Sesampainya di Kediaman Awan milik Wang Mei Lan, ia langsung duduk di kursi depan kediaman sambil mengangkat satu kaki dan mulut yang tengah mengunyah buah persik yang ia ambil dari Ruang Angkasa.
Para pelayan dan pengawal mulai berdatangan, mereka memindahkan barang-barang milik Wang Mei Lan dan menggantinya dengan barang milik Wang Chu Mei tanpa sepengetahuan sang pemilik kediaman yang entah ke mana. Baguslah, jadi ia tidak perlu repot-repot bertengkar dengannya.
"Bibi Nao, bisakah vas bunga itu dibiarkan di sana? Aku sangat menyukainya. Jangan membawanya pindah, biarkan saja di sini," pintanya pada salah satu pelayan paruh baya yang ia panggil bibi, karena dia orang yang sangat baik.
Pelayan Nao yang dipanggil bibi dan bukan pelayan pun merasa tidak enak hati. Ia tidak pantas dipanggil bibi oleh seorang Putri Kekaisaran Wang.
"Mohon ampun, Yang Mulia Putri, hamba tidak pantas dipanggil dengan sebutan bibi oleh putri." Pelayan Nao bersujud dihadapan Wang Chu Mei. Ia yang melihat pelayan Nao bersujud pun terlonjak kaget dan segera bangun.
"Sudahlah bibi Nao, kau adalah pelayan yang baik di sini, jadi aku menyukaimu dan sudah menganggapmu bibiku," ucapnya sambil membantu wanita tersebut berdiri.
Pelayan Nao yang diperlakukan baik merasa sangat terharu karena Putri Wang Chu Mei menganggapnya orang yang baik.
"Terima kasih, Yang Mulia Putri." Pelayan Nao membungkukkan badan berterima kasih.
"Jangan panggil aku seperti itu bibi Nao, aku tidak menyukainya. Maukah bibi bekerja di kediamanku? Itu pasti sangat menyenangkan. Panggil aku Chu Mei saja." Senyumannya mengembang sempurna dan berharap bibi Nao mau menerima tawarannya.
Pelayan Nao tertegun sejenak, kemudian sebuah senyuman bahagia terbit di bibirnya. Tentu saja ia bersedia, itu suatu kehormatan baginya.
"Suatu kehormatan bagi hamba."
"Bibi..?" Wang Chu Mei menatap pelayan Nao dengan wajah cemberut.
"Hahaha, baiklah." Mereka tertawa bersama tanpa batasan apapun.
Kaisar dan Permaisuri Wang yang melihat interaksi putrinya di kejauhan menjadi sangat bahagia. Putri mereka sangat baik terhadap semua orang, tanpa membedakan status yang jauh berbeda diantara mereka.
"Lihatlah putri kita, Wei'er. Aku sangat menyesal karena mengabaikannya dulu." Kaisar Wang menatap istrinya penuh penyesalan.
"Ya, kau benar suamiku. Kita sudah sangat bersalah padanya, kita harus menyayangi dan memperlakukannya dengan baik untuk menebus kesalahan kita dulu," balas Permaisuri Li Wei, matanya masih menatap putrinya penuh kasih.
"En, kau benar Wei'er." Kemudian Kaisar dan Permaisuri Wang menghampiri Wang Chu Mei yang masih duduk santai sambil mengunyah buah persik.
"Apa kau menyukai buah persik, putriku?" Suara Kaisar Wang mengalihkan perhatian gadis itu yang tengah memantau para pelayan.
"Salam, Ayah, Ibu." Ia membungkuk hormat. Bagaimanapun ia harus menjaga reputasi baiknya di hadapan ibu dan ayahnya.
"En."
"Ah, mengenai itu. Ya, aku sangat menyukainya, Ayah. Buah ini sangat manis. Mau?" Ia menyodorkan buah persik yang sudah digigit kepada Kaisar Wang dengan tatapan polos.
Kaisar dan Permaisuri Wang tertawa melihat tingkah polos putri mereka. Dia bahkan menyerahkan buah persik yang sudah dia gigit, sangat lucu.
"Hahaha, tidak Chu'er. Ayah tidak terlalu menyukainya." Kaisar Wang menolak halus disertai tawa khasnya.
"Oh, baguslah."
Wang Chu Mei kembali duduk dengan satu kaki terangkat di meja, lalu lanjut mengunyah buahnya tanpa dosa. Untung saja ayahnya tidak mau, padahal ia menawarkan hanya sebagai formalitas saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triplets Princesses [END]
Fantasy'_Wang Xia Ai. Istri terkasih dan cinta pertama Zhang Xuen Chi _' Di Kekaisaran Wang. Kaisar Wang beserta Permaisuri Li Wei dikaruniai tiga putri kembar yang diberi nama Wang Xia Ai, Wang Chu Mei, dan Wang Mei Lan. Ketiganya disayangi dan dicintai o...
![Triplets Princesses [END]](https://img.wattpad.com/cover/316340766-64-k467194.jpg)