Ardan Mahendra
Menceritakan kisah seorang remaja penikmat luka yang selalu menemani harinya.
Apakah Ardan bisa mendapatkan kebahagian atau sebaliknya?
°Start : 10 September'22
°Finish : 10 Juli'23
#Cover by Pinterest!
[ Isi masih acakadut + belum r...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Maaf, Bun, Kak. Aku gak bisa pulang ke rumah itu lagi. Aku bukan gak mau, tapi aku gak mau bikin Mama Ayu sama Papa Bara sedih kalau aku pergi," jawab Ardan dengan sedih.
Sinta dan Argan sedih mendengar itu. Padahal mereka hanya ingin Ardan pulang ke rumah. Apa itu susah?
"Kamu gak mau pulang ke rumah lagi?" tanya Sinta dengan lirih.
"Iya, kenapa lo gak mau pulang, Dan. Bunda sangat ingin lo pulang ke rumah, itu aja," sahut Argan.
Ardan menghela nafas berat. Dia sungguh tak bisa lagi pulang ke rumah itu. Kalaupun bisa, mungkin dia hanya bisa tinggal dua sampai tiga hari saja, tidak lebih dari itu.
"Maaf, Bun gak bisa ... Mungkin, Ardan hanya bisa tinggal di sana kembali pada saat libur saja. Bunda juga pasti tau, bagaimana reaksi Ayah saat Ardan kembali lagi ke rumah itu," jelas Ardan.
Sinta dan Argan diam. Mereka merenungkan akan ucapan Ardan tadi. Sudah pasti Arga akan marah dan memaki-maki Ardan lagi nanti.
Sinta tidak bisa berkata apa-apa sekarang. Dia sangat ingin Putranya kembali. Namun, di sisi lain ada Suaminya yang tidak suka dengan Putranya itu.
"Yaudah gapapa, kamu bisa pulang sewaktu-waktu saja, yang penting kamu harus janji sama Bunda ... Kamu harus bisa berusaha untuk pulang ke rumah," ucap Sinta.
Argan dan Ardan mengangguk menyetujuinya. Itu bisa menjadi keputusan yang bisa dilakukan. Daripada tinggal kembali selamanya, mending memutuskan tinggal sementara saja.
"Iya, Bun Ardan usahakan," jawabnya sambil tersenyum manis.
Mereka lalu berpelukan bersama. Mereka ingin hal ini bisa terus dilakukan setiap hari. Di hari Minggu yang sejuk, sangat pas dengan kondisi mereka saat ini.
°°°°°°
Di ruangan gelap, terdapat seorang pria paruh baya yang sedang sibuk mengotak-atik laptopnya. Pria itu mengunakan jari kekarnya untuk menari-nari di atas keyboard. Rumus-rumus sulit terlihat di layar laptop yang membuat siapa saja akan pusing jika melihatnya.
Meskipun dengan pencahayaan yang minim, Sosok pria berkumis tipis itu tidak merasa terganggu sedikitpun. Ruangan gelap memang sudah menjadi tempat favoritnya untuk melakukan misi-misi khusus yang tidak boleh seorangpun memasukinya.
Setelah beberapa menit berkutat dengan laptop itu. Senyuman smirk terlihat di wajahnya. Senyuman yang tidak pernah dia lihat kan kepada semua orang terdekatnya, karena dia selalu menggunakan senyuman manis setiap harinya.
"Datamu bahkan terlalu mudah untuk aku retas," ucapnya dengan tegas.
Setelah itu dia mengambil handphone yang berada di sampingnya. Dia lalu menelpon nomor yang terdapat pada data seseorang yang dia retas tadi.
Panggilan pertama tidak dijawab, hingga panggilan ke-3 telepon itu baru dijawab.