Azelia sekarang ada di dalam kamarnya, membaca sebuah novel online di ponselnya. Ia juga telah menidurkan ke tiga anaknya. Awalnya ia hanya menidurkan Leandro saja rencananya, ternyata Jeffran dan Alvaro juga mengikuti mereka, akhirnya ketiganya tertidur di ranjang yang sama setelah saling bercerita dan Azelia yang mengelus lembut rambut sang anak.
Tok tok tok
Mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya, Azelia langsung berdiri untuk membuka pintu tersebut, sepertinya sang suami, karena siapa lagi jika bukan Winter. Dan ternyata benar itu suaminya.
"Kenapa dengan wajahmu" ucap Azelia terkejut melihat wajah lebih tepatnya pipi suaminya memar. Seketika Azelia menarik Winter untuk duduk di kasurnya, dan berlari keluar mengambil air kompres an. Sambil menunggu Azelia Winter memperhatikan kamar sang istri, baunya persis sekali dengan Azelia, rasanya rasa bersalah lagi dan lagi muncul, malam ini ia harus memperbaiki semuanya.
Pintu terbuka memperlihatkan Azelia dengan raut wajah yang masih khawatir dengan membawa tempat berisikan kompres an dan sebuah kotak p3k. Azelia bergegas menuju tempat tidurnya. Kemudian mengompres pipi suaminya. Setelah itu memberikan salep agar lukanya cepat kempes.
"Zelia" panggil Winter, Azelia yang sedang mengemasi barang-barang yang dipakai untuk Winter tadi pun menoleh, tatapan keduanya bertemu, kedua saling melihat beberapa saat, jantung Winter rasanya seperti melompat, ia takut Azelia juga mendengarnya. Tanpa ia tahu bahwa sang istri juga mengalami hal yang sama, seketika Azelia tersadar.
"A-ada apa" tanya Azelia yang berusaha menutupi kegugupannya, bukannya langsung menjawab Winter malah menatap mata sang istri, entah berapa lama, ia masih menatap mata coklat cantik milik istrinya itu. Azelia yang mendapat perlakuan seperti itupun seketika pipinya memerah, jantungnya berdebar-debar. Setelah beberapa saat barulah Winter mengeluarkan suara.
"Maafkan aku" ucap Winter dengan nada bergetar, matanya berkaca-kaca, Azelia yang melihat itupun seketika bingung, kenapa sang suami tiba-tiba meminta maaf kepadanya. Winter langsung memeluk Azelia dengan kaku Azelia balik membalas pelukan suaminya. Tiba-tiba ia merasakan punggung nya hangat, ternyata sang suami menangis, entah apa yang membuat sang suami menangis.
Azelia mengusap lembut punggung dan rambut Winter secara bergantian, setelah beberapa saat barulah tangisan Winter berhenti, kemudian ia melepaskan pelukannya, wajahnya sembab, Azelia menangkup wajah Winter dan mengusap lembut air mata sang suami.
"Kenapa kau tiba-tiba menangis" ucap Azelia.
"Maafkan aku jika selama ini aku telah jahat kepadamu, rasanya aku menjadi lelaki paling jahat didunia ini" ucap Winter yang masih dengan nada bergetar menahan tangisannya, Azelia tertegun mendengar ucapan Winter, ia tak mengira bahwa itulah alasan sang suami menangis.
"Kau tak pernah jahat, akulah yang jahat telah menelantarkan kalian, selama ini aku tidak mengurusi suami dan anak-anakku dan, dan aku dulu juga mempercayai bahwa kau mengkhianatiku" ucap Azelia, sekarang giliran Azelia yang menangis, ia tak mengeluarkan suara tetapi air matanya tetap mengalir, Winter mengusap lembut wajah cantik itu untuk menghapus air mata istrinya. Winter terkejut mendengar ucapan terakhir sang istri, ternyata istrinya itu sudah mengetahui semuanya, apa karena itu istrinya berubah.
"K-kau sudah mengetahui semuanya" ucap Winter terkejut, rasanya sangat bahagia.
"Iya, a-aku tidak sengaja mendengar ucapan Bianca waktu itu, rasanya saat itu hancur, ternyata orang yang aku percayai mengkhianatiku" ucap Azelia mencari alasan, tidak mungkin jika Azelia mengatakan bahwa ia telah mengalami kehidupan kedua, dan dibunuh oleh sahabat sekaligus selingkuhan suaminya.
"Sekali lagi maafkan aku jika dulu aku pernah bertindak kasar kepadamu, bahkan aku telah memaksamu untuk mengandung untuk kepentingan ku sendiri" ucap Winter bergetar kemudian memeluk Azelia lagi.
"Tidak apa-apa, aku tidak menyesali semuanya, jika bukan karena itu, kita tidak mungkin memiliki Leandro dan Alvaro bukan" ucap Azelia berusaha menenangkan, walaupun ia telah mengalami kehidupan kedua, tetapi rasanya trauma itu masih ada, Azelia berusaha untuk menghapus semua kenangan kenangan buruk di masa lalu.
Setelah itu mereka sama-sama terdiam setelah semuanya isi hati mereka terluapkan, tak berapa lama bibir mereka menyatu, entah siapa yang memulainya dahulu, ciuman itu mewakili kerinduan mereka satu sama lain, rasanya semua masalah mereka hilang.
"Aku mencintaimu" ucap Winter setelah ciuman mereka terlepas, Azelia terkejut, rasanya senang sekali, ternyata suaminya masih mencintainya setelah apa yang ia lakukan selama ini, ia rasanya ingin menangis, tetapi tangisan kebahagiaan.
"A-aku juga mencintaimu" balas Azelia, kemudian bibir mereka menyatu, meluapkan semua perasaan cinta mereka, setelah itu mereka saling berpelukan melepas rindu satu sama lain.
"Aku sangat merindukanmu" ucap Winter kemudian lagi dan lagi melumat bibir merah sang istri, hingga akhirnya mereka berakhir berhubungan selayaknya hubungan suami istri, rasanya semua trauma Azelia hilang, entah apa penyebabnya.
√
Halo semuanya, makasih ya karena udah baca dan dukung cerita aku, menurut kalian gimana, bagusan mereka baikan atau tetap kayak orang asing seperti duluu, sebentar lagi bakalan menuju konflik nihh😍, ga sabar banget rasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry, I'm Back
FantasyAzelia, wanita yang mati mengenaskan, ia dibunuh oleh selingkuhan suaminya. Saat saat terakhir bukannya tatapan sedih yang diberikan suami dan anak anaknya, mereka malah menatap dingin Azelia. Kemudian pergi meninggalkan Azelia sendirian dengan rasa...
