69. Anak yang istimewa

122 10 0
                                        

"Lalu, bagaimana dengan Ayah dan Ibu? Siapa yang akan meneruskan tahta?" Sederet pertanyaan Wang Xia Ai lontarkan pada adiknya.

Wang Chu Mei mengangkat bahunya acuh.

"Aku tidak tahu. Ayah dan Ibu memperlakukanku dengan baik, begitupun denganmu, dan mengenai tahta, aku sendiri tidak peduli," jawab gadis itu dengan santai.

Wang Xia Ai menggelengkan kepala pelan. Adiknya sangat keras kepala, dia tidak pernah berubah. Ia memukul pelan kepala adiknya, dan berhasil membuat sang empu menatapnya kesal.

"Anak bodoh! Bagaimana bisa kau tidak peduli? Jika Ayah dan Ibu mengangkatmu menjadi Putri Mahkota, maka terima saja," katanya bergurau dan tertawa pelan.

"Jika itu terjadi, maka aku lebih baik menjadi orang kaya raya daripada menjadi penguasa. Merepotkan!" Dia mencibir malas.

Di tengah-tengah percakapan mereka, tiba-tiba saja seorang kasim masuk dan menyela pembicaraan kakak beradik itu.

"Salam, Yang Mulia Putri Mahkota dan putri kedua." Kasim itu bersujud.

"En, bangunlah," titah Wang Xia Ai lembut.

"Mohon ampun Yang Mulia, Yang Mulia diminta untuk ke aula istana karena acara sebentar lagi akan segera dimulai," ujar sang kasim dengan kepala menunduk hormat.

"Baiklah, ayo."

Mereka berdua berjalan berdampingan dengan kasim dibelakang mereka dan sekumpulan pelayan serta pengawal lainnya.

"YANG MULIA PUTRI MAHKOTA MEMASUKI AULA!!"

Para tamu menjadi riuh ketika melihat Putri Mahkota Kekaisaran Zhang yang sangat cantik seperti seorang dewi. Citra baiknya di masyarakat juga begitu diagungkan.

Tatapan lembut, wajah teduh, dan suara halus Wang Xia Ai memanglah sangat mempesona, ditambah dengan senyum manisnya. Para pangeran dari kekaisaran lainnya terlena dengan paras cantik Putri Mahkota Zhang. Mereka tidak bisa berhenti menatap lapar kepada Wang Xia Ai.

Zhang Xuen Chi menajamkan matanya ketika melihat mata para pangeran yang menatap istrinya lapar. Tangannya terkepal erat di balik kursi singgasana.

"Sialan! Rasanya aku ingin sekali  mencongkel mata mereka!" Ia mengerutu tak suka kala melihat mereka yang menatap istrinya sampai sebegitunya.

Wang Xia Ai berjalan anggun dengan senyuman manis diwajahnya. Kaisar dan Permaisuri Zhang benar-benar sangat bersyukur sebab dianugerahi menantu baik seperti Wang Xia Ai.

Bisik-bisik para tamu yang memuji mulai terdengar ketika Putri Mahkota Kekaisaran Zhang melewati mereka.

Hingga ia sampai di depan singgasana kaisar, permaisuri dan Zhang Xuen Chi.

"Salam, Kaisar, Permaisuri dan Putra Mahkota," ucap wanita itu sedikit menunduk, kemudian duduk pada kursi di sebelah suaminya.

Wang Xia Ai jelas tidak memberikan salam pada selir-selir kaisar dan anak-anak mereka, karena sesuai aturan formal status mereka jauh lebih rendah darinya.

Zhang Xuen Chi menggenggam erat tangan istrinya sambil menatap tajam para pangeran, sebagai peringatan bahwa Wang Xia Ai hanya miliknya.

Para pangeran yang menyadari tatapan dan hawa tidak enak Putra Mahkota Zhang segera mengalihkan tatapan mereka ke sembarang arah.

Wang Xia Ai mengangkat sebelah alisnya heran.

"Ada apa?" bisiknya heran.

"Para Pangeran rendahan itu sangat berani menatapmu!!" balas Zhang Xuen Chi berbisik. Namun, penuh penekanan.

 Triplets Princesses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang