Ardan Mahendra
Menceritakan kisah seorang remaja penikmat luka yang selalu menemani harinya.
Apakah Ardan bisa mendapatkan kebahagian atau sebaliknya?
°Start : 10 September'22
°Finish : 10 Juli'23
#Cover by Pinterest!
[ Isi masih acakadut + belum r...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pukul setengah sembilan malam Ardan baru sampai di rumahnya. Dia memarkirkan motornya di sebelah motor Argan.
Ardan berdiri di depan pintu, dia sengaja tak langsung masuk. Dia takut kalau Ayahnya marah karena dirinya pulang malam. Meskipun bagi remaja lainnya, pukul sembilan itu masih tidak terlalu malam.
Terdengar suara canda tawa dari dalam rumah. Sudah bisa ditebak itu pasti keluarganya yang sedang tertawa tanpa dirinya.
Ardan menguatkan hatinya dan memasuki rumah.
"Assalamualaikum," ucap Ardan memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," balas Argan. Sudah pasti hanya Argan yang akan menjawab salam darinya.
Ardan menghampiri ketiga orang berbeda gender tersebut. Dia hendak menyalami kedua orang tuanya. Namun, baru mengulurkan tangan tiba-tiba,
Plak
Suara tamparan terdengar.
Kepala Ardan menoleh ke samping saat tamparan mendarat dengan mulus di pipi. Dia merasakan panas dan kebas pada pipinya.
Baru pulang, harapan yang dirinya inginkan langsung pupus. Dia berharap orang tuanya akan menyambutnya dengan senyuman mengembang diwajah. Namun, itu tidak akan pernah terjadi. Selalu saja hanya tatapan sinis bahkan tamparan yang dirinya dapatkan.
"HABIS DARI MANA KAMU? BUKANYA BELAJAR MALAH KELAYAPAN GAK JELAS DI LUAR SANA. LIHAT KAKAK MU ... DIA PULANG SEKOLAH LANGSUNG KE RUMAH GAK KAYAK KAMU YANG LANGSUNG KELAYAPAN," ucap Arga setelah menampar pipi sang anak.