tiga delapan

1.2K 152 15
                                        

Seorang gadis duduk bersandar di sandaran ranjang sambil menekuk lutut nya,mata keabuan itu menatap lurus ke ujung jari kaki nya tatapan kosong dan kecewa terlihat nyata di sana,ini sudah lewat beberapa hari dari kejadian dia meminta maaf pada Kevin,dan selama itu mereka terus cuek pada nya perihal masa lalu dia yang kelam.

Sedang kan Lio terus berada di samping nya tak pernah menjauh dari diri nya,meski pemuda itu mendapat kan tatapan tidak suka dari teman nya dia malah tidak peduli,Lio selalu menghibur nya bagi Lio Siska pasti punya alasan yang kuat sampai bisa melakukan pembunuhan pada ayah nya...

Di vila Siska tidak terdengar akitivitas dari penghuni nya,pembantu di vila itu sudah pulang dari jam 6 sore sedang kan Ferdi di suruh nya tinggal di mansion meski pemuda itu merengek minta pulang bersama namun ia tolak,ia tidak mau adik nya mengetahui permasalahan nya di sekolah apa lagi melihat dia murung.

Sekarang dia benar-benar sendirian seperti dulu,berteman sepi dan berdamai dengan kedinginan hanya gelap menemani nya,sekilas ia merindukan sosok ibu yang memeluk nya di dalam gelap,dia ingin menyerah tapi semua sudah terlanjur apa lagi marga arthur adalah tanggung jawab nya....

Setetes kristal bening lolos ke pipi putih nya,perkataan neha selalu ampuh menusuk hati serta jantung nya,sampai sekarang tubuh nya bergetar karna terguncang...

"Hiks... Hiks... Ibu"

Flassback

Siska Merapi kan rambut serta seragam nya di depan kaca toilet,sekali-kali menyisir rambut halus nya memakai jari,, setelah semua selesai ia memutus kan kembali ke kelas karna jika menuju kantin ia takut mendapat kan tatapan dari neha dan yang lain.

Ngomong-ngomong tentang Iqbal pemuda itu terus membawa kan nya bekal dengan alasan dari mama,padahal Siska tau itu inisiatif nya sendiri karna mama Erina bilang akhir-akhir ini ia terus belajar masak,jauh di relung hati Siska ada kehangatan disana atas usaha Iqbal meski pemuda itu jarang bersama di sekolah karna sibuk menyiap kan festival.

Bicara tentang festival raut wajah Siska berubah menjadi suram karna mengingat perkataan Kevin,apa mungkin dia akan melakukan pengakuan itu.?? Tidak... Dia tidak bisa...
Siska menggeleng pelan sambil berjalan di lorong yang cukup ramai karna sebagian murid ada di kantin,sepanjang koridor masih ada yang menyapah nya sekedar basa basi...
Saat ini Siska sudah naik kelas 12 IPA 1 unggulan,murid teladan yang selalu mendapat kan rangking umum itu yang membuat nya di segani oleh murid disana...

"Eh kalian tau tidak.... Tadi aku lihat neha di tampar oleh pria tua loh"

Siska menghenti kan langkah nya saat mendengar perkataan gadis itu,ia cukup penasaran kelanjutan nya dan juga khawatir.

"Hah.?? Serius kok bisa.??" Tanya suara lain

"Memang nya kapan kamu lihat nya.??" Sahut gadis satu nya.

"Di depan gerbang sekolah tadi... Aku tidak tau siapa tapi kalo di lihat kek nya tuh orang ayah nya deh.!!"

"Kasian ya... Kalo aku punya ayah seperti itu auto balas lah"

"Emang brani kalo itu terjadi sama kamu"

"Ya tidak lah"

Siska beranjak dari sana mencari neha ia yakin gadis itu sedang sedih karna mendapat tamparan itu,jantung nya berdebar karena mengkhawatir kan nehA ia yakin wajah gadis itu pasti memar...

Ia ngos-ngosan karna berlari ia menunduk mengatur nafas nya dengan mata mengedar mencari seseorang,tidak jauh dari sana tepat nya di taman belakang terlihat seorang gadis duduk dengan kepala menunduk,dengan cepat ia menghampiri nya dengan nafas masih tersengal.

Sister Girl (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang