2. mulai berjuang

75.6K 3.9K 11
                                        

Hari sudah menunjukkan pukul 16.00, Azelia yakin sebentar lagi suami serta anak-anaknya akan pulang. Lalu tak lama terdengar suara mobil, ia yakin itu mobil suami dan anak-anaknya. Kemudian Azelia pergi ke depan untuk menyambut mereka.

Saat membuka pintu, Winter serta yang lainnya dikejutkan oleh perempuan didepan mereka. Mereka terkejut bagaimana bisa perempuan itu ada disini, bukankah ia belum bangun sejak 3 hari yang lalu, dan setau mereka perempuan didepan ini sama sekali tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan, dan sangat mustahil sekali saat wanita itu menyambut dengan senyuman di wajahnya, Winter serta anak-anaknya yakin ini hanyalah sandiwara Azelia.

"Apakah hari ini menyenangkan" ucap Azelia berusaha tidak gugup dan, mengambil tas kerja sang suami. Tetapi Winter malah mengabaikan Azelia dan pergi begitu saja diikuti oleh anak-anak.

Rasanya sakit, sangatlah sakit, apa ini yang dirasakan oleh suami dan anak-anak nya dahulu, saat menerima penolakan darinya. Sungguh ia sangat menyesal sekarang, apakah ini bisa di perbaiki.

Ia masih ingat saat ia menolak anak-anaknya, saat mereka ingin liburan bersama bukannya memenuhi keinginan sang anak, ia malah membentak mereka.

Saat itu umur Alvaro masih 13 tahun, Leandro 14 tahun dan Jeffran berumur 16 tahun, tetapi saat itu Jeffran tidak lagi mengharapkan kasih sayangnya, hanya Leandro dan Alvaro yang masih haus akan kasih sayangnya.

Saat itu Azelia baru saja pulang dari butik yang ia dirikan sendiri, usaha butik itu lumayan sukses dan terkenal.

"Mommy mommy, bisakah kita berbicara sebentar" ucap Leandro kecil, ia ingin mengajak mommy nya berlibur, ia juga ingin, karena saat ini adalah hari libur, teman-temannya menceritakan bahwa mereka liburan keluarga, sedangkan Leandro ia hanya diam di rumah, karena mom dan dad nya sangatlah sibuk.

"Apa yang ingin kamu bicarakan" ucap Azelia ketus.

"Le ingin mengajak mom liburan" ucap Leandro kecil pelan.

"Iya mom, teman-temanku bercerita kalau liburan mereka sangat menyenangkan" sambung Alvaro.

"Aku tidak mau" ucap Azelia lagi dan lagi bernada ketus.

"T-tapi mom, aku ingin liburan" ucap Leandro pelan, menahan tangisannya.

"Pergi saja sendiri, kenapa mengajak ku" mendengar jawaban sang ibu membuat tangisan Leandro seketika pecah.

"Dasar, aku lelah sialan, kamu membuat aku pusing saja, sana beranjak dari hadapanku" bentak Azelia. Mendengar bentakan itu, malahan tangisan Leandro bertambah kencang. Karena tidak tahan Azelia pun mencubit lengan Leandro kecil hingga membiru, perlakuan itupun seketika membuat tangis berhenti.

"Astaga, bisa-bisanya aku dulu seperti itu, hiks hiks maafkan mommy, mommy berjanji akan langsung meng iyakan semua permintaanmu, apalagi jika kau mengajak mom liburan lagi" sesal Azelia, air mata terus keluar dari netra coklatnya.

Tok tok tok

Mendengar ketukan di pintu kamarnya, Azalea segera menghapus air matanya dan berjalan ke wastafel agar wajahnya tidak seperti habis menangis.

Saat membuka pintu ternyata dia adalah seorang pelayan, Azelia memberikan senyuman manisnya, seketika pelayan itupun terkejut, dimana raut datar dan ketus nyonya nya. Mendengar ucapan Azelia seketika lamunan pelayan itu terhenti.

"Ada perlu apa kamu kesini?" tanya Azelia serak, suaranya sedikit serak karena menangis dan berteriak akan penyesalan.

"Nyonya, se-sebentar lagi makan malam akan dimulai" ucap pelayan itu menunduk.

"Baiklah, terimakasih, aku akan segera kebawah" lagi dan lagi pelayan itupun terkejut dan kemudian berpamitan kepada Azelia.

"Aku harus menebus semua kesalahanku dimasa lalu, aku harus memperbaiki hubunganku dengan suami dan anak-anak" ucap Azelia dan lagi air matanya jatuh tanpa disuruh.

"Selamat malam semuanya" sapa Azelia dengan senyum tulusnya, tetapi bagi mereka itu hanyalah senyum palsu, mereka sudah muak dengan drama wanita ini.

Melihat sang suami akan mengambil nasi, Azalea berinisiatif untuk membantu sang suami.

"Sini aku bantu" ucap Azelia sambil mengambil alih sendok nasi yang ada di tangan Winter, Azelia tidak menghiraukan tatapan bingung suami dan anak-anaknya, termasuk para pembantu mereka.

Setelah mengambil kan nasi untuk Winter, Azelia lanjut mengambilkan nasi untuk Jeffran, Leandro, dan terakhir Alvaro. Kemudian menyajikan lauk pauk yang mereka sukai, Azelia mengetahui, karena ia selalu memperhatikan mereka tanpa mereka sadari.

Mereka terkejut mengapa wanita ini tau makanan kesukaan mereka masing-masing, ini sangat mencurigakan, bagaimana bisa dia berubah hanya dalam tiga hari, ini sangatlah membingungkan, kemudian mereka melanjutkan makan malam.

Suasana pun menjadi sedikit canggung, sepertinya hanya Azelia yang merasa canggung, suami dan anak-anaknya terlihat biasa saja, kemudian Azelia memilih membuka pembicaraan saat semua makanan telah selesai.

"Ekhm, bolehkah Aku berbicara" ucap Azelia agak ragu.

"Jangan membuat drama lagi Zeli" ucap Winter dingin.

"T-tidak, aku benar-benar ingin berbicara dengan kalian" ucap Azelia meyakinkan.

"Bicaralah" mendengar ucapan Winter, Azelia pun seketika tersenyum, dan menyuruh para pelayan pergi meninggalkan mereka, sekarang hanya mereka berlima di meja makan.

"A-aku minta maaf" ucap Azelia serak, mereka semua terkejut, selama ini baru kali ini wanita ini meminta maaf.

"Jangan membuat drama lagi Azelia" ucap Winter penuh penekanan. Mendengar ucapan sang suami, perlahan air mata Azelia mengalir.

Melihat Azelia menangis pun mereka tidak ada rasa iba, mereka yakin bahwa perempuan ini hanyalah drama, entah apa tujuannya, karena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan Winter pun pergi dari meja makan tersebut meninggalkan Azelia, yang diikuti oleh anak-anak.

Melihat itu air mata Azelia semakin berlomba lomba untuk keluar, apakah mereka sebenci ini dengan Azelia.

Jangan lupa vote dan komen yaaaa, luvyuuu 🥰

Sorry, I'm BackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang