12. Beraninya kau!

248 20 0
                                        

Wang Mei Lan yang terpojokan hendak menampar Wang Chu Mei. Namun, gadis itu menyadari pergerakan tersebut, tangannya seketika langsung menyangkal tangan Wang Mei Lan yang hendak menamparnya. Wajah gadis itu merah padam. Dia sontak berdiri, begitu juga dengannya.

"Berani sekali kau mengancam ku seperti ini!" bentak Wang Mei Lan.

"Memangnya apa yang kau harapkan dari reaksi Ayah dan Ibu? Kau berharap mereka akan memeluk dan mencintai kalian?"

Dia melipat kedua tangannya di dada, lalu berjalan mengelilingi Wang Chu Mei dengan tatapan meremehkan. Tidak, ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Chu Mei. Ia adalah Wang Mei Lan, putri bungsu yang akan selalu menyombongkan diri. Hanya berhadapan dengan Chu Mei ini tak akan membuat harga dirinya luntur.

"Ckckck, kasihan sekali, ya? Mengharap kasih sayang sampai harus mengancam-ancam seperti ini. Kalau memang berani, pergilah dan tunjukkan kekuatan mu itu pada Ayah dan Ibu," katanya tepat di hadapan Wang Chu Mei yang terlihat marah.

Sesaat kemudian gadis itu menepuk dahinya pelan.

"Oh, iya, aku lupa. Kalian kan tidak pernah bersekolah di akademi, wajar saja kalau kalian itu bodoh dan lemah. Apa kalian juga buta huruf..."

PLAK!!

Suara nyaring itu terdengar begitu menyakitkan. Tangan kanan nya menampar pipi kiri Wang Mei Lan sampai dia memalingkan wajahnya bahkan sebelum dia selesai berucap.

"Mulut mu itu sangat beracun! Kau mengaku pintar karena pernah bersekolah di akademi ternama, tapi nyatanya sikapmu jauh lebih buruk daripada seorang pengemis!"

"Awalnya aku datang ke sini hanya ingin memberimu pelajaran karena telah berani menyakiti kakakku, tapi kau malah membawaku sampai sejauh ini. Sekarang mari kita lihat siapa yang akan hidup lebih lama, kau atau aku."

Wang Chu Mei benar-benar telah diselimuti amarah. Ia tidak pernah merasa terhina seperti ini. Aura sepiritual pekat menyelimuti tubuh Wang Chu Mei, matanya bersinar terang memancarkan kemarahan, semilir angin yang datang entah darimana berhembus menerbangkan beberapa helai rambutnya yang panjang menjuntai. Perlahan, di tangan kanannya muncul bayang-bayang sebuah pedang bercahaya terang dan itu sukses membuat Wang Mei Lan terkejut.

"Kau sangat kuat, kan? Mari kita coba, apakah kau bisa selamat dari Pedang Api Neraka ini," ujarnya seraya menyentuh permukaan pedang yang terasa panas.

Gadis itu sontak mundur beberapa langkah seraya menggeleng tak percaya ketika mendengar Wang Chu Mei menyebutkan nama pedang itu.

"Tidak mungkin! Bagaimana bisa orang payah sepertimu bisa memiliki salah satu pedang terkuat di dunia?!"

"Tidak penting darimana aku mendapatkannya, yang penting adalah darahmu harus menetes di sini."

Wang Chu Mei lantas melayangkan pedangnya ke arah Wang Mei Lan tanpa basa basi dan langsung menggores lengan nya hingga darahnya menetes di lantai.

"Akh! Kau?!!" Wang Mei Lan menyerang Wang Chu Mei menggunakan elemen Api, tapi lagi-lagi tak berhasil mengenai sasaran.

Saat akan membalas serangan, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar. Tak ingin ada seseorang yang melihatnya dengan kekuatan seperti ini, Wang Chu Mei lantas menghilang menggunakan teleportasi meninggalkan Kediaman Awan.

"Awas saja! Kau sudah berani mengibarkan bendera perang di antara kita, akan ku buat kau menangis mendengar kabar kematian Xia Ai!" gumamnya penuh tekad.

~~~~~

Hari sudah sore, ini saat nya Xia Ai meminum obat penetralisir racun nya agar tidak menyebar dengan cepat.

Tanpa diketahui siapapun, seorang pelayan tampak sedang mengendap-endap masuk ke kamar Wang Xia Ai yang sendirian, dikarenakan Zhang Xuen Chi sedang mengurus sesuatu di luar istana. Gerak-gerik pelayan wanita itu sangat mencurigakan, dia membawa semangkuk kecil ramuan hijau yang dikatakan pada penjaga kediaman Wang Xia Ai bahwa itu adalah obat yang Tabib Mo suruh untuk diberikan kepada tuan putri. Setelah diizinkan masuk, pelayan itu tertawa terbahak-bahak.

"Apa kabar tuan putri? Aku datang ke mari atas perintah adik mu yang akan membantumu menemui ajal mu. Harusnya kau berterimakasih padanya karena sudah repot-repot menambah dosis racun, maka selamat tinggal."

Yap! pelayan itu adalah suruhan Wang Mei Lan yang benar-benar ingin membunuh Wang Xia Ai secepat mungkin.

Pelayan itu mencekokan racun ke mulut Wanv Xia Ai yang tak sadarkan diri, akan tetapi takdir berkata lain, sebelum racun tersebut habis, pelayan itu di kejutkan dengan suara keras Zhang Xuen Chi

"APA YANG KAU BERIKAN PADA XIA'ER, PELAYAN RENDAHAN!!"

Zhang Xuen Chi menangkap basah pelayan mencurigakan yang meracuni Wang Xia Ai, sebelum pria itu menangkap nya, pelayan itu sudah melarikan diri menggunakan teleportasi. Dengan tergesa-gesa pria tampan itu menghampiri Wang Xia Ai yang sudah sesak nafas. Dia semakin panik karena gadisnya memuntahkan darah segar dari mulutnya.

"Xia'er maafkan aku karena telah meninggakan mu." Zhang Xuen Chi menyeka darah yang keluar dari mulut Xia Ai menggunakan sapu tangan. Tangannya semakin gemetar saat melihat darah yang dimuntahkan semakin banyak.

"PENGAWAL!! PANGGILKAN TABIB CEPAT!!!"

Zhang Xuen Chi berteriak-teriak dari dalam kediaman. Pengawal yang mendengar nya pun dengan cepat berlari memanggil Tabib Mo.

"Xia'er kumohon bertahanlah, Bao San akan segera mencarikan Lotus Putih untukmu, jangan membuat nya sia-sia mencari Lotus Putih di Hutan Kematian!"

Pria itu berbicara sambil menyeka darah dari mulut Wang Xia Ai yang semakin banyak dan lama-kelamaan berubah menjadi berwarna hitam pekat.

 Triplets Princesses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang