Ardan Mahendra
Menceritakan kisah seorang remaja penikmat luka yang selalu menemani harinya.
Apakah Ardan bisa mendapatkan kebahagian atau sebaliknya?
°Start : 10 September'22
°Finish : 10 Juli'23
#Cover by Pinterest!
[ Isi masih acakadut + belum r...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo kenapa?" tanya Annisa.
Ardan menoleh ke arah Annisa. Dia sangat ingin mengatakan kepada gadis itu agar tidak kembali dalam waktu dekat ini. Tapi, apa hak nya mengatakan itu?
"Gue gak papa."
Annisa mengangguk. Dia bingung akan sikap Ardan saat ini. Tadi dia terlihat biasa-biasa, lalu sekarang kenapa dia terlihat murung. Udahlah ... Mungkin memang dia lagi ada masalah saat ini, pikirnya.
Setelah itu, mereka tidak lagi ada percakapan. Mereka lalu melanjutkan weekend mereka ke banyak tempat, hingga mereka menghabiskan waktu sampai pukul setengah enam sore.
°°°°°°
Selesai itu semua, Ardan tidak mampir kemana-mana lagi. Dia langsung pulang ke rumah karena tadi saat di jalan, dirinya tiba-tiba merasakan pusing di kepalanya.
Ardan sampai di rumah. Dia memarkir motornya di garasi. Terlihat mobil Bara yang sudah terparkir di sini, yang menandakan kalau dia sudah pulang. Dia kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah. Di dalam, terlihat Ayu dan juga Bara yang sedang bermesraan sambil menonton tv.
"Assalamualaikum." Ardan segera menghampiri keduanya dan menyalami tangan mereka.
"Wa'alaikumussalam," jawab Bara dan Ayu.
Segera Ardan mengambil tempat duduk di samping Bara. Ayu yang melihat itu langsung mengode kepada suaminya untuk memulai percakapan dulu dan langsung dimengerti olehnya.
Ardan yang sedang enak-enakan menyandarkan tubuhnya di sofa karena pusing pun kembali menegakkan tubuhnya. Apa katanya tadi? Pacaran?. Padahal dirinya dengan Annisa itu hanyalah sebatas teman tidak lebih. Mereka tidak pacaran untuk saat ini, entah kalau nanti, eh.
"Aku sama dia hanya teman, Mah," jawab Ardan.
"Pacaran juga gak papa, yang penting kalian tidak mengecewakan kami, orang tua kalian," ucap Ayu.
"Apaan sih, Mah. Gak kok." Wajah Ardan memerah. Dia selalu merasa malu saat orang-orang terdekatnya menggoda dirinya tentang masalah seorang gadis, meskipun mereka orang tuanya sendiri.
Bara yang melihat itu pun tertawa kecil. Melihat wajah Ardan yang memerah sangat menggemaskan baginya. Dia dan ayu sudah menganggap Ardan seperti putra kandung mereka sendiri. Dia tidak pernah terpikirkan kalau akan ada sosok putra di dalam keluarganya. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tuhan memberikan kebahagiaan keluarga mereka dengan datangnya Ardan di dalamnya.
"Ekhm, Ardan Papa ingin berbicara sesuatu sama kamu." Bara menatap serius Ardan. Ayu yang melihat suaminya akan memulai percakapan itu pun langsung menampilkan raut serius.
Ardan menyergit bingung. Apa ada sesuatu yang serius? Sungguh kalau melihat muka serius Bara, mengingatkan dirinya pada sosok Arga, Ayahnya.