu menutup mata dan fokus pada pikiran begitupun Wang Chu Mei.
Setelah hampir satu jam lamanya, dari dalam kereta terpancar cahaya keemasan yang menerangi lokasi sekitar meskipun hari masih pagi, yang membuat para prajurit menutup mata mereka karena silau.
"Yang Mulia!"
Zhang Xuen Chi yang sedang memimpin di depan sana sontak berbalik ke belakang ketika mendengar teriakan para prajurit nya. Ia lantas membelokkan langkah kudanya ke belakang.
"Ada apa ini?" ujarnya.
"Mohon ampun, Yang Mulia. Tadi muncul sebuah cahaya keemasan yang keluar dari dalam kereta tuan putri. Hamba khawatir ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam sana," kata prajurit itu sambil menunduk hormat.
"Cahaya? Xia'er.."
"BERHENTI!!"
Ia berteriak menghentikan rombongan dan langsung membuka pintu kereta dengan raut wajah panik.
"Xia'er! Eh...?"
Tiga orang itu sama-sama terkejut. Ada Zhang Xuen Chi yang melongo keheranan dan ada Wang Chu Mei serta Wang Xia Ai yang menatapnya tak kalah heran.
"Xuen? Mengapa kamu masuk? Apa kita sudah sampai? Cepat sekali," kata Wang Xia Ai seraya menengok ke luar jendela, akan tetapi mereka masih ada di jalan dekat hutan.
"Kalian baik-baik saja?" tanyanya heran.
Kedua gadis itu saling pandang satu sama lain.
"Ya, kami baik. Memangnya ada apa?" Wang Chu Mei menatap pria tersebut bingung.
"Cahaya apa tadi itu? Prajurit ku sampai berteriak ketika melihat sinar terang yang keluar dari dalam sini," ujarnya penasaran.
"Cahaya? Kami tidak tahu," jawab Wang Xia Ai, sesaat kemudian ia tersadar dan menatap adiknya yang sama-sama melongo.
"Atau mungkin cahaya itu berasal dari kita?" kata mereka bersamaan.
"Apa maksud kalian?"
Sungguh, Zhang Xuen Chi dibuat seperti orang bodoh di sini. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang sedang dibicarakan oleh kakak beradik ini.
"Ya, kami memang melakukan meditasi di sini untuk membuka segel aura spiritual. Aku melakukannya karena takut setelah sampai di sana kamu akan direndahkan karena mereka tidak bisa mendeteksi ranah kultivasi ku. Hanya sedikit, setidaknya mereka hanya bisa melihatku di ranah Langit," ujarnya dengan suara lembut mengalun.
Memang dasarnya Xia Ai ini lembut dan murah senyum ya gaes :)
Pria itu tersenyum tipis, tersentuh mendengar perkataan Xia Ai yang memikirkan harga dirinya.
"Xia'er, kamu tidak perlu seperti itu. Aku tidak akan malu memiliki mu." Zhang Xuen Chi menatap gadisnya penuh kasih. Dirinya tidak akan malu memiliki Xia Ai yang berhati baik, dan bahkan jika dia tidak memiliki kekuatan ia sama sekali tidak perduli.
"Tapi mengapa aku merasakan aura yang sangat besar dari dalam kereta mu Xia'er?" tanya Zhang Xuen Chi bingung dengan apa yang di rasakan nya, Xia Ai bilang dia hanya melepaskan sedikit auranya tapi mengapa energi nya sangat besar. Apa memang Wang Xia Ai nya sangat istimewa?
"Benarkah?" Xia Ai bertanya balik menatap Zang Xuen Chi. Mereka hanya melepaskan sedikit aura. Ia memang mengakui bahwa ranahnya sekarang berada di ranah legendaris. Tapi apakah sedikit aura akan terasa begitu kuat?
"En, jaga dirimu baik-baik Xia'er. Ada banyak orang yang mengincar kultivator hebat, energi mu benar-benar terasa sangat pekat melebihi ranah Surgawi," ujarnya yang mengejutkan kedua gadis itu.
"Baiklah Xuen." Wang Xia Ai mengangguk patuh kemudian menutup jendela, Zhang Xuen Chi pun kembali menunggangi kudanya kembali ke depan rombongan dan memimpin perjalanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triplets Princesses [END]
Fantasi'_Wang Xia Ai. Istri terkasih dan cinta pertama Zhang Xuen Chi _' Di Kekaisaran Wang. Kaisar Wang beserta Permaisuri Li Wei dikaruniai tiga putri kembar yang diberi nama Wang Xia Ai, Wang Chu Mei, dan Wang Mei Lan. Ketiganya disayangi dan dicintai o...
![Triplets Princesses [END]](https://img.wattpad.com/cover/316340766-64-k467194.jpg)