Tana memutuskan untuk mengajak Mahatma berbincang di balkon apartemen, selain untuk menghindari Ariana yang nantinya masih emosi, Tana juga ingin mengenal lebih jauh sosok laki-laki yang beberapa waktu berada dekat dengan kekasihnya.
"Saya tau gak mudah kamu menerima fakta tentang Ariana yang sebenernya." Tana membuka obrolan.
Mahatma yang matanya masih tertuju pada lampu jalan, kendaraan dan bangunan dari tempat tertinggi itu hanya bisa berfikir tentang apa yang Tana ucapkan padanya.
"Ariana itu sangat baik dan perhatian dengan orang-orang sekitarnya. Maklumi saja kalau emang sedikit emosian, sifatnya yang itu memang sulit di hilangkan dari dirinya." Tana tersenyum membicarakan sifat emosional Ariana yang melekat pada gadis itu dan sulit hilang.
Mahatma lagi-lagi diam, ia tidak tau harus apa.
"Udah berapa lama pacaran sama dia?" Mahatma tiba-tiba mengeluarkan kalimat pertama nya sejak mereka berdua memutuskan untuk berbincang di balkon.
Tana yang sudah mengira bahwa Mahatma akan bertanya hal itu pun tersenyum sebentar, "Udah cukup lama. Kurang lebih 7 tahun." Tana menjawab dengan nada yang bersahabat, tidak ada sebuah kesombongan disana.
Mahatma yang mendengar itu kemudian larut dengan pikirannya. Sampai tiba-tiba wajahnya menoleh ke arah Tana ketika laki-laki itu mengatakan hal yang membuatnya terkejut.
"Saya tau kamu suka dengan Ariana."
Bukan hanya kalimat tersebut keluar dari mulut Tana, melainkan laki-laki itu mengatakan tanpa ada niat untuk mengajaknya bertengkar.
"Tenang aja, saya gak mau ngajak kamu berantem. Saat ini memang saya dan Ariana menjalin hubungan, tapi ketika hatinya jatuh ke kamu, pada akhirnya saya juga gak bisa berbuat apa-apa. Perasaan kamu gak salah jika disini kita saling menghargai posisi satu sama lain. Biar Ariana nantinya yang memutuskan bagaimana akhir dari pemilik hatinya."
Mahatma benar-benar dibuat takjub dengan karakter dan kepribadian Tana yang sangat baik. Terlihat juga Tana yang pintar dan dewasa, sangat cocok mengimbangi karakter Ariana yang terkadang masih kekanak-kanakan.
Disamping itu, Mahatma pun berfikir apakah ia memiliki perasaan kepada Ariana? Jika iya, kapan itu mulai terjadi?
"Kenapa gitu?" Mahatma bertanya pada Tana tentang ucapan laki-laki yang lebih dewasa darinya itu.
"Kamu pernah jatuh cinta sebelum nya? Jatuh cinta yang ketika kamu melihat dia bahagia saja udah cukup buat kamu." Tana balik bertanya kepada Mahatma.
"Pernah." Mahatma menjawab singkat. Ia membayangkan sosok perempuan yang sangat ia cintai dan sayangi namun sudah tidak ada di hidupnya. Perempuan yang sangat Mahatma usahakan bahagia dan senyumnya selalu ada setiap waktu.
"Itu yang saya lakukan ke Ariana. Namanya jatuh cinta dengan ikhlas dan tulus. Gak ada obsesi, ataupun rasa paksaan disana. Ketika dia juga balik mencintai dan menyayangi, itu adalah kebahagiaan yang tidak pernah akan saya lupakan. Tapi, ketika nantinya dia pergi mencari cinta dan kasih sayang ke orang lain, saya juga gak bisa memaksanya untuk tetap tinggal. Perasaan yang begitu, jauh lebih indah."
Mahatma belajar banyak dari Tana, padahal pertemuan mereka belum genap sehari. Tapi, Mahatma merasakan bahwa Tana memang laki-laki tulus dan terbaik. Ariana memang pantas bersama dengan Tana.
Tana menyadari bahwa keadaan Ariana di dalam sudah sangat membaik setelah berbicara secara personal dengan Abelia.
Setelah itu, Tana mengajak Mahatma untuk kembali masuk dan berbincang kembali dengan Ariana,Abelia dan Gantara.
"Ngobrol apa aja kamu?" Bisik Ariana kepada Tana kala cowok itu kembali dan menghampiri nya, bahkan Ariana dengan tanpa ragu dan malunya bersandar pada dada bidang milik Tana, sementara Tanya membelai lembut rambut Ariana dengan senyum yang sangat tulus dan menenangkan.
"Rahasia cowok," sahut Tana dengan kekehan di akhir. Sementara Ariana hanya mendengus sebal.
Ariana beralih kembali menatap Mahatma dengan sengit. Ia bersidekap dada, "lo udah tau gue siapa, jadi gue gak perlu basa basi lagi jelasin identitas gue ke lo."
Ariana mulai membuka suaranya, Mahatma bisa melihat dari wajah gadis itu bahwa Ariana masih marah kepadanya.
"Gue beneran gak akan bisa mengulang dengan lembut kayak gini lagi. Jadi, Mahatma apa yang udah lo lakuin kepada Vinara?"
Mahatma terdiam, menatap lekat Ariana dengan penuh arti.
"Gue tau pertemuan kita emang sebentar, tapi gue rasa selama itu lo tau bagaimana diri gue yang sebenarnya. Lo bahkan tau gimana sikap gue kepada beberapa perempuan di sekolah, kenapa lo gak bisa menyimpulkan bahwa gue gak mungkin melakukan hal-hal yang menyakiti perempuan terutama ini Vinara."
Ariana mendengar penjelasan Mahatma tanpa mau mengurangi perasaan curiganya. Di sisi lain, Gantara, Abelia dan Tana justru melihat sisi Mahatma yang berbeda dan merasa bahwa memang anak itu tidak bersalah.
"Buat apa lo nyamar nyari tau kesana kemari tapi masih aja belum menemukan fakta bahwa gue gak akan mungkin sakitin Vinara?" Tanya Mahatma.
Ariana berdecak kesal, "pertemuan kita sangat singkat, seperti yang lo katakan. Dan gue juga gak mengenal lo sedalam itu. Gue bahkan baru tahu bahwa lo anak Atmaja juga baru, jadi darimana lo bisa menyimpulkan bahwa gue tau lo banget, Mahatma? Lalu, bagian lo yang gak mungkin menyakiti Vinara menurut gue adalah sesuatu yang sangat lucu. Kenapa? Karena gak ada yang gak mungkin di dunia ini. Dan kemungkinan lo menyakiti Vinara pun menurut gue mungkin, apalagi gue udah nemu bukti yang dibuat oleh Vinara sendiri. Bukti ada inisiasi nama lo dibeberapa cerita atau kisah Vinara yang selama ini disembunyikan dia."
Penjelasan Ariana membuat Mahatma sudah tidak tahu lagi harus berkata apa. Cowok itu hanya menghela nafasnya lelah dan pasrah karena di tuduh seperti ini oleh Ariana.
"Na, udah. Kayaknya kita obrolin lagi besok, kamu belum menghadapi nya dengan kepala dingin. Gak bisa langsung nembak nuduh gini." Tana mengingatkan.
Mahatma kemudian memberikan gesture bahwa ia tidak apa-apa dituduh macam-macam oleh Ariana.
"Gue sangat penasaran dengan bukti yang lo maksud, bagian mana Vinara menyebutkan gue dalam buku itu? Bagaimana gue diceritakan? Asal lo tau, gue sangat ingin diceritakan dengan kata-kata indah oleh Vinara. Tapi sayangnya, lo salah mencari tahu. Oh atau lebih tepatnya, lo belum mencari tahu dengan benar. Laki-laki dihidup Vinara bukan hanya gue. Dan sampai detik ini gue juga gak tau siapa laki-laki itu yang mungkin adalah sosok pemilik aslinya inisial nama yang dituliskan oleh Vinara."
"Gue emang anak Atmaja, orang yang bermasalah dengan keluarga Vinara yaitu Hadinata, gue tau. Tapi, gue bukan Atmaja. Dan perlu kalian garis bawahi bahwa gue berada di pihak yang sama dengan kalian. Gue sedang mencari bukti terkait kematian Vinara. Kalau gue emang pelaku, buat apa gue susah payah mencari bukti-bukti tersebut yang seharusnya gue tau ketika memang gue pelaku nya."
Penjelasan Mahatma membuat Gantara dan Abelia merasa bahwa memang cowok itu jujur dan apa adanya. Jika dilihat memang Mahatma jauh sekali dari clue pelaku. Sosok Mahatma yang diceritakan banyak anak Anthurium adalah orang yang menjaga dan selalu bersama Vinara hingga dikatakan kekasih dari gadis itu. Jika memang tidak benar-benar dekat, tidak mungkin bisa muncul statement tersebut.
Dan malam itu, Mahatma benar-benar dianggap seperti tahanan yang dilarang pergi oleh Ariana. Gadis itu masih menaruh curiga, tidak berkurang sedikitpun. Baginya, semua harus ada bukti yang setimpal jika memang Mahatma bukan pelaku nya. Karena bagi Ariana, bukti yang ditinggalkan Vinara dengan terdapat inisial sudah suatu bukti besar dan kuat.
To be continue.....
KAMU SEDANG MEMBACA
KAMUFLASE [COMPLETE]
Ficção AdolescenteKedatangan seorang murid baru pada Anturium High School membuat beberapa fakta dan kebenaran terkuak. Sekolah yang terkenal dengan segala hal elite nya menyimpan rahasia yang mengejutkan. Semua orang bertanya-tanya siapakah gadis bernama Ariana Kaia...
![KAMUFLASE [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/318012195-64-k251905.jpg)