18. Kegelisahan Permaisuri Li Wei

222 13 0
                                        

Melihat kepergian kedua putrinya. Permaisuri Li Wei merasa ada sesuatu yang hilang, dia tidak pernah merawat dan melihat bagaimana putrinya tumbuh, sebagai seorang Ibu, ia bahkan tidak mengenali sifat kedua anaknya. Apa dirinya adalah Ibu yang buruk?

Setelah mengantar Putra Mahkota dan keedua putrinya pergi, Permaisuri Li Wei berjalan di sepanjang koridor istana bersama beberapa dayang di belakangnya. Wanita itu melihat kesana-kemari  memperhatikan setiap sudut jalan yang dilewatinya.

Nampak sepi. Itulah yang permaisuri Li Wei rasakan. Para pelayan yang melihat Permaisuri Li Wei pun segera menunduk memberi hormat, akan tetapi ia mengacuhkan nya. Pikirannya saat ini dipenuhi ulah-ulah Chu Mei yang selalu membuat keributan yang membuatnya marah.

Wanita itu melewati Kediaman Matahari milik Wang Xia Ai, kemudian berhenti sejenak untuk melihat suasana di Kediaman Matahari yang sederhana tanpa adanya barang-barang mahal dan berharga.

Sungguh ia baru memperhatikan keadaan kediaman ini, keadaannya jauh dari kata mewah yang seharusnya untuk seorang putri kekaisaran besar.

Pelayan yang melihat junjungan mereka berhenti di Kediaman Matahari pun dibuat bingung. Bukankah Permaisuri tidak pernah perduli pada putri sulung? Mengapa setelah putri sulung pergi, permaisuri tiba-tiba memperhatikan Kediaman Matahari?  Sungguh aneh.

"Pelayan Cho, apakah Kediaman Matahari memang seperti ini sejak bertahun-tahun lalu?" tanya Permaisuri Li Wei pada pelayan Cho sembari menyentuh dinding kusam dan lusuh di hadapannya, karena ia sama sekali tidak tahu apapun tentang putrinya.

"Menjawab, Yang Mulia, Kediaman Matahari memang seperti ini sejak bertahun-tahun lalu. Sederhana dan polos, Yang Mulia." Pelayan Cho menjawab apa adanya yang ia tahu sejauh ini.

"Mengapa tidak ada barang-barang mahal dan mewah di kediaman putri sulung?" Sekali lagi permaisuri bertanya, ia masih tidak mengerti mengapa kediaman putrinya sangat berbeda dari kediaman awan milik Mei Lan yang amat mewah. Kalau kebenarannya sama seperti apa yang dikatakan pelayan nya, itu artinya kedua putrinya sangat menderita selama ini.

"Menjawab, Yang Mulia, setahu hamba Kediaman Matahari tidak pernah mendapat kiriman barang-barang mewah dan sejumlah uang bulanan seperti yang Yang Mulia sebutkan, dan tuan putri sulung juga tidak pernah meminta apapun selain beberapa pakaian, buku, dan barang lainnya yang dia perlukan."

Dayang Cho menjelaskan, meskipun ia bukan pelayan dari Kediaman Matahari, tapi ia telah mendengar banyak dari beberapa pelayan yang berlalu-lalang.

"Mengapa seperti itu? Bukankah setiap bulan kaisar selalu mengirim beberapa barang dan sejumlah koin emas di setiap kediaman para putri. Kenapa Kediaman Matahari tidak mendapatkan nya?" tanya Permaisuri Li Wei cukup heran. Siapa yang menyeludupkan barang-barang yang seharusnya diterima putrinya? Kepalanya sangat pusing saat ini. Ia bodoh karena baru menyadarinya.

"Mohon ampun, Yang Mulia, hamba mendengar bahwa setiap barang yang dikirimkan Yang Mulia Kaisar selalu masuk di kediaman putri bungsu, Yang Mulia." Pelayan Cho berkata jujur, sebenarnya ia juga kasihan melihat kehidupan kedua putri yang selalu diacuhkan.

"Bagaimana bisa?! Siapa yang memerintahkan perubahan seperti itu?!" bentak Permaisuri Li Wei. Ia cukup marah mendengar bahwa putrinya tidak mendapatkan hak yang seharusnya dia dapatkan, ia tidak tahu mengapa dirinya seperti ini.

"A-ampun Yang Mulia, Pu-putri Mei Lan yang memerintahkan perubahan i-tu." Pelayan Cho menjawab dengan tubuh gemetar. Takut menyebut nama dari putri kesayangan kaisar.

"Sejak kapan Putri Mei Lan melakukan ini?" tanya Permaisuri yang pusing mendengar putrinya melakukan kejahatan selama ini, ia duduk di kursi di depan kediaman.

"Menjawab, Yang Mulia. Sekitar 5 sampai 7 tahun lalu."

"Hufft, Bengong benar-benar tidak tahu masalah ini. Lalu, apakah Kediaman Bulan juga sama keadaan nya?" Permaisuri Li Wei beralih menanyakan kediaman Wang Chu Mei.

"Iya, Yang Mulia."

"Baiklah, mari lanjutkan perjalanan menuju Kediaman Naga milik kaisar." Wanita itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Kediaman Naga, untuk menanyakan masalah ini. Ntah mengapa ia menjadi perduli pada kedua putrinya yang telah pergi.

Setelah sampai, kasim mengumumkan kedatangan permaisuri.

"YANG MULIA PERMAISURI MEMASUKI KEDIAMAN." Kasim berteriak lantang.

Kaisar Wang yang mendengar kedatangan permaisuri nya pun tetap tenang sambil membaca buku.

"Salam, kaisar."

"Silahkan duduk. Ada apa gerangan dirimu datang, tumben sekali?" Kaisar Wang langsung bertanya, karena ia cukup penasaran.

"Suamiku, apa kau rutin mengirimkan  barang dan uang bulanan ke kediaman putri kita setiap bulan nya?" tanya Permaisuri Li Wei setelah duduk dan berbicara dengan raut wajah serius.

Kaisar Wang cukup terkejut dengan pertanyaan istrinya. Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja ia mengirim barang dan uang di setiap kediaman putrinya secara merata,  meskipun ia tidak terlalu perduli dan kualitasnya cukup berbeda, akan tetapi ia masih memiliki rasa kemanusiaan pada kedua putrinya yang ia acuhkan.

"Tentu saja. Pertanyaan macam apa ini?" ujar Kaisar Wang heran.

"Lalu mengapa Kediaman Matahari terlihat begitu polos dan sederhana? Sama sekali tidak mencerminkan kediaman putri kekaisaran besar. Entah bagaimana pikiran Putra Mahkota saat melihat kediaman itu."

Pria paruh baya itu terkejut mendengarnya. Ia memang beberapa kali melewati Kediaman Matahari, tapi ia tidak terlalu memperhatikan keadaan kediaman itu.

"Tidak mungkin, aku sudah mengirimkan secara merata. Ke mana barang-barang itu?" tanya Kaisar Wang heran dengan laporan istrinya.

"Dari informasi yang ku dengar dari pelayan ku, dia mengatakan bahwa Mei'er yang mengambil semua barang-barang yang seharusnya untuk Kediaman Matahari dan Bulan."

Sebenarnya ia juga masih tidak percaya bahwa putri kesayangannya melakukan hal semacam ini. Apalagi 5 sampai 7 tahun itu bukanlah waktu yang singkat.

"Bagaimana bisa?! Tidak mungkin Mei'er melakukannya, pelayan itu pasti membual!" Kaisar Wang tidak percaya. Di antara dirinya dan istrinya, ia lah yang paling menyayangi Mei Lan seperti sebuah permata di telapak tangan nya. Dia tidak mungkin mencuri yang bukan hak miliknya. Lagipula, jatah uang bulanan Wang Mei Lan jauh lebih besar dibandingkan dengan saudaranya yang lain, dia tidak mungkin merasa kekurangan.

"Aku pun tidak tahu, tapi pelayan ku tidak mungkin berbohong. Aku menjadi prihatin pada kedua putri ku selama ini hidup tanpa kecukupan." Permaisuri Li Wei berucap pelan sambil menunduk, entah mengapa ia menjadi sangat bersalah. Meskipun dia sangat mampu menghidupi ke anak nya tapi ia melakukan sebuah kecerobohan, ia sangat menyesal.

 Triplets Princesses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang