° Extra Part Argan

4.3K 144 38
                                        

«Diam lah saat kau disakiti. Jangan membalasnya, biarkan Tuhan yang membalas semua rasa sakit itu»

°Argan Mahendra°

"Kak lo di mana?!" Suara teriakan serta dobrakan pintu terdengar.

Argan yang mendengar panggilan itu segera keluar dari dalam kamar mandi. Busa sampo masih singgah di rambutnya tapi dia tidak peduli. Melangkah keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya.

"Kenapa sih teriak aja? Ada apa?" tanyanya.

Lihatlah, sosok yang mirip dengannya itu. Terlihat antusias di atas kasurnya dengan piala di tangannya.

"Gue menang lagi dong," ucapnya sombong dengan mengangkat tinggi-tinggi piala di tangannya.

Argan mengangguk, dia mendekat dan duduk di sebelah Ardan. Tangannya beralih menarik piala itu ke pegangannya.
Memutar mutar piala itu di depannya serta menelisik tulisan yang tertera di sana.

"Juara satu? Gila lo menang juara satu lagi kali ini?" Argan menatap takjub. Dia menoleh mendapati Ardan yang tersenyum cerah ke arahnya. Senyuman yang sangat manis.

"Yap bener. Gue juara satu lagi. Hebat kan gue?" tanya Ardan.

"Hebat! Bahkan gue aja cuma punya satu piala juara basket. Sedangkan lo? Bahkan hampir penuh tuh piala di lemari," jawab Argan. Dia masih menatap lekat piala di tangannya itu.

Ardan tak menjawab. Dia hanya diam dengan menundukkan kepalanya.

Sedangkan Argan, saat ucapannya tak mendapati jawaban. Dia segera menoleh menatap ke arah Adeknya. Dahinya mengernyit heran melihat Ardan yang terdiam.

"Kenapa? Kenapa lo diam?" tanyanya.

"Gue takut, Kak."

Mendengar nada lirih itu membuat Argan semakin bingung. Dapat terlihat jelas gurat gelisah di wajah Ardan.

"Kenapa? Apa yang lo takutin?" tanya Argan.

Ardan mengangkat kepalanya menatap lurus sang kakak. Dia meneguk ludahnya kasar. "Ayah ... Gue takut dia gak suka gue ikut basket lagi."

°°
Ardan Mahendra
°°

Suara nyanyian menelisik masuk ke telinga. Ucapan selamat Argan terima dari beberapa orang.

Argan mundur, sedikit menghindar dari keramaian orang.
Banyaknya rekan kerja sang ayah membuatnya kurang nyaman. Memang, sekarang adalah pesta ulang tahunnya yang ke 15. Tetapi, apa harus semegah ini?

Argan pikir, ayahnya hanya akan mengundang beberapa temannya saja. Namun, tanpa di duga ... Pria berkepala tiga itu mengundang banyak sosok malam ini.

Argan sejujurnya tidak keberatan. Dia senang, karena ulang  di meriahkan.
Namun, ada satu hal yang mengusik hatinya.
Separuh jiwanya tidak ikut merayakan hari kelahiran ini. Sosok yang sangat dia sayangi, Adeknya.

Berulangkali Argan mencari di mana sosok itu, tetap dia tidak menemukannya. Argan menghela napasnya lelah. Kalau sudah begini, hanya satu di mana dia bisa menemukan Ardan.

Argan berjalan ke arah ayahnya. Instingnya mengatakan bahwa hanya ayahnya kunci di mana Ardan saat ini.

Arga yang melihat Argan mendekat pun berpamitan kepada rekan kerjanya untuk pergi sebentar.
Melihat raut serius sang putra membuatnya sedikit was was. Arga takut jika Argan akan menanyakan soal Adeknya.

ARDAN MAHENDRACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang