34°

2.5K 153 75
                                        

Ardan tiba di depan kelas. Kaki jenjangnya perlahan memasuki kelas. Suara riuh temannya langsung masuk ke Indra pendengarannya.

Berjalan menuju bangkunya yang sudah diduduki oleh Bayu. Bayu segera berpindah tempat saat mendapati Ardan telah tiba.

Ardan menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya guna memejamkan matanya sejenak. Pikirannya berkecamuk, memikirkan perkataan semua orang yang membuat hatinya tidak tenang. Bahkan suara ramai dalam kelas tidak membuatnya teralihkan.

Bayu menyenggol lengan Kenan yang tepat di sebelahnya. Matanya mengode ke arah Ardan. Kenan yang mengerti pun hanya menggeleng tanda tak tau.

"Ada masalah, Dan?" ujar Rangga.

Ardan mengangkat kepalanya lalu menggeleng. Hari ini dia sedang tidak ingin berkata apapun. Titik terlemahnya mengatakan kalau dia harus diam, dan terus mendengarkan perkataan orang lain.

Entah perkataan baik atau sebaliknya.

Melihat jawaban Ardan seperti itu membuat ketiganya terdiam. Mereka tau kalau sekarang suasananya sedang tidak mendukung, jadi biarkan sampai Ardan yang berkata sendiri.

Selang beberapa menit, guru memasuki kelas menandakan pembelajaran pertama akan segera dimulai.
Rangga yang memang sebangku dengan Ardan segera menyenggol lengan-nya agar tidak terkena amukan guru.

Selama pelajaran Ardan tidak pernah fokus. Matanya memang memandang lurus ke papan, dan mendengarkan setiap penjelasan yang diberikan guru. Namun, pikirannya tidak. Hatinya tidak tenang sedari tadi, juga rasa nyeri di kepalanya masih terasa sejak semalam.
Hingga jam pelajaran terakhir membuatnya menghela napas senang.

Tanpa berpamitan kepada Bayu ddk, juga Annisa yang menunggunya di depan kelas, Ardan berlalu pergi ke suatu tempat ,- taman dekat komplek perumahannya.

Matanya menelisik setiap tempat taman. Hanya ada beberapa orang yang di sini.
Melangkah menuju bangku pojok, dan mendudukkan pantatnya di sana. Ardan menunduk, lalu memejamkan matanya. Sekuat mungkin dia menahan rasa sakit yang terus menyerangnya.

"Obatnya habis ... Beli apa nggak ya?" ucapnya lirih. Memang obatnya sudah habis sejak tiga hari lalu, yang membuat dia telat minum obat, dan berakhir kambuh lagi.

Kekehan miris tercetak jelas di mimik wajahnya. Mentertawakan dirinya yang tidak pernah merasa beruntung. Dirinya yang selalu buruk di mata orang lain.
"Nggak usah, ngapain juga beli, percuma nggak akan bikin gue sembuh!"

Biarkan saja dia mengabaikan penyakitnya sejenak. Kalaupun diperjuangkan, dia ingin berjuang untuk siapa? Ayahnya? Bundanya? Atau Argan, Kakaknya?
Mereka bahkan tidak menoleh sedikitpun jika tau dia sakit, jadi untuk siapa?

"Andai bunuh diri gak dosa ... mungkin gue udah lakuin itu dari dulu," ucapnya. Matanya menatap sendu sosok di depan sana.
Sosok yang masih dia harapkan untuk kebahagiannya. Sosok yang sangat berarti di dalam hatinya.

"Maafkan, Ardan," ucapnya lirih. Segera Ardan berlalu pergi meninggalkan taman sebelum sosok itu melihatnya. Dia masih belum siap jika bertemu dengannya saat ini. Kondisinya tidak memungkinkan, hatinya belum dia sembuhkan.

Sedangkan di seberang, sesosok yang di maksud Ardan justru lebih dulu melihatnya. Dia sedang berada di sini sebelum Ardan tiba. Niat awalnya yang hanya ingin mencari udara segar, justru tidak sengaja bertemu Ardan, seorang yang belum dia temui sejak kejadian itu terjadi.

Matanya melihat sendiri bagaimana tubuh yang tanpa tenaga itu terduduk di salah satu bangku taman, menundukkan kepalanya yang terlihat sangat menyedihkan.
Melihat bagaimana Ardan yang berbicara sendiri, lalu menertawai dirinya sendiri membuatnya merasa tersentil. Ardan yang dia tau sosok kuat yang mampu membuat orang lain lupa akan masalahnya. Kini justru terlihat menyedihkan sendirian di seberang sana.

ARDAN MAHENDRACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang