59. Curahan hati

127 9 0
                                        

Zhang Xuen Chi menghela nafas berat sambil menggelengkan kepalanya pelan. Istrinya itu terkadang ceria, dingin, lembut, dan manja. Berubah-ubah sesuka hatinya, membuatnya harus bisa menyesuaikan situasi juga kondisi.

Pria itu melangkahkan kakinya menuju gazebo di kediaman untuk berpamitan pada istrinya, bahwa ia akan melanjutkan pekerjaan, atau dia akan menangis ketika tidak mengetahui keberadaannya seperti biasa.

"Xia'er," panggil Zhang Xuen Chi lembut.

"Ya! Aku di sini!" sahutnya sambil mengelus bulu lembut kelinci barunya itu.

Zhang Xuen Chi menghampiri sang istri dan duduk di sebelahnya.

"Xia'er, aku memiliki beberapa pekerjaan yang harus ku kerjakan, aku mungkin tidak bisa menemani mu beberapa waktu ke depan. Tetaplah di sini, bermainlah dengan hadiah barumu," ujar pria itu dengan suara halus. Sungguh ia tak berani meninggikan suara di hadapan wanita ini secara sengaja, sampai semua orang menjadi heran melihat tingkah lakunya.

Wanita itu menatap suaminya dengan wajah cemberut. Ia melengkungkan bibirnya sedih.

"Kamu akan pergi, lagi?" Wang Xia Ai terkadang sangat kesal karena jarang menghabiskan waktu bersama Xuen nya. Ia menundukkan kepala sedih.

"Padahal aku sangat ingin bersamamu hari ini," ujarnya lirih.

Pria itu tersenyum lembut. Dia harus menjelaskan dengan baik agar tidak melukai perasaan istrinya. Dia mengangkat dagu wanita cantik itu agar menatapnya.

"Hari ini ada beberapa laporan penting yang harus aku periksa. Ayah tidak akan bisa menangani semuanya sendirian. Jika tidak, aku akan duduk di sini bersamamu sepanjang hari," ucap pria itu.

"Hmm... tapi jangan lama-lama."

"Baiklah, jangan kemana-mana. Tetaplah disini, atau bayi kita akan kelelahan, hmm. Kamu sudah makan?" dia bertanya.

"Sudah," jawabnya sambil mengangguk.

"Baguslah. Hey, nak, Ayah pergi dulu, ya." Dia mengusap perut datar Wang Xia Ai kemudian mencium nya singkat dan pergi dari sana.

Di tengah-tengah perjalanan menuju ruang kerjanya. Dari arah belakang terdengar suara yang memanggilnya. Pria itu berbalik dan menemukan bahwa Zhang Jinxu menghampirinya dengan raut wajah kusut lesu.

"Salam, Yang Mulia Putra Mahkota." Zhang Jinxu memberikan salam hormat.

"En, ada apa Jinxu?" Zhang Xuen Chi bertanya penasaran kala melihat raut wajah adiknya yang suram.

"Kakak, aku ingin bicara padamu."

"Ikut aku," balas Zhang Xuen Chi.

Mereka berdua berjalan bersama menuju ruang kerja Zhang Xuen Chi. Sesampainya di ruang kerja, mereka duduk berhadapan dengan suasana canggung.

Tidak-tidak, kali ini hanya Zhang Jinxu yang merasa canggung. Sedangkan Zhang Xuen Chi menunggu adiknya berbicara, ia rela membuang sedikit waktu untuk bekerja hanya demi menemani bocah payah ini berbicara, sepertinya serius.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" suara Zhang Xuen Chi memecah keheningan antara mereka berdua.

"Begini, menurutmu, apa artinya jika wanita yang kau sukai menolak ketika kau mengajaknya menikah?" Pemuda itu bertanya penasaran dengan harapan bahwa ia akan mendapatkan sedikit pencerahan dari kakaknya.

Alis Zhang Xuen Chi mengkerut ketika mendengar pertanyaan adiknya. Hei! Kapan dia mengajak seorang gadis untuk menikah dengannya?! Dia masih terlalu muda untuk mengurusi urusan pernikahan.

"Mudah saja, itu artinya dia tidak menyukaimu," jawabnya enteng.

Mendengar jawaban kakaknya, membuat ekspresi Zhang Jinxu semakin lesu. Mungkin saja kakaknya benar, bahwa Chu Mei sama sekali tidak menyukainya dan menganggapnya hanya sekedar teman. Entah siapa yang salah di sini, dan hasilnya adalah gadis itu justru membuat jarak di antara mereka.

 Triplets Princesses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang