46°

3.5K 141 10
                                        

Suara rintikan hujan terdengar sangat merdu ditelinga. Udara dingin mulai merambat membuat tubuh merinding seketika.
Ardan mengeratkan selimutnya. Sejujurnya ia sangat bosan, lantaran hanya sendirian di ruangannya.

Iris matanya melirik jendela di sebelah kanan. Tampak gelap. Ingin sekali rasanya pergi keluar sekedar untuk berjalan-jalan. Namun tak bisa, mengingat kondisinya juga tak ada seorangpun yang menemaninya.

Helaan napas terdengar. Ardan sangat bosen. Dengan tekat kuat, ia mencoba untuk berdiri. Setelah berhasil memijakkan kakinya ke lantai, Ardan segera meraih infus untuk dibawanya.

Dengan pelan ia melangkah ke luar. Menghirup udara di malam hari dengan rintik hujan yang masih turun bukanlah hal yang buruk, bukan?

Kakinya terus melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Hingga ia berhenti di halaman depan. Ardan hanya diam, ia tidak berbicara apapun untuk sekarang. Hanya menatap lurus hujan yang masih turun.

Lubuk hatinya seakan mengingatkan kepada sesuatu. Di mana kehidupannya yang penuh dengan Mala.

*Mala : Sengsara

Ardan tak bisa menghindar. Berulangkali ia menarik napas agar perasaan sesak itu menghilang. Semua yang ia inginkan sekarang sudah berpihak padanya. Ia hanya akan bertahan untuk sementara ini.
Setidaknya demi Bundanya.

Tidak ingin terlarut dalam kesedihan. Ardan memutuskan untuk kembali ke ruangannya.

~~~~~

Pagi yang cerah. Mentari mulai menampakan dirinya dengan malu-malu.
Berbeda dengan seorang gadis yang masih setia menjelajahi mimpinya. Gedoran pintu, bahkan tidak mampu mengusiknya sama sekali.
Mata lentiknya masih terpejam sempurna.
Sampai dering alarm yang keras membangunkan-nya dengan segera.

Jantungnya seakan berhenti berdetak lantaran kaget. Ia merenggangkan tubuhnya sebelum duduk.

Annisa mengedipkan matanya guna meminimalisir cahaya yang menyilaukan. Setelah merasa tenang, ia mulai panik. Ia baru teringat akan tujuannya yang akan ia lakukan di hari ini.

Di mana yang seharusnya ia akan menjenguk sang kekasih, justru malah bangun kesiangan.
Dengan tergesa-gesa gadis itu berlari menuju ke kamar mandi. Setelah beberapa menit berlalu, ia sudah siap.

Annisa menuruni tangga. Di lantai bawah terlihat mamanya yang sedang nonton tv.
Annisa mendekat, dan duduk tepat disebelah sang ibu.

"Kenapa nggak bangunin aku, Mah?" tanyanya.

Wanita berumur tiga puluhan itu menoleh, menatap putri satu-satunya. Ia mengendus kesal, "Kamu-nya yang dibangunin susahnya minta ampun! Mama udah bangunin kamu dari jam 6, tapi apa? Kamu akhirnya bangun jam setengah 8, kan?"

Annisa meringis mendengarnya. Jadi di sini ia yang kebo, gitu?

"Harusnya mamah buka aja pintunya biar aku langsung bangun. Aku mau ke rumah sakit dulu," ucapnya meminta izin seraya memakan kripik yang ada dipangkuan ibunya

"Ngapain ke sana?" tanya mamahnya heran.

"Jenguk ayang. Dadah mamaku sayang, Assalamualaikum." Annisa meraih tangan sang ibu, dan menciuminya. Setelahnya ia berlari menuju ke luar rumah.

Sang empu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Annisa. Ada-ada saja, pikirnya. "Waalaikumussalam," jawabnya tak lupa.

Annisa pergi menggunakan taksi. Ia sengaja tidak memberitahukan kedatanganya pada Ardan. Biar saja jadi kejutan, pikirnya.
Selang 20 menit lebih ia telah sampai di rumah sakit.
Setelah membayar biaya taksi, dan tak lupa mengatakan terima kasih. Gadis itu langsung berjalan menuju tujuannya.

ARDAN MAHENDRACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang