26. Wang Mei Lan mengamuk

195 12 0
                                        

Ini adalah hidup. Di saat kita senang, pasti ada saja yang tak suka. Orang-orang seperti itu biasanya akan mencari cara untuk merusak kebahagiaan seseorang.


Di Istana Kekaisaran Wang, di tengah kegelapan malam tampak seorang gadis yang sedang berjalan di taman kediaman nya. Ia mengenakan hanfu merah mewah yang sentiasa digunakan nya sehingga terlihat sangat kontras di dalam kegelapan. Gadis tersebut bersenandung kecil dengan suara yang terdengar menakutkan. Wang Mei Lan.

Ia berhenti di dekat kolam teratai, memetik setangkai bunga mawar yang tumbuhdi dekat sana, kemudian duduk di batu besar pinggir kolam, dengan tangannya yang mencabuti setiap kelopak mawar sembari bergumam.

"Dia mencintai ku, dia tidak mencintai ku."

Begitulah kalimat yang keluar dari bibirnya berulang-ulang sampai kelopak terakhir.

Wang Mei Lan berhenti bergumam. Raut wajahnya menggelap, alisnya menyatu pertanda dia sedang kesal. Dengan marah dia melempar tangkai mawar yang sudah tidak memiliki kelopak lagi.

"DIA TIDAK BOLEH MENIKAHI XIA AI!! TIDAK BOLEH!!"

Teriakannya menggema di seluruh kediaman sehingga membangunkan para pelayan. Mereka segera bergegas menuju asal suara, mereka sangat tahu pemilik suara itu. Dia adalah Putri Wang Mei Lan, junjungan yang selalu membentak mereka hanya karena sedikit masalah.

Hingga sampai di taman Kediaman Awan, mereka melihat junjungan mereka sedang mengamuk dan berteriak marah entah pada siapa, tapi para pelayan itu sangat tahu bahwa junjungan mereka sedang memaki dan menyumpah serapahi putri sulung yang akan segera menikah dengan Putra Mahkota Kekaisaran Zhang. Pasti junjungan mereka sangat marah dan tidak terima bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.

Mereka hanya berani melihat sang junjungan di kejauhan tanpa ada niat menenangkan nya, karena itu sama saja menyerahkan nyawa mereka untuk di jadikan pelampiasan kemarahan.

Setelah setengah jam mengamuk di taman. Akhirnya Wang Mei Lan kembali tenang, ia berjalan dengan angkuh ke arah kediaman nya dengan penampilan acak-acakan.

Keesokan paginya.

Kereta rombongan Zhang Xuen Chi sampai di gerbang Kekaisaran Zhang, kekaisaran besar kedua setelah Kekaisaran Wang. Rakyat hidup dengan damai dan tenang, serta perekonomian yang cukup.

Mereka sangat lega karena sudah sampai di wilayah kekaisaran di pagi hari, mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah penginapan di dekat sana dan kembali melanjutkan perjalanan menuju istana di siang hari.

Zhang Xuen Chi, Wang Xia Ai dan Wang Chu Mei memesan kamar terpisah tapi bersebelahan, dan alasan Wang Chu Mei mengambil kamar terpisah adalah supaya ia bisa beristirahat dengan tenang di cincin ruang untuk mendapatkan lebih banyak tempat dibanding sekamar dengan kakaknya.

Tok...

Tok....

Tok...

Terdengar ketukan pintu di kamar Wang Xia Ai. Itu adalah Zhang Xuen Chi yang mengetuk pintu untuk mengajak kekasihnya jalan-jalan di sekitar pasar, sekedar menyenangkan hatinya.

"Iya, sebentar," sahutnya dari dalam.

Pintu di buka perlahan oleh Wang Xia Ai. Pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Zhang Xuen Chi yang sudah rapi dengan hanfu berwarna biru berpadu putih dengan tambahan sulaman benang emas. Gadis itu mengerutkan alisnya, ada apa dengan pakaian rapi pria itu?

"Iya Xuen, ada apa?"

"Xia'er maukah kau ikut dengan ku berjalan-jalan di sekitar pasar? Kau pasti bosan kan?" tanya Zhang Xuen Chi.

"Pasar?! Baiklah Xuen, aku akan bersiap dulu," jawabnya tak kalah semangat. Senyumnya seketika mengembang ketika mendengar kata' jalan-jalan' memang benar bahwa ia sedikit bosan di kamar ini. Seperti yang di harapkan oleh pria tampan tersebut, ajakan nya membuat Xia Ai senang. Ia sangat suka melihat senyum bahagia itu.

Beberapa saat kemudian dia keluar dengan menggunakan hanfu hijau muda berpadu putih polos dengan sulaman daun di sekitar lengan hanfu. Rambutnya ia ikat setengah dengan tambahan aksesoris kecil.

'Sangat cantik.'

Itulah kata-kata yang cocok untuk penampilan nya saat ini. Pria itu memegang tangan Wang Xia Ai dan mengajaknya ke luar penginapan.

Zhang Xuen Chi sengaja tidak mengajak Chu Mei karena ia sangat malas mendengar ocehannya yang menyebalkan itu, tapi sebelum mereka keluar ia tetap memberi pesan pada penjaga.

"Prajurit."

"Hamba, Yang Mulia."

"Benwang akan keluar sebentar bersama putri. Jika putri kedua bertanya di mana kami, katakan saja kami sedang keluar untuk sarapan," ujarnya dan mendapatkan anggukan patuh dari prajurit itu.

"Xuen, kenapa tidak mengajak adikku?" Gadis cantik tersebut bersuara.

"Apa kamu ingin dia ikut dan mengganggu kita?" Ia bertanya balik.

"Tidak." Wang Xia Ai menggeleng.

"Bagus."

Mereka berdua berjalan dengan riang dan berjalan kaki menuju pasar. Para rakyat yang melihat Zhang Xuen Chi pun segera memberi hormat. Namun, Zhang Xuen Chi tidak memperdulikan mereka.

Wang Xia Ai yang melihat tingkah pria di hadapannya yang suka mengabaikan orang yang memberi nya hormat langsung mencubit tangannya.

"Aduh!"

Dia mengaduh kesakitan, meskipun cubitan itu sama sekali tidak berasa, tapi ia berpura-pura seolah kesakitan akibat cubitan kecil gadisnya. Yah, sekedar menghargai.

"Mengapa kau begitu jahat Xia'er? Itu sangat menyakitkan," ujar Zhang Xuen Chi mengeluh dramatis.

"Kenapa kamu tidak mempedulikan orang-orang yang memberi mu hormat? Setidaknya tersenyumlah sedikit."

"Xia'er, kita ini adalah bangsawan. Mereka sudah seharusnya menghormati kita dan kita tidak memiliki kewajiban untuk membalas semua itu. Ya, kecuali jika itu adalah kamu yang sangat ramah. Aku tidak mau menunjukkan senyuman ku yang berharga ini."

"Dasar sombong."

Dia mengomeli Zhang Xuen Chi sepanjang jalan yang mereka lewati. pemandangan itu dilihat oleh seluruh rakyat, mereka menebak-nebak siapa gadis yang berani memarahi Putra Mahkota mereka?

"Shuutt..."

Zhang Xuen Chi membekap mulut cerewet Xia Ai yang tak henti-hentinya mengomeli nya. Telinganya sungguh panas, lagipula biarkan saja orang-orang itu memberikan nya hormat tanpa ia harus repot-repot menanggapi nya.

"Xia'er berhentilah mengomel, apa mulutmu tidak lelah berbicara terus?" Akan tetapi Wang Xia Ai sepertinya tersinggung mendengar kalimat tersebut.

"Kalau kamu tidak suka, tidak perlu didengar!" Dia melengkungkan bibirnya cemberut.

"Bukannya tidak suka.."

"Jadi apa? Kalau suka mengapa kamu menyuruhku berhenti. Aku hanya ingin kamu menjadi sedikit ramah pada orang-orang."

 Triplets Princesses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang