Selamat membaca buat para kesayangan, tolong tinggalkan jekak komentar dan vote sebagai bentuk dukungan ya ^^
Semakin banyak vote semakin rajin update.
***
Hera menatap api yang melahap kayu pembakar, suara yang berasal dari dalam perapian menjadi temannya dikala sunyi. Gadis itu baru saja menyelesaikan makan malam, rebusan lobak dan wartel dengan garam sebagai perasa.
Untuk menghangatkan tubuh, Hera bergelung dalam sprei lusuh yang dijadikannya selimut, tanpa sadar airmatanya kembali mengalir, dia rindu pada almarhum hibinya.
Hera tidak pernah merindukan almarhum ibunya, lebih tepatnya tidak berani merindukan karena berpikir dialah penyebab wanita hebat itu meninggal.
Meski bibinya berulang kali mengatakan kematian ibunya tidak ada sangkut paut dengannya tetap saja Hera yakin dengan pikirannya. Selain semua orang mengatakan begitu, buktinya juga memang seperti itu.
Saat dia lahir ibunya meninggal.
Sekarang dia benar-benar sebatang kara, tidak ada satupun yang mengakui kebenarannya. Harusnya hari itu dialah yang mati, dengan begitu bisa memutus