Sambil memajukan bidak catur di depan nya, wanita berpenampilan seperti noni belanda itu terkekeh.
"Skak-mat."
"Ahaha."
Penantian nya selama ini akhirnya terpuaskan, dendam yang selama ini ia pendam mulai terasa menyenangkan.
Pria itu mulai merasakan karma atas perbuatan nya.
Manusia tidak akan bisa merasakan sakitnya manusia lain jika tak merasakan nya sendiri.
Sometimes you have to do something, even it's bad.
"Bagus, untuk sekarang kamu tidak perlu melakukan apapun, saya puas dengan semuanya, thank you." Ucap wanita itu pada orang di depan nya, yang menjadi lawan main nya dalam bermain catur.
"Tapi, bukan kah terlalu berlebihan jika sampai mengorbankan anak kecil?."
"Gak ada kata berlebihan jika itu semua untuk seorang Winter."
"I hate him so much, even i can't die jika dia belum menderita."
Rasanya dunia terlalu jahat untuk dirinya yang tak terbiasa berjalan sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, hidup harus terus berjalan.
Entah apa yang ia perbuat di kehidupan sebelumnya, yang berdampak di kehidupan nya sekarang.
Atau kah memang tuhan yang tak adil dan pilih kasih padanya?.
Ini semua adalah luka, luka yang tak akan pernah hilang, luka yang akan selalu ia membekas di hati kecil nya.
☆
"Lu-lula?." Suara parau yang bergetar itu tak mampu berkata apa-apa, bahkan kakinya rasanya tak sanggup lagi berdiri.
Leandro menutup matanya sejenak, sambil menekan dadanya kuat melihat sang adik yang saat ini berlumuran darah.
Dunia terlalu sempit jika diremehkan, ia hanya pergi ke belakang bagasi sebentar, tetapi keadaan sudah berubah.
Sial sial sial.
"Fuck fuck fuck, what are fucking you doing." Umpatan demi umpatan keluar dari mulut seseorang yang bahkan dikenal jarang bicara.
Meskipun begitu, dengan badan bergetar ia tetap berjalan ke arah sang adik, seseorang yang masuk beberapa tahun yang lalu di hidup nya.
Terlalu singkat rasanya jika kisah keluarga mereka berakhir disini. Dengan paksaan Leandro berusaha mengendong sang adik ke dalam rumah sakit dengan berlari kencang, sambil berusaha melawan badan nya yang saat ini bergetar dan dada yang sesak.
Leandro meninju ninju dadanya yang terasa sakit dan sesak dengan kuat, air matanya tak berhenti mengalir juga meski sudah beberapa menit, termasuk badan nya yang rasanya sulit sekali di pertahankan untuk berdiri.
Itu kambuh lagi, Leandro pikir semua nya sudah selesai, Leandro pikir masalalu nya telah selesai, ia pikir ia sudah membuka lembaran baru di hidup nya, ternyata semua nya masih sama.
Kata all is over yang ia tanam di dalam hati dan pikiran nya itu tidak ada.
Leandro berusaha mengambil nafas dalam-dalam.
Leandro tak ingin kedua kalinya ini semua terjadi, tak ingin kehilangan orang yang disayangi nya untuk yang kedua kali.
Dunia teramat kejam untuk nya dan keluarga nya.
Sepanjang perjalanan, beberapa orang yang masih terjaga memperhatikan nya, sayangnya Leandro tak peduli, benar-benar tak peduli.
Saat telah tiba di depan IGD, Leandro langsung meneriaki sang dokter yang saat ini terlihat sedang melakukan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry, I'm Back
FantasyAzelia, wanita yang mati mengenaskan, ia dibunuh oleh selingkuhan suaminya. Saat saat terakhir bukannya tatapan sedih yang diberikan suami dan anak anaknya, mereka malah menatap dingin Azelia. Kemudian pergi meninggalkan Azelia sendirian dengan rasa...
