Tiga Puluh Enam: Sergap

243 22 0
                                        

Selepas mengirim pesan kepada Mahatma untuk bertemu di apartemen miliknya, Ariana dengan cepat menyusun beberapa hal supaya Mahatma mau membuka suara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selepas mengirim pesan kepada Mahatma untuk bertemu di apartemen miliknya, Ariana dengan cepat menyusun beberapa hal supaya Mahatma mau membuka suara.

Ariana juga membuka sebuah lemari yang berada dibawah sofa, disana terdapat beberapa senjata simpanan Ariana. Tidak hanya itu, ada beberapa alat lainnya penunjang misi agar berjalan lancar.

Ariana mempersiapkan senjata berjenis pistol itu dengan beberapa peluru. Gantara dan Abelia yang melihat itu benar-benar takut jika Ariana benar akan melayangkan peluru pada Mahatma.

"Na gak usah pake senjata deh," pinta Abelia yang terkesan seperti memohon. Ariana menulikan pendengaran nya.

Gadis itu lalu duduk diatas sofa, menunggu kedatangan Mahatma. Abelia dan Gantara berharap-harap cemas. Keduanya berdoa semoga Tana cepat kembali dari membeli makan untuk mereka. Hanya Tana orang yang bisa menenangkan diri Ariana yang penuh dengan emosi seperti saat ini.

15 menit kemudian suara bel pintu berbunyi, menandakan ada seseorang yang datang.

"Na gue aja yang buka," saran Gantara.

Ariana tidak menghiraukan. Gadis itu berjalan melihat pada monitor siapa yang datang. Dan ternyata orang yang ia tunggu-tunggu. Ariana melihat sosok Mahatma yang masih memakai seragam berdiri didepan pintu apartemen nya.

Ariana dengan cepat membuka pintu dan menarik paksa Mahatma agar masuk dan menyeretnya hingga menuju ruang kerja.  Abelia dan Gantara mengikuti dari belakang. Sementara Mahatma yang diperlakukan seperti itu oleh Ariana hanya diam, sempat terkejut tapi juga penasaran apa yang terjadi.

Ariana melemparkan tubuh Mahatma agar terduduk pada salah satu kursi.

"Jawab gue, lo ada apa sama Vinara?" Tanya Ariana tegas.

Mahatma yang tiba-tiba ditodong pertanyaan itu pun diam. Ia melihat wajah Abelia dan Gantara yang menatap ke arahnya dengan cemas.

"JAWAB GUE MAHATMA!" Teriak Ariana.

Mahatma lalu menatap ke arah gadis dihadapannya yang memperlihatkan sisi  berbeda dari yang ia kenal disekolah.

"Gue tau lo anak Atmaja. Selama ini lo selalu menyembunyikan itu kan? Asal lo tau, Atmaja adalah orang yang paling ingin gue habisi!" Ujar Ariana dengan menggebu-gebu. Ia ingat kejadian Atmaja yang menyakiti Tana. Benar-benar masih sulit dilupakan serta dimaafkan.

"Bunuh aja, habisi. Gue juga gak pernah suka ada dia di dunia." Jawaban Mahatma membuat Ariana semakin kesal.

"Gue gak main-main, ya. Jawab gue, lo sama Vinara ada apa? Apa yang lo lakuin ke dia?" Ariana berucap dengan mata yang berkaca-kaca.

Mahatma melihat itu. Ia bisa merasakan kesedihan pada diri Ariana saat ini.
"Kenapa nuduh gue? Atas dasar apa lo bilang gitu?" Mahatma bertanya balik.

Ariana yang sudah hilang kesabaran langsung menodongkan pistol ke hadapan Mahatma. Cowok itu terkejut begitupun dengan Abelia dan Gantara yang langsung maju selangkah untuk mengamankan Mahatma.

"Gue bisa aja tembakin pistol ini di kepala lo." Ancaman Ariana membuat Mahatma tertawa renyah.

"Gue udah tau dari awal bahwa lo itu terlalu mencurigakan sebagai anak baru yang penasaran tentang banyak hal terutama soal Vinara. Gue juga tau lo berdua yang ikut menyusup disekolah malem-malem. Dimana Ariana ditangkap ketahuan sama keamanan." Mahatma menjelaskan.

"Gue udah tahu juga bahwa permintaan pertemuan dari lo tadi sangat mencurigakan. Mau menyelesaikan masalah? Sejak kapan lo mau menyelesaikan masalah sama gue dengan ketemuan?" Mahatma berucap lagi dengan wajah yang penuh kepuasan karena kecurigaan nya selama ini benar.

