30°

2.6K 145 55
                                        

"Lo kemana lagi?" tanya Argan saat tiba di depan Adeknya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lo kemana lagi?" tanya Argan saat tiba di depan Adeknya.

"Gu mau pulang, ada sesuatu yang penting," jawab Ardan.

"Nggak boleh, Lo boleh pulang besok," cegah Argan.

Ardan menggeleng, dia lalu tidak sengaja meringis dan didengar oleh Argan.

"Lo kenapa? Lo sakit?" tanya Argan. Dia sedikit khawatir saat melihat wajah Adeknya yang menahan sakit itu.

"Gue nggak papa, Kak. Gue lagi ada urusan penting, gue harus pulang ke sana," pintanya lagi.

"Nggak, sekali nggak ya tetep nggak. Lo nggak boleh pulang dulu, Lo lagi sakit. Nanti terjadi sesuatu sama lo di jalan, gue nggak mau itu, Ardan." Argan maksa Ardan untuk tidak pergi sekarang.

"Ayo ke kamar. Gue mau bilang Bunda kalau Lo lagi sakit, badan lo aja udah demam sekarang," ucap Argan saat memegang tangan Adeknya.

"Gue nggak bisa." Ardan menyentak tangan Kakaknya, dan hendak menuruni tangga.

Baru tiga anak tangga, tangannya kembali lagi di cegah oleh Argan.
"Gue bilang nggak ya nggak! Lo ngerti gak sih!" Argan membentak Adeknya karena terlalu susah untuk diberitahu.

"Jangan maksa, gue tetep akan pulang!"

"Udah ayo." Argan menarik tangan Adeknya dengan paksa. Dia tidak peduli Ardan yang berontak meminta untuk di lepaskan.

"Lepas." Ardan terus berusaha melepaskan genggaman Kakaknya itu.
Dia sudah tidak tahan dengan denyutan di kepalanya. Jika dia tidak segera meminum obatnya, maka ini akan terus berlanjut sampai besok pagi.

"Diem!" sentak Argan.

Hingga di ujung tangga, Ardan menyentak tangan Kakaknya dengan kuat. Posisi dimana dia berada di belakang Kakaknya membuatnya sedikit tidak seimbang.

Hingga dia terjatuh dari tangga.

"ARGAN!" teriak Sinta dari lantai bawah.

Argan yang terjatuh. Dia tadi menahan tubuh sang adek agar tidak terjatuh. Namun, sialnya justru dia yang terjatuh ke bawah.

Sinta menghampiri tubuh putranya dengan darah mengalir dari kepalanya. Dia menangis meraung melihat kondisi itu.

"Argan, sayang bangun, Nak. Jangan bikin bunda sedih. Bunda akan telpon Ayah kamu, kita ke rumah sakit sekarang."

Sinta lalu menatap ke atas dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana bisa dia mendorong Kakaknya hingga jatuh dari tangga.

"KAMU JAHAT, ARDAN!"

"PAK, DION, PAK," teriaknya memanggil satpam yang berjaga di depan.

Pad Dion segera bergegas memasuki rumah mendengar teriakan nyonya-nya. Dia terkejut mendapati seseorang yang tergeletak dengan darah di kepalanya.

ARDAN MAHENDRACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang