Meskipun berada di tengah-tengah situasi yang sempat kacau, tapi Wang Chu Mei sama sekali tidak terpengaruh. Dia tampak memakan beberapa makanan yang masih tersisa, bahkan di piring sepasang kekasih itu.
"Hei, kalian? Aku heran, kalian ini sebenarnya lapar atau tidak?" katanya.
Wang Xia Ai dan Zhang Xuen Chi saling pandang, tak mengerti mengapa gadis itu bertanya begitu secara tiba-tiba.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Zhang Xuen Chi menatapnya aneh.
"Bagaimana tidak bertanya? Lihatlah piring kalian." Kedua orang itu lantas melihat ke meja.
"Sudah?" tanyanya dan dianguki oleh mereka berdua.
"Ya. Apa yang salah?" Kini, Wang Xia Ai bertanya.
"Lihat ini, ini dan itu." Ia menunjuk satu per satu piring dan mangkuk yang masih terdapat beberapa potongan daging dan tampaknya mereka juga sudah tidak berminat untuk makan lagi.
"Kalian masih menyisakan makanan. Ingat, kita tidak boleh membuang-buang makanan," kata gadis tersebut menasihati.
"Tapi Chu Mei, aku sudah kenyang," ucap Wang Xia Ai yang memang benar apa adanya. Dia memang tidak bisa makan terlalu banyak karena mudah merasa kenyang, di samping itu juga tubuhnya terbilang kecil dan tidak gemuk.
"Etika bangsawan di kelas sopan santun mengajarkan bahwa ketika makan di sebuah tempat kita tidak boleh langsung menghabiskan semuanya dan harus menyisakan sedikit untuk menjaga sopan santun, juga dalam artian lain bisa menyinggung pemilik restoran karena berpikir jika mereka telah menyediakan makanan yang terlalu sedikit di setiap menu, sehingga para pelanggan sampai harus menghabiskan sampai bersih piring mereka," ujar Zhang Xuen Chi panjang lebar.
Mendengar penjelasan pria tampan bergelar Putra Mahkota itu sukses membuat Wang Chu Mei dan Wang Xia Ai kagum sekaligus terkejut ketika mengetahui jika ada alasan di balik itu semua.
"Wah, kau memang seorang bangsawan sejati. Aku tidak tahu jika kita harus menyisakan sedikit makanan di atas piring," katanya.
"Tentu saja. Aku telah belajar di beberapa perguruan yang berbeda, dididik dan diajari semua yang bersangkutan tentang dunia."
Pria itu duduk dengan ekspresi datar sambil menatap ke luar jendela di dekat sana, lalu menghembuskan napas berat.
"Kalian tahu? Terkadang besar dan lahir di istana sebagai calon pewaris tahta itu tidak mudah. Kita harus mengorbankan masa anak-anak untuk belajar, di saat anak usia sepuluh tahun masih bermain dan merengek pada orangtua mereka, sementara aku dilarang untuk itu semua. Dipaksa bersikap dewasa sebelum waktunya terasa berat, tapi semuanya sudah berlalu, sekarang orang-orang hanya akan melihat aku sebagai orang yang kuat."
Mencetak rekor. Seorang Zhang Xuen Chi berbicara panjang lebar untuk pertama kalinya seperti ini.
Mendengar cerita nya yang menyedihkan, tangan Wang Xia Ai tergerak untuk mengusap bahunya dengan lembut sambil tersenyum.
"Tidak apa, kamu sangat hebat. Aku bangga padamu, Xuen."
Zhang Xuen Chi juga turut tersenyum tipis membalas senyuman kekasihnya. Baru kali ini ada yang mengucapkan kalimat itu padanya, bahkan ayahnya sendiri tidak pernah memujinya. Mungkin terdengar sederhana, tapi sangat berarti.
"Terima kasih, Xia'er." Dia menggengam tangan mungil Wang Xia Ai dengan lembut.
"Kakak ipar, aku baru ingat. Berapa total semua makanan ini? Ini sangat banyak," kata Wang Chu Mei terkejut, sedangkan di mulutnya masih mengganjal satu sisa tulang bebek yang belum sempat ia buang.
Pria yang diajak bicara hanya mengangkat bahunya tak acuh. Ia sekarang sibuk mengelap ujung bibir Wang Xia Ai lalu beralih membersihkan bibirnya juga.
"Tidak tahu. Tanya saja nanti," ujarnya.
Gadis itu ternganga. Ia langsung membersihkan tangannya dan mulai menghitung jumlah piring dan mangkuk yang terdapat di atas meja.
"Satu, dua, tiga.."
"Dua puluh..? Kenapa banyak sekali?" ucap Wang Chu Mei terkejut.
"Lihatlah, Xia'er. Siapa yang tadi merengek kepalaran, tapi dia sendiri yang bingung." Zhang Xuen Chi menggelengkan kepalanya heran.
"Oh..?"
Wang Chu Mei terpaku kala melihat ternyata mangkuk paling banyak ada di sisi meja yang dirinya tempati.
"Hehe, iya, ya, tapi tentu saja kakak ipar yang akan membayar semua ini, kan? Bukankah kau sangat kaya?" Wang Chu Mei beralih menyanjung pria tampan itu.
"Ya, tentu saja aku sangat kaya. Hanya berkurang beberapa keping koin emas tidak akan terasa di peti penyimpanan ku," katanya sombong.
"Yap! Benar sekali!" Gadis itu bertepuk tangan gembira.
"Pelayan!" Zhang Xuen Chi berteriak memanggil seseorang di dekat sana, seorang pelayan tiba menghampiri mereka.
"Salam, Yang Mulia. Apa yang bisa hamba bantu?"
"Berapa total yang hatus Benwang bayar?"
Pelayan wanita tersebut menatap meja dan menghitung jumlah pesanan.
"Total semuanya sebanyak lima keping emas, Yang Mulia."
Wang Chu Mei dan Wang Xia Ai melongo mendengarnya. Apakah restoran ini sangat elit sampai hanya duduk dan makan di ruang VIP harus membayar lima keping emas?
Zhang Xuen Chi merogoh satunya dan mengeluarkan sekantong berisi koin.
"Ambillah sisanya. Ayo kita pergi."
Pria itu berdiri dari tempat duduknya kemudian meninggalkan meja itu bersama Wang Chu Mei dan Wang Xia Ai.
"Tapi Yang Mulia, ini terlalu banyak." Pelayan itu memegang sekantong koin dengan tangan gemetar, menatap punggung tiga orang bangsawan tersebut.
"Bawa saja dan simpan sisanya untukmu," jawabnya tanpa berbalik.
"Terima kasih, Yang Mulia. Anda sangat dermawan." Dia membungkuk hormat. Bagaimana tidak? Di dalam kantong itu paling tidak berisi seratus keping koin emas.
"Xuen, kamu sangat baik," ucap Wang Xia Ai kagum.
"Selagi aku mampu, tidak masalah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Triplets Princesses [END]
Fantasi'_Wang Xia Ai. Istri terkasih dan cinta pertama Zhang Xuen Chi _' Di Kekaisaran Wang. Kaisar Wang beserta Permaisuri Li Wei dikaruniai tiga putri kembar yang diberi nama Wang Xia Ai, Wang Chu Mei, dan Wang Mei Lan. Ketiganya disayangi dan dicintai o...
![Triplets Princesses [END]](https://img.wattpad.com/cover/316340766-64-k467194.jpg)