Mahatma mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya dan dilemparkan ke atas meja yang ada didekat dia.

"Barang yang kalian jatohin waktu itu. Gue gak buka sama sekali." Mahatma berucap.

Gantara dan Abelia mengambil alih flashdisk milik mereka itu. Flashdisk yang berisi data keuangan dan anak-anak Anthurium High School.

"Jangan buat kesabaran gue habis Mahatma! Lo jawab atau hidup lo gak aman!" Ujar Ariana lagi.

Mahatma tersenyum, "Jadi, ini Lo yang sebenarnya?"

Ariana masih terus menodongkan pistol ke hadapan Mahatma,"Mahatma gue mohon jawab! Lo apain Vinara? Kalau bukan lo, kenapa di bukunya ada inisiasi nama lo? Cowok yang dekat dengan dia cuma lo! Semua orang disekolah tau itu!" Ariana menangis. Ia benar-benar tidak kuasa menahan semuanya.

Mahatma yang melihat itu pun ingin sekali mendekap erat Ariana.

Saat Mahatma ingin bangkit menghampiri Ariana, sosok Tana datang dengan setengah berlari kemudian memeluk erat tubuh Ariana. Membisikkan kata-kata penenang agar Ariana bisa menurunkan senjatanya.

"Aku disini, semua baik-baik aja. Kita bicara dengan kepala dingin ya? Sekarang senjatanya serahin ke aku." Tana terus membisikkan kalimat penenang. Sampai akhirnya senjata yang dipegang Ariana dapat diambil oleh Tana.

Laki-laki itu kemudian menyerahkan senjata tersebut kepada Gantara untuk diamankan.

Mahatma yang menyaksikan itu hanya bisa membisu. Ia familiar dengan wajah Tana. Tiba-tiba teringat bahwa wajah itu yang Mahatma lihat saat di club, dimana ketika Ariana tertangkap basah berciuman dengan laki-laki. Jadi, laki-laki itu adalah Tana.

"Hai, saya Tana. Kamu Mahatma, bukan?" Tana memperkenalkan diri.

"Iya." Mahatma hanya menjawab singkat.

Saat Ariana sudah lebih tenang. Ia kemudian menyerahkan gadis itu pada Abelia untuk diungsikan hingga perasaan nya jauh lebih baik untuk bicara dengan Mahatma.

"Ariana cerita banyak soal kamu." Tana berucap pada Mahatma.

"Makasih udah wujudkan salah satu mimpi dia untuk ke Bandung. Dia sangat bahagia ketika bercerita dengan saya soal kota Bandung dan kamu yang mengajaknya mencoba banyak hal baru."

Mahatma hanya diam. Ia dapat menyimpulkan sendiri bahwa Tana adalah kekasih dari Ariana. Pantas saja gadis itu menolak Barraham.

"Mahatma, gue sebenernya gak 100% mikir lo pelaku dari pembunuhan Vinara. Tapi, semua bukti yang ditemukan memang menjurus pada satu orang, yaitu lo. Terlebih lagi lo adalah anak dari Atmaja, salah satu orang yang bermasalah dengan keluarga Hadinata." Ucapan Gantara membuat Tana dan Mahatma menyimak.

"Oh iya gue lupa memperkenalkan diri. Gue Gantara, dan cewek yang sama Ariana itu namanya Abelia. Kita tergabung dalam satu tim yang diminta oleh Hadinata untuk membantu penyelidikan kasus kematian Vinara yang janggal. Setelah ini, kalau sampai identitas kita terbongkar, lo adalah orang pertama yang akan jadi target untuk dihilangkan." Gantara tersenyum diakhir kalimat. Terkesan seperti ancaman.

Mahatma hanya menganggukkan kepalanya paham, toh ia juga tidak akan membocorkan semua itu.

"Selain gue, gak ada lagi yang tahu?" Tanya Mahatma penasaran.

"Ada. Nanti gue buat lo ketemu sama dia." Gantara menjawab.

"Kaget gak lihat Ariana kayak tadi?" Gantara mulai membawa obrolan yang ringan. Tana hanya tertawa dengan pertanyaan konyol Gantara.

"Gak sih. Soalnya gak beda jauh sama dia disekolah ketika marah-marah."

Tana dan Gantara tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Mahatma yang sangat jujur. Semua itu pasti benar adanya. Pasalnya memang Ariana sangat buruk dalam menahan emosi.

To be continue....

KAMUFLASE [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang