49. Hukuman

145 12 0
                                        

Setelah menyelesaikan pertarungan yang sangat membosankan dan tidak menarik itu. Wang Chu Mei kembali duduk di meja penuh kue tadi, melanjutkan acara makan nya sambil melihat kondisi mengenaskan gadis licik yang terduduk menyedihkan di atas panggung sambil menahan malu.

Sebenarnya luka yang dialami Zhang Bai Nian tidak separah luka Wang Mei Lan yang diakibatkan kakaknya. Dia hanya mengalami beberapa goresan dan kehabisan energi.

Ya, tentu saja.

Wang Xia Ai melihat ke arah adiknya dengan senyum jahil, Wang Chu Mei yang menangkap pengelihatan kakaknya pun membalasnya dengan tawa kecil. Sambil mengangkat kue di tangannya gembira. Kakaknya itu sangat lembut, aura keibuan nya tak bisa disembunyikan, benar-benar ukuran ideal untuk seorang wanita bangsawan.

Kini, semua tamu sedang berbisik-bisik membicarakan anak selir yang saat ini sedang mengumpat tak henti-henti mengutuk Wang Chu Mei yang telah mempermalukannya.

Para pelayan Zhang Bai Nian segera menghampiri majikan mereka di atas panggung untuk membantu mengobati lukanya.

"Yang Mulia Putri, mari nubi antar ke kediaman untuk berobat," ucap pelayan itu dengan raut cemas sekaligus takut. Tangannya terulur hendak membantu putri nya untuk bangun. Namun, Zhang Bai Nian menepis tangan pelayan itu kasar dan membuat pertunjukan baru yang akan menjadi buah bibir pembicaraan para bangsawan dan rakyat.

"Menyingkir lah pelayan bodoh! Anak buangan itu sudah mempermalukan ku!" bentak Zhang Bai Nian marah, ia menunjuk ke arah Wang Chu Mei yang sedang duduk sambil memakan kue. Sementara yang merasa disebut pun menatap Zhang Bai Nian yang sedang menunjuknya dengan wajah datar tanpa minat. Ia menatap malas dan tanpa minat pada tingkah anak selir itu. Biarkan saja, dia sedang mempermalukan dirinya sendiri.

Kaisar Wang yang mendengar bahwa ada orang yang dengan lancangnya menghina putrinya pun menggebrak meja dengan keras.

BRAK!!

Kaisar dan Permaisuri Zhang yang melihat api kemarahan di mata Kaisar Wang pun berkeringat dingin. Kaisar Zhang menyumpah serapahi putri dari selirnya yang sudah lancang itu. Ia berjanji, besok akan menjatuhi hukuman pengasingan dan cambuk baginya. Dia benar-benar sudah menjatuhkan martabatnya.

Para tamu menahan napas mereka tegang. Kaisar Wang sangat marah saat ini, entah apa yang akan terjadi pada nasib putri selir angkuh itu.

"LANCANG!! BERANINYA KAU MENGHINA PUTRI ZEN!!"

Suara keras penuh kemarahan Kaisar Wang menggema di telinga semua orang. Ia benar-benar tidak terima bahwa putrinya disebut anak buangan. Ia akan memperbaiki kesalahannya dan akan menyayangi putrinya sebagaimana mestinya mulai saat ini.

Suasana riuh terdengar dari arah jajaran kursi tamu undangan. Berbisik satu sama lain membicarakan kejadian tak terduga di pernikahan Putra Mahkota, membuat sang tuan rumah menjadi sangat malu dan menyebabkan ketakutan di hati Zhang Bai Nian. Ia tak menyangka bahwa Kaisar Wang akan membela putrinya yang diacuhkan itu.

Lah, baru sadar si pak tua ini:_

Berbeda dengan reaksi para tamu dan Kaisar. Wang Xia Ai malah asik berbisik-bisik ria dengan Zhang Xuen Chi tanpa menghiraukan ayahnya yang mengamuk.

Zhang Xuen Chi yang masih bingung dengan keadaan pun bertanya pada istrinya,

"Xia'er, apa ini akan baik-baik saja?" tanya Zgang Xuen Chi khawatir bahwa kekaisaran nya akan dalam masalah karena ulah anak selir itu.

"Tenang saja, Xuen, Ayah tidak akan menghancurkan kekaisaran ini. Dia hanya membela anaknya yang sudah seharusnya dia lakukan sejak dulu," jawabnya santai sambil menatap ayahnya yang berdiri dengan kemarahan, memaki dan menuntut Kaisar Zhang di hadapan para tamu atas prilaku tak mengenakkan ini.

Zhang Xuen Chi menghela nafas lega ketika mendengar jawaban istrinya, lalu lanjut menonton pertunjukan seru di hadapannya.

"Yang Mulai Kaisar Wang, tenang dulu. Zen akan menghukum putri ketiga dengan hukuman berat, besok." Kaisar Zang membujuk Kaisar Wang karena takut bahwa ini akan semakin jauh dan terjadi hal yang seharusnya tidak terjadi.

Kaisar Wang yang mendengar hal itu langsung menatap Kaisar Zang yang sudah berkeringat dingin, tapi memaksa untuk tetap tersenyum meskipun jantungnya sedang tidak baik-baik saja.

"Mengapa besok? Zen ingin putri ketiga dihukum seratus hukuman cambuk dan dikurung Sekarang juga!!" titah Kaisar Wang mutlak tak terbantahkan.

"Dia telah berani menghina putri Zen! Di mana tanggung jawab Anda sebagai pemimpin?! Ini adalah penghinaan terbesar yang pernah Zen terima!!"

Kaisar Zhang yang mendengar perintah itu pun seketika menegang. Ia melirik kearah selir Rong Chen yang terduduk di lantai sambil memohon pengampunan atas putrinya.

"Ampuni putri ku, Yang Mulia, hamba akan mendidiknya dengan benar setelah ini." tangis pilu selir Rong Chen yang selalu menjaga keagungan nya, kini sudah hancur. Yang ada saat ini hanyalah seorang Ibu yang memohon untuk keselamatan putrinya.

Kaisar Zhang tidak bisa menolak perintah kaisar berkuasa di hadapannya ini. Ia juga sudah lama menaruh amarah akibat dari mulut ular Zhang Bai Nian, sekarang adalah kesempatan besar.

"Beiklah. Zen menjatuhi hukuman seratus cambukan dan hukum kurung untuk putri ketiga yang lancang menghina putri kedua!!"

Setelah perintah Kaisar Zhang jatuh, para prajurit menaiki panggung dan mencambuk gadis itu tanpa ampun. Zhang Bai Nian yang di cambuk pun menangis meraung-raung kesakitan sambil menatap ibunya meminta pertolongan. Namun, selir Rong Chen hanya bisa menggelengkan kepalanya lesu dan pasrah.

Wang Chu Mei yang melihat pertunjukan hebat di hadapannya pun merasa kagum dengan ayahnya. Ternyata pak tua itu sangat menakutkan di mata semua orang. Eh, tapi ada sesuatu yang aneh. Kenapa pak tua itu membelanya? Apakah karena melihat kekuatan nya yang hebat ini?

Zhang Bai Nian yang baru mendapatkan dua puluh cambukan sudah pingsan karena kesakitan dan kehabisan energi. Pengawal segera membawanya menuju tabib untuk di obati lalu dihukum kurung.

Wang Xia Ai yang sedang menikmati pertunjukan pun berdecak kesal.

"Cih! Lemah. Baru dua puluh cambukan saja sudah pingsan," cibirnya mengomentari. Ia benci dengan orang yang selalu merasa paling kuat, tapi sebenarnya sedang menutupi kelemahan.

Zhang Xuen Chi yang mendengar ucapan istrinya itu pun tersenyum simpul. Istrinya sudah berubah sekarang, tidak ada Xia Ai yang lembut, rapuh, dan lemah. Yang ada hanyalah Xia Ai yang kuat, bermulut sadis, dan tegas.

Wang Chu Mei pun sama halnya dengan kakaknya. Ia berdecak sebal karena anak selir itu belum mendapatkan hukuman yang berat. Dasar lemah!

Permaisuri Li Wei menatap sahabatnya yang menangis tak berdaya. Ia ingin sekali menolong sahabatnya itu, tapi keadaan saat ini tidak mendukung untuk mencegah hukuman.

Kaisar Wang menoleh pada putrinya yang sedang asik makan kue yang terlihat sangat menggemaskan. Ia amat menyesal karena telah mengacuhkannya dulu, dan kenapa putrinya itu menutupi kemampuan nya sejak lama?

Wang Chu Mei sadar, ia melirik pada ayahnya yang menatapnya sedih. Ia sebenarnya sangat ingin disayangi oleh ayah dan ibunya, tapi harapan itu sudah terkubur dan hanya menyisakan kebencian. Dirinya sama sekali tidak perduli atas semua pembelaan, kasih sayang, dan perhatian yang diberikan ayah maupun ibunya saat ini, karena itu sudah terlambat. Ia sudah besar sekarang, ia dulu hanya bermain dan bercanda dengan kakaknya dari kecil hingga dewasa, tak mudah untuk membuat tempat baru untuk orang lain.

 Triplets Princesses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang