Ardan Mahendra
Menceritakan kisah seorang remaja penikmat luka yang selalu menemani harinya.
Apakah Ardan bisa mendapatkan kebahagian atau sebaliknya?
°Start : 10 September'22
°Finish : 10 Juli'23
#Cover by Pinterest!
[ Isi masih acakadut + belum r...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sore ini setalah hujan tadi rasanya sangat sejuk. Ardan menatap taman lewat bakon kamarnya. Taman yang di mana terdapat anak kecil yang sedang bermain air. Melihat betapa bahagianya anak itu, membuat Ardan merasa hangat.
Dirinya ingat akan dulu saat masih kecil. Di mana dirinya dan Kakaknya yang selalu bermain air setelah hujan. Meskipun setelah itu mereka pasti akan dimarahi oleh Arga dan Sinta.
"Bosen juga rasanya," monolognya.
Ardan berencana ingin pergi ke luar untuk jalan-jalan dan pergi ke Alfamart membeli makanan ringan untuk stok di kamarnya.
Dia lalu bangkit dan menuju ke luar. Saat di tangga akhir, dirinya melihat adanya Ayu yang sedang memasak di dapur. Ardan lalu menghampiri Mamanya itu. Dia ingin berpamitan dulu agar nanti Mamanya tidak mencarinya.
"Mah, Aku pergi keluar dulu sebentar. Cuma mau jalan-jalan sama beli jajan doang kok."
Ayu menoleh ke arah Ardan. Dirinya mengangguk menyetujui dengan senyuma mengambang di wajahnya.
Biarkan saja pikirnya. Lagian kalau Ardan selalu berada di rumah, dia pasti akan bosan, bukan?
"Iya gapapa. Yang penting jangan pulang sebelum makan malam," jawabnya.
Ardan mengangguk. Dia kemudian mengambil tangan Ayu untuk disalami. Setelah itu dia langsung pergi ke luar.
Ardan memutuskan tidak mengunakan motor. Dirinya ingin menikmati udara sejuk setelah hujan tadi. Dirinya juga ingin melihat sekeliling tempat yang dulu pernah dia tinggalkan. Suasana masih sama. Banyak orang berlalu-lalang yang ada di kompleks ini.
Tak jauh dari itu, dia melihat Alfamart. Dia lalu masuk untuk membeli makanan yang dia butuhkan. Setelah membeli semua yang dia butuhkan untuk stok di kamar. Dia langsung pergi menuju taman yang berada di dekat-dekat komplek ini.
Sampai di taman, matanya melihat ke keliling taman. Dirinya menangkap bangku kosong yang berada tepat di bawah pohon. Segera dia duduk di sana.
Saat sedang enak-enak melihat pemandangan taman di hadapannya. Tiba-tiba seseorang memanggil namanya dan menepuk pundaknya dari belakang.
"Ardan." ucap orang itu.
Ardan menoleh ke belakang. Jangtungnya berdetak dengan cekat. Keringat dingin langsung membasahi pelipisnya. Dia takut, terkejut, dan binggung menjadi satu.
Dua sosok yang berdiri di depannya saat ini adalah orang yang belum sanggup dia temui. Dua orang berbeda gender, dua orang yang sangat berarti bagi hidupnya.
Baru saja berdiri, tubuhnya langsung ditubruk pelukan hangat yang sangat dia rindukan. Pelukan yang sudah lama tidak dia dapatkan. Bagaimana ini? Apakah dia harus membalas pelukan itu? Dia tidak yakin untuk melakukannya.
Ardan hanya diam bergeming. Sungguh, dia masih syok saat ini. Merasakan pundaknya yang basah, dia menolehkan kepalanya menghadap ke arah seseorang yang memeluknya. Orang itu menangis, tubuhnya bergetar karena tangisan yang tak bersuara itu. Bagai sadarnya hubungan di antara keduanya, Ardan juga merasakan sesak di dadanya. Tanpa dia sadar, dirinya juga meneteskan air mata.