Annisa termenung di kamarnya, menatap langit-langit kamar. Sejak pagi gadis itu tidak keluar dari kamar. Pikirannya melayang memikirkan kondisi seseorang di sana.
Annisa membayangkan saat kebersamaannya dengan Ardan, membuatnya semakin rindu akan sosok itu. Sosok yang menjadi sandarannya setelah orang tuanya. Sosok yang menjadi tempat kebahagiaannya. Sungguh, hatinya merasa sakit mengingat sosok itu saat ini terbaring tak berdaya di salah satu ruangan rumah sakit.
"Kamu harus sembuh, Dan, jangan tinggalin aku ...." Buliran bening mulai mengalir dari pelupuk matanya. Menahan tangisan sejak tadi membuat hatinya sesak. Annisa tidak sekuat itu, hatinya hanya seorang gadis lembut yang gampang menangis.
Iris matanya menoleh, menatap lukisan bunga Dandelion pemberian Ardan waktu itu. Ardan memberikan lukisan itu kepada dengan dalih untuk mengingatkannya agar selalu kuat. Waktu itu Annisa tidak mengerti apa maksud dari itu semua. Namun, sekarang dia paham ... Mengapa Ardan memberinya lukisan bunga Dandelion.
Ardan berlari dengan membawa sesuatu di tangannya. Dengan wajah berbinar, dia mendekat ke arah Annisa yang duduk di bangku taman sendirian.
"Sayang,... Aku ada sesuatu buat kamu!" Dengan tersenyum lebar, Ardan menyerahkan sebuah lukisan kepada Annisa.
Gadis itu tampak terkejut dengan kerutan di dahinya.
"Lukisan bunga Dandelion?" tanya Annisa tidak mengerti.
Ardan menganggukkan kepalanya. Dia lalu menarik tangan Annisa untuk digenggamnya.
"Iya bunga Dandelion! Bunga itu mungkin tidak secantik bunga mawar, atau bunga lainnya. Tapi kamu tau nggak? Apa keistimewaan bunga itu?"
Annisa menggeleng tidak tau. Otaknya benar-benar blank sekarang. Tiba-tiba Ardan memberikannya lukisan bunga dandelion, dan sekarang menanyainya seperti itu.
"Dia sangat kuat! Memang dia terlihat rapuh, tidak seperti bunga-bunga lainnya. Tapi ... Dia selalu bisa bertahan jika ada angin kencang yang menerpanya. Dia bisa tumbuh di manapun dia berada, dan membuat keindahan di segala tempat," jelasnya dengan senyuman lembut.
Annisa ikut tersenyum membayangkan penjelasan Ardan. "Kamu benar, bahkan orang saja tidak akan bisa sekuat bunga Dandelion."
"Orang-orang mungkin menganggap dia bunga liar, tapi aku tidak. Mau tau kenapa?" tanya Ardan.
"Kenapa?" jawab gadis itu.
"Karna dia inspirasi aku!"
"Kamu dulu berkata harus kuat seperti bunga Dandelion, tapi mengapa kamu yang lemah sekarang? Bunga Dandelion aja bisa bertahan melawan angin kencang yang mencoba untuk merobohkannya. Kamu juga harus bertahan melawan penyakit yang ingin menyakitimu, Ardan!"
Tangisannya pecah. Pertahanan hatinya mulai rapuh kembali. Annisa sangat merindukan, dan mengkhawatirkan keadaan Ardan. Dia tidak bisa membayangkan sesuatu yang akan terjadi pada Ardan nantinya.
~~~~~~
Ayu memasuki ruangan Ardan dengan menenteng se-kresek makanan ringan. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di rumah, dia segera menuju rumah sakit berhubung Ardan tidak ada yang menjaga.
Ayu berjalan mendekat, meletakkan kresek yang dia bawa di meja, dan duduk di sebelah ranjang pasien. Tangannya terulur mengusap wajah Ardan. Matanya fokus menatap wajah penuh damai itu. Wajah yang tertidur lelap dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Bangun, Nak," ucapnya yang hampir tak terdengar.
Karena terlalu fokus memandang wajah yang damai itu, Ayu tidak sadar akan pergerakan kecil jari-jari Ardan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARDAN MAHENDRA
RomanceArdan Mahendra Menceritakan kisah seorang remaja penikmat luka yang selalu menemani harinya. Apakah Ardan bisa mendapatkan kebahagian atau sebaliknya? °Start : 10 September'22 °Finish : 10 Juli'23 #Cover by Pinterest! [ Isi masih acakadut + belum r...
