Clek.
Pintu terbuka, Leandro yang baru pulang dari rumah teman nya itu langsung mengerutkan keningnya, mereka rumah terlalu sepi.
Padahal jam baru menunjukkan pukul 11 malam, memang waktu untuk tidur sebenarnya, tetapi biasanya di jam ini, sang Jeffran dan Alvaro masih bermain ps di ruang keluarga.
"Mommy?, Bang?, Dek?" Leandro menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, benar-benar sepi.
Leandro berjalan ke atas ke kamar Jeffran, sayangnya saat membuka pintu tak ada seorang pun.
Kemudian dia beralih ke kamar sebelah, kamar Alvaro.
Ah, untung alvaro ada di sama. Alvaro yang mendengar suara pintu terbuka langsung menegakkan kepalanya. Alvaro langsung tersenyum lebar saat melihat pelaku yang membuka pintu.
"Kenapa?" Tanya Leandro dengan kening yang berkerut karena heran, bibir adiknya itu memang tersenyum, tetapi nampak bekas tangisan di mata Alvaro.
"Lo pasti gak baca wa yang gue kirim kan?, kebiasaan banget." Ucap Alvaro sambil memuta bola matanya malas.
"Kenapa?."
"Mommy ngelahirin."
Mata Leandro langsung terbuka lebar karena terkejut.
"Serius?." Tanya Leandro sambil mendekat ke arah Alvaro.
"Gak liat apa gue lagi nyusun baju bayi gini ke tas, masih di tanya." Alvaro tak tahu harus gemas, menangis atau malah marah pada sang kakak yang kebiasaan tidak membaca keadaan sekitar.
"Trus apa, ayo ke rumah sakit." Ajak Leandro.
"Bang Jeff nyuruh di rumah dulu, besok pagi aja ke rumah sakit, sekalian sama Lula." Jelas Alvaro.
Leandro mengangguk-ngangguk mengerti dan kemudian keluar dari kamar Alvaro dan menuju kamar nya sendiri.
Leandro membersihkan dirinya saat telah tiba di kamar.
20 menit berlalu, Leandro telah selesai dengan kegiatan mandinya. Ia naik ke atas tempat tidur.
Leandro menutup matanya, berusaha untuk tidur agar pagi cepat tiba, tak sabar untuk mengunjungi sang mommy.
Sayangnya setengah jam telah berlalu, tetapi ia tetap tak bisa tidur.
Leandro menghela nafas, ia kemudian memilih untuk duduk dan mengambil handphone nya yang ada brankas samping tempat tidur.
Benar, baru saja ia membuka ponsel dan menghidupkan wifi, segala macam rentetan pesan dan panggilan tak terjaga dan notifikasi yang lain nya muncul.
Inilah yang membuat nya malas membuka handphone, walau sepertinya Leandro tak akan melakukan ini lagi, takut jika kejadian serupa terjadi, dia malah tak mendapatkan kabar apapun.
Leandro menghela nafas, jam sudah menunjukkan pukul 1.30 tapi matanya masih terbuka lebar.
Leandro meletakkan handphone nya dan menatap langit-langit kamar, pikiran nya seolah olah seperti benang kusut.
Masalah datang satu demi satu, benar-benar membuat sakit kepala, rasanya Leandro akan gila.
Ditambah sekarang ia khawatir dengan keadaan sang mommy.
Akhirnya Leandro memilih untuk kembali di posisi tidur dan menutup matanya meski tak merasakan kantuk sedikitpun
Tanpa ia sadari, satu jam kemudian kantuk mulai menyerang.
tok tok tok
tok tok tok
tok tok tok
Sudah satu menit tetapi gedoran pintu itu masih belum juga berhenti. Leandro menghela nafas kasar, siapa yang menggedor-gedor pintu pada pukul tiga malam seperti ini?.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry, I'm Back
FantasíaAzelia, wanita yang mati mengenaskan, ia dibunuh oleh selingkuhan suaminya. Saat saat terakhir bukannya tatapan sedih yang diberikan suami dan anak anaknya, mereka malah menatap dingin Azelia. Kemudian pergi meninggalkan Azelia sendirian dengan rasa...
