Ardan Mahendra
Menceritakan kisah seorang remaja penikmat luka yang selalu menemani harinya.
Apakah Ardan bisa mendapatkan kebahagian atau sebaliknya?
°Start : 10 September'22
°Finish : 10 Juli'23
#Cover by Pinterest!
[ Isi masih acakadut + belum r...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sinta memasuki kamar Ardan. Dia ingin membersikan sebentar kamar putranya itu. Pemandangan pertama saat pintu terbuka adalah kamar bernuansa biru dengan paduan abu-abu. Kamarnya rapi, hanya ada beberapa baju yang tergeletak di sisi ranjang.
Kakinya berjalan mendekat mengambil baju itu, dan menaruhnya di ranjang kotor. Setelah sudah, mata teduhnya menatap sekeliling. Hatinya seolah-olah menyuruhnya untuk mendekat ke arah meja di sisi ranjang sebelah kanan. Sinta mendekat, dirinya terdiam saat matanya tidak sengaja menangkap sesuatu yang tertutupi buku di atas meja. Mengapa ada obat di kamar Ardan?
"Obat apa ini? Apa dia sakit?" Dengan ragu, dia mengambil bungkusan obat itu, dan mengamatinya.
Pintu terbuka menampakkan Ardan yang baru saja pulang dari taman. Wajahnya menyergit mendapatkan Bundanya ada di kamarnya.
"Bunda ada apa?" tanyanya berjalan mendekat.
"Kamu sakit? Kenapa nggak kasih tau Bunda." Sinta langsung menanyai Ardan tanpa menjawab pertanyaannya.
Ardan menegang, dia melihat obat yang berada di genggaman Bundanya. Itu obat yang biasa dia pakai saat penyakitnya kambuh sebelum mengetahui penyakit aslinya. Bisa dikatakan obat yang dulu asal dia beli.
"Nggak, Ardan nggak sakit. Itu hanya obat demam. Ardan kemarin sempat nggak enak badan, demam dan membeli obat itu. Tidak parah kok, Bun." Dia tidak bohong kan? Itu benar kalau dia demam. Tapi, dia hanya berbohong tentang sisanya.
Sinta menghela napas sejenak sebelum bangkit menghadap putranya itu. "Kenapa nggak kasih tau Bunda? Bunda juga ibumu, Ardan. Apa kamu ragu sama Bunda?"
"Iya Ardan ragu, bahkan sedikit takut dengan, Bunda."
Tidak, itu bukan jawaban Ardan. Itu hanya jawaban spontan hatinya. Dia hanya menjawab ucapan Sinta dengan gelengan kepala.
"Aku nggak papa, Bun. Bunda istirahatlah, aku juga ingin istirahat," ucapnya disertai kekehan di akhir.
Sinta mengangguk, dia lalu menaruh lagi bungkusan obat itu di meja, dan hendak keluar.
"Bunda harap kamu jujur, Dan." Sinta mengelus lembut kepala Ardan sebelum meninggalkan kamar putranya.
"Maafin Ardan, Bun."
~~~~~
Semenjak hari itu Ardan sekarang banyak diam. Bahkan di sekolah pun dia hanya diam seperti tidak memiliki semangat. Sahabatnya merasa bingung dengan perilaku Ardan seminggu belakangan ini.
"Lo ada masalah?" ucapan Kenan membuat semua menatap ke arah Ardan.
Mereka saat ini sedang di kantin, dengan Kenan, Bayu, Rangga, dan Mita juga Annisa. Hubungan Annisa dengan Ardan sudah diketahui mereka. Iya benar, gadis yang di tembak untuk menjadi kekasihnya adalah Annisa. Entah bagaimana awalnya. Namun, yang pasti ... Cinta itu datang tiba-tiba, bukan? Sama seperti kisah Ardan dengan Annisa.