Selir Rong Chen membelalakkan matanya terkejut. Bagaimana bisa putrinya berpikiran jauh seperti itu?! Jika ada yang mendengarnya, maka habislah riwayat putrinya.
Sedangkan di luar sana tanpa sepengetahuan mereka, Zhang Xuen Chi yang kebetulan akan mengetuk pintu seketika mengerutkan keningnya.
BRAKKK!!
Pintu kediaman anggrek dibuka keras oleh Zhang Xuen Chi menggunakan energi spiritual hingga terlepas dan hancur berkeping-keping. Sontak dua orang di dalam kamar itu langsung keluar dan terkejut ketika melihat wajah Putra Mahkota yang murka.
Wajah Selir Rong Chen mendadak pucat pasi. Jika Putra Mahkota mendengar ucapan putrinya tadi...
Tidak-tidak! Itu tidak mungkin!
"Salam, Yang Mulia Putra Mahkota."
Selir Rong Chen dan Zhang Bai Nian membungkuk hormat memberikan salam hormat pada Zhang Xuen Chi yang berstatus tinggi. Namun, pria itu menghiraukan salam mereka berdua. Matanya menatap tajam wajah Zhang Bai Nian yang ketakutan.
"Apa kau mengatakan sesuatu tadi?" ucap Zhang Xuen Chi dengan nada yang tidak bersahabat.
"Ti-tidak ada, Yang Mu-lia." Gadis itu menjawab dengan terbata-bata. Jantungnya saat ini sedang maraton. Bagaimana kalau pria itu mendengar ucapannya?
"Benwang dengar ada yang ingin melenyapkan seseorang? Apa Benwang salah dengar?" ujarnya semakin mendesak Zhang Bai Nian yang sudah berkeringat dingin.
"Ap-a maksud, Y-ya-ng Mulia? Tidak ada yang berbicara seperti i-tu," kata gadis tersebut yang gagal mengontrol suaranya.
"Benwang peringatkan pada kalian. Jangan sesekali mengusik Xia'er, atau kalian akan berakhir dengan buruk. Sikapmu pada calon istri Benwang sangat tidak pantas. Kau lancang menyakiti hatinya, jika kau mengulangi nya lagi, maka habislah!"
Zhang Xuen Chi kemudian pergi dari sana tanpa basa basi, dia sangat muak. Selalu saja ada orang yang mengusik kehidupannya.
Selir Rong Chen yang menahan napas sedari tadi langsung menghembuskan nya perlahan. Sungguh ia sangat takut kalau putrinya membuat masalah lagi. Ia menarik rambut Zhang Bai Nian dengan keras. Anak ini harus di beri pelajaran!
"Kau dengar hah?! Apa kau dengar ucapan Putra Mahkota!" bentak selir Rong Chen pada putrinya yang bodoh.
"Aaahh! Ibu, lepaskan!" Gadis itu terus memberontak seraya mencengkram tangan ibunya dengan keras. Sepertinya rambut miliknya akan rontok setelah ini. Ibunya sangat kejam! Apa salahnya kalau ia benci dengan dua putri buangan itu?!
Selir Rong Chen melepaskan jambakannya, ia sungguh frustasi. Hampir saja mereka berakhir di pengadilan saat ini.
"Ibu! Mengapa kau sangat penakut seperti ini?! Aku tidak mau tahu, aku akan tetap akan menyingkirkan dua putri buangan itu dari istana ini!" Setelah mengatakan itu, Zhang Bai Nian meninggalkan kediaman anggrek dan kembali ke kediaman nya.
"Aku tidak mengerti dengan anak itu." Selir Rong Chen memijat dahinya yang berdenyut nyeri.
"Mo Niu"
"Hamba, Yang Mulia Selir."
"Siapkan air hangat, aku sangat pusing saat ini," ucap selir Rong Chen memerintahkan pelayan nya untuk menyiapkan bak mandi. Ia rasa berendam sangat bagus untuk menghilangkan denyutan di kepalanya.
"Baik, Yang Mulia."
Setelah ia benar-benar sendirian, wanita tersebut berjalan dan mengambil kotak kecil lalu duduk di atas kasur. Jemari lentiknya membuka setiap kunci kotak itu dengan lihai. Hingga tampaklah sebuah gelang giok berwarna hijau yang cantik, gelang itu mengingatkannya pada sahabatnya dulu. Permaisuri Li Wei.
"Mengapa kau memperlakukan putrimu dengan tidak adil, Li Wei?" Wanita bergumam sambil mengusap-usap gelang giok tersebut.
Memang benar, bahwa ia dan Permaisuri Li Wei dulunya adalah sahabat dekat. Ayah mereka adalah seorang jendral hebat pada masanya, hingga akhirnya mereka menikah di daerah yang berbeda.
Ia datang ke Istana Kekaisaran Zhang sebagai seorang selir pertama, dan
Li Wei datang sebagai permaisuri yang dicintai oleh Kaisar Wang Zong Han. Ia sangat senang karena sahabatnya menikah sebagai seorang permaisuri, dan berharap bahwa sahabatnya akan menjadi permaisuri yang baik, tapi siapa sangka, sahabatnya adalah Ibu yang buruk. Dia mengacuhkan kedua putrinya yang lain dan hanya memanjakan putri bungsu nya dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.
"Yang Mulia, air mandi Anda sudah siap."
Selir Rong Chen yang melihat kedatangan Mo Niu pun segera menutup kotak itu dan menguncinya, kemudian kembali meletakkan nya di meja rias.
"En."
Wanita itu berjalan menuju pemandian di ikuti oleh Mo Niu.
Di tempat lain, tepatnya di taman Kediaman Mawar, Wang Chu Mei yang tampak singgah untuk memetik bunga di sebuah pot kecil mendadak berhenti ketika mendengar sebuah suara yang menyebut namanya.
"Putri Chu Mei!" teriak Zhang Jinxu di pintu kediaman sambil berlari menghampirinya.
Ia berbalik, lalu mengangkat sebelah alisnya heran. Pangeran konyol ini datang lagi? Ia sangat malas melihat wajahnya itu. Membuat matanya sakit, tapi jika dilihat-lihat, wajahnya cukup tampan juga. Aish!
"Tu-unggu, hah...! huh.."
Pemuda tersebut sampai di hadapan Wang Chu Mei dengan napas tersengal-sengal.
"Aku tidak akan lari, tapi kau malah berlari seperti dikejar hantu saja," katanya sambil menghirup aroma bunga indah di tangannya yang entah apa namanya itu.
"Hehehe, kita belum selesai berkenalan," ucap Zhang Jinxu kembali berbicara setelah napasnya sudah normal.
Gadis itu memutar bola matanya malas. Pangeran konyol ini berlari hanya untuk melanjutkan perkenalan? Dasar aneh.
"Lalu?" Ia menatap malas pada orang dihadapan nya.
"Maukah kau berteman denganku?"
Zhang Jinxu sepertinya sudah ngebet ingin berteman dengan Wang Chu Mei. Dia terlihat sangat bersemangat, jelas nampak dari wajahnya yang berseri-seri itu.
"Katakan padaku, apa alasan bagus yang kau miliki untuk membuatku harus menerima permintaan pertemanan mu?" tanyanya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Yaa... Kita bisa bermain bersama!" kata Zhang Jinxu dengan antusias, berharap Wang Chu Mei akan tertarik untuk berteman dengannya.
"Hanya itu?" Ia semakin malas menanggapi omong kosong pangeran kedua ini.
"I-iya," jawab pemuda itu. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan gugup.
"Lupakan."
Wang Chu Mei melenggang pergi dan melanjutkan langkahnya menuju Kediaman Mawar.
"Tunggu," Zhang Jinxu mengejar Wang Chu Mei dan memegang tangannya. Gadis itu berbalik dan menatap Zhang Jinxu tajam.
"Lepaskan," ujarnya dengan nada penuh penekanan yang menyeramkan. Apa-apaan pangeran kedua ini!
"A-ah, maaf."
Zhang Jinxu buru-buru melepaskan tangan Chu Mei. Tatapan putri kedua ini sangat menakutkan.
"Baiklah. Apa maumu?" tanya Wang Chu Mei jengah.
"Berteman!"
"Baiklah," jawabnya langsung mengiyakan permintaan pangeran kedua di hadapannya.
"Apa kau sungguh-sungguh?" tanya Zhang Jinxu masih tidak mempercayai hal yang ia dengar barusan. Ia akan memiliki teman, astaga! Ini menakjubkan.
"En, menyingkirlah. Kita akan bertemu besok pagi di taman istana." Setelah mengatakan itu, ia meninggalkan Zhang Jinxu yang melompat kegirangan
Gadis itu mencibir sambil terus berjalan.
"Dasar aneh! Jika dia bukan adik dari kakak ipar, maka aku sudah menendangnya!" gerutunya sambil berjalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triplets Princesses [END]
Fantasía'_Wang Xia Ai. Istri terkasih dan cinta pertama Zhang Xuen Chi _' Di Kekaisaran Wang. Kaisar Wang beserta Permaisuri Li Wei dikaruniai tiga putri kembar yang diberi nama Wang Xia Ai, Wang Chu Mei, dan Wang Mei Lan. Ketiganya disayangi dan dicintai o...
![Triplets Princesses [END]](https://img.wattpad.com/cover/316340766-64-k467194.jpg)