«Takdir tak ada yang tahu. Tetapi, percayalah bahwa takdir itu istimewa.
Kesedihan yang kau dapatkan, akan terbalas dengan berjuta-juta kebahagiaan»
°Annisa Trihapsari°
★
★
★
Gadis berambut panjang dengan balutan dress berwarna putih itu terlihat berjalan memasuki pemakaman. Kakinya terus melangkah ke dalam, dengan tangan yang setia memeluk buket bunga.
Wajahnya berseri karena senyumannya yang manis. Dia terus berjalan hingga tiba di depan makam seseorang yang sangat dia rindukan.
Perlahan mendekat, lalu meletakkan buket itu tepat di depan batu nisan. Tangannya bergerak mengusap pelan batu nisan yang sedikit kotor.
"Selamat," ucapnya pelan dengan senyuman manis.
"Kita lulus. Kamu mendapat peringkat 3 di kelas kita. Kamu berhasil, Dan. Sekarang semua orang bangga sama kamu." Tangannya beralih mengusap air matanya yang menetes tanpa diperintah.
Dia menatap lurus ke depan. Pandangan memburam lantaran air mata yang mengenang. Perasaan itu ... Perasaan setiap dia datang ke sini. Mengapa selalu sakit rasanya? Padahal bukan keduanya kalinya dia ke sini.
"Sudah lama ya kamu ninggalin aku? Aku kangen, Ardan. Aku kangen sama kamu. Kamu udah bahagia ya di sana?" menjeda ucapannya saat sesak mulai menyerang hatinya.
"Aku udah nepatin janji aku kalau akan ke sini setiap hari Kamis, kan? Tapi sekarang hari Senin. Aku ke sini karena ini hari kelulusan kita, Ardan!" ujar Annisa.
Annisa terkekeh geli ketika membayangkan bagaimana bahagianya Ardan jika ada di sini. Mungkinkah dia akan memeluknya dengan erat dengan mengucapkan kata selamat?
"Oh iya aku mau ngasih tau kamu." Tangan Annisa masih setia mengelus batu nisan Ardan. "Aku memutuskan pergi ke Australia dengan orang tuaku. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Aku tidak melupakanmu, tidak akan! Hanya saja ... Hidupku terus berjalan, bukan? Aku tidak mau terlarut dalam kenangan kita, Ardan. Semua sudah selesai. Tapi, kenangan kamu masih tersimpan rapi di hati aku."
Annisa teringat akan perkataannya dengan Ardan waktu itu. Saat di mana Ardan selesai melakukan kemoterapi.
"Bagaiman sekarang?" tanya Annisa.
Ardan menoleh, menatap gadisnya yang menemaninya duduk di samping brankar.
"Seperti kemarin. Kemoterapi sangat menyakitkan, Sayang. Ini yang buat aku malas melakukan pengobatan seperti ini," rengeknya.
Annisa menghela napasnya. Dia menatap serius Ardan. "Tapi itu buat kesehatan kamu. Kamu nggak mau sembuh?"
Ardan menggeleng cepat. "Bukan! Bukan gitu ihh ... Aku mau sembuh biar bisa sama kamu seterusnya. Tapi, sungguh ... Tubuhku rasanya remuk setiap kali selesai kemo. Aku gak suka jika aku lemah kayak gini di depan kamu!"
"Aku gak papa kok lihat kamu gini karena ingin sehat. Justru kalau kamu nolak kemo ... Yang ada aku makin sakit lihatnya," jawab Annisa.
"Aku mau kamu sembuh dari penyakit itu!" Annisa menatap penuh kearah Ardan. Dia menggenggam jemari lentik itu.
"Tapi kamu gak lupa, kan? Kemungkinan aku sembuh hanya sedikit ... Itupun entah benar apa tidak," tukasnya lirih.
"Nggak! Kamu bisa sembuh kok!" elak Annisa. Dia sangat yakin jika Ardan bisa sembuh suatu saat nanti.
"Gak ada yang tau takdir Allah! Jika memang tiba di mana aku pergi. Bukan artinya aku pergi meninggalkan kamu. Di saat seperti itu, kamu hanya harus menyakini bahwa aku hanya sudah tidak sakit lagi. Aku udah sehat, dan aku harus istirahat!"
Annisa meremas kuat dadanya untuk mengusir rasa sesak itu. Setiap kenangan yang mengingatkannya pada Ardan, itu membuatnya merasa tidak nyaman.
"Benar! Kamu sekarang udah sehat, udah gak sakit lagi kayak dulu, semoga kita bisa bertemu lagi di waktu terbaik kita," ucapnya pelan.
°°
Ardan Mahendra
°°
KAMU SEDANG MEMBACA
ARDAN MAHENDRA
RomanceArdan Mahendra Menceritakan kisah seorang remaja penikmat luka yang selalu menemani harinya. Apakah Ardan bisa mendapatkan kebahagian atau sebaliknya? °Start : 10 September'22 °Finish : 10 Juli'23 #Cover by Pinterest! [ Isi masih acakadut + belum r...
