36. Taman Istana

131 7 3
                                        

"Ada apa ini?"

Pemilik suara itu adalah permaisuri Liu Ning. Awalnya permaisuri ia ingin mengunjungi kediaman naga milik Kaisar Zhang, tapi niatnya teralihkan oleh suara anaknya yang sedang menjahili Zhang Xuan Yi, anak pertama selir ketiga.

"Salam, Ibunda." Zhang Xuen Chi menundukkan kepalanya hormat.

"Salam, Yang Mulia Permaisuri." Wang Xia Ai, Wang Chu Mei dan Zhang Xuan Yi pun melakukan hal yang sama.

"En." Permaisuri Liu Ning menerima salam mereka.

"Xuen, jangan menjahili adik-adikmu," ujar Permaisuri Liu Ning memberi nasihat.

Zhang Xuan Yi yang berada di samping Chu Mei pun menyenggol lengan gadis itu dan tertawa kecil. Chu Mei yang mengerti pun ikut tertawa geli.

"Dia yang duluan, Ibu," ucap Zhang Xuen Chi berbalik menunjuk seorang anak laki-laki yang masih terkekeh.

Zhang Xuan Yi yang ditunjuk pun seketika terkejut. Hei! Apa ini? Pria ini menyalahkannya?!

"Aku?" tanya Zhang Xuan Yi dengan raut polos seolah tak berdosa.

"Ya," jawab Zhang Xuen Chi tak acuh.

"Itu tidak benar. Iya kan, kakak perempuan?" Zhang Xuan Yi menatap Xia Ai dan Chu Mei, kemudian mengedipkan matanya memberi isyarat.

"Benar, Yang Mulia," sahut Wang Xia Ai meyakinkan.

"Xia Ai, aku menyuruhmu menyebut ku apa?" tanya Permaisuri Liu Ning.

"A-ah itu, Ibunda," jawabnya gugup. Ia benar-benar lupa dan belum terbiasa.

"Bagus, biasakan itu. Hari pernikahanmu tinggal dua minggu lagi, persiapkan dirimu, nak. Kau akan menjadi Putri Mahkota Kekaisaran Zhang," ucap Permaisuri Liu Ning menggoda.

Pipi Xia Ai merona merah, ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang merah. SedangkanPermaisuri Liu Ning geleng-geleng kepala melihat tingkah malu gadis tersebut.

"Baiklah kalau begitu, Ibu akan pergi menemui ayahmu Xuen. Ingat, jangan menganggu anak-anak," kata Permaisuri Liu Ning kemudian pergi bersama dayang-dayang dan juga pengawal di belakangnya.

"Xia'er, kau harus berhati-hati pada anak nakal ini. Aku akan pergi melanjutkan beberapa tugas yang tertunda," ujar Zhang Xuen Chi.

"Jaga dirimu baik-baik." Pria tampan itu mengecup singkat kening kekasihnya, kemudian beranjak pergi.

"Baiklah kakak perempuan, mari kita pergi ke taman Istana!" kata Zhang Xuan Yi bersemangat.

"En." Jawab Xia Ai dan Chu Mei serempak.

Sekitar sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di taman istana yang luas dan indah. Benar kata pangeran ketujuh ini, taman ini memiliki berbagai jenis bunga cantik.

"Bagaimana? Bagus kan?"

"Ya, sangat bagus," jawab Wang Chu Mei, kagum dengan desain taman ini. Bahkan taman Istana Wang tidak selengkap taman istana ini.

"Kakak perempuan, mari kita duduk di batu besar dekat kolam itu."

"Baiklah."

Mereka bertiga naik di batu besar itu dan duduk di atasnya. Udaranya sangat pas untuk bersantai, dan juga pemandangan di sini sangat mendukung.

Tak berselang lama, suara teriakan familiar terdengar di telinga mereka. Mata mereka terfokus pada sosok pangeran kedua yang berlari sambil berteriak sambil melambaikan tangannya, Wang Chu Mei langsung memutar bola matanya malas. Orang ini selalu merusak pemandangan.

"Kakak mengapa dia ada di sini?" bisik Wang Chu Mei di telinga kakaknya.

"Diamlah, dia itu pangeran kedua, hormati dia." Ia menegur adiknya yang sangat sembarangan ini.

Bibir gadis tersebut diam-diam mencibir. Hormat apanya, bahkan pangeran kedua ini sangat suka mengekorinya.

Zhang Jinxu akhirnya sampai, dia kemudian ikut duduk di batu sambil mengatur napas.

"Hah-huh, hmmpsh.. fyuhh..."

Pemuda itu mengatur napas dengan rileks. Akhirnya ia bisa bernafas lega.

"Apa kabar kalian semua?!" tanya Zhang Jinxu semangat.

"Baik," jawab Wang Xia Ai dan Zhang Xuan Yi bersamaan.

"Buruk," jawab Wang Chu Mei dengan wajah malas.

Orang ini selalu muncul di hadapan nya. Sangat membosankan.

"Siapa yang membuat suasana hatimu buruk?" Pemuda itu bertanya penasaran.

"Seorang manusia aneh."

"Siapa?" Dia bertanya kembali.

"Lupakan," jawab Wang Chu Mei ketus. Dia sangat tidak peka!

"Baiklah, aku ingin memberi tahu kalian sesuatu," ucap Zhang Jinxu mulai membuka topik.

"Apa?" Zhang Xuan Yi bertanya penasaran.

"Aku tidak mengajak mu berbicara," balas Zhang Jinxu. Anak kecil ini sangat suka ikut campur.

"Huh." Anak laki-laki tersebut memasang wajah cemberut, kemudian meletakkan kepalanya di pangkuan Wang Xia Ai.

"Aku ingin memberi tahu..... aku.... sudah.... berteman..... dengan Chu Mei!" Zhang Jinxu berkata heboh.

Wang Chu Mei yang berada di samping Zhang Jinxu seketika membelalakkan matanya terkejut. Apa-apaan dia ini!

"Benarkah?" tanya Wang Xia Ai antusias.

"En." Dia meyakinkan sambil menganggukkan kepalanya.

"Wah! Itu sangat bagus, baik-baik lah kalian berteman, ya," ucapnya sangat senang karena adiknya mempunyai teman seperti Zhang Jinxu.

"Terima kasih kakak ipar," ucap Zhang Jinxu diiringi cengiran khas nya.

"Kakak perempuan, aku mengantuk. Bolehkan aku tidur sebentar di pangkuanmu?" ujar Zhang Xuan Yi dengan mata setengah terbuka.

"Tentu saja. Tidurlah, kakak perempuan akan mengelus mu, hmm," balas Wang Xia Ai lembut, kemudian tangannya tergerak untuk mengelus rambut Zhang Xuan Yi lembut.

Mata anak kecil itu perlahan-lahan tertutup. Sangat nyaman sekali berada di pangkuan kakak perempuannya.

Zhang Jinxu yang melihat tingkah manja Zhang Xuan Yi pun mencibir cemburu.

"Kakak ipar, aku juga ingin dipangku seperti Xuan Yi."

"Heh!! Apa yang kau katakan? Kau itu sudah besar. Apa kau tidak ingat umur!" kata Wang Chu Mei sewot ketika mendengar rengekan menjijikkan pangeran kedua ini.

"Apa salahnya? Kau juga ingin, ya.." Dia balik mengejek Chu Mei yang kesal.

"Tidak! Aku tidak seperti dirimu." Ia mengelak dan memalingkan wajahnya ke arah lain

 Triplets Princesses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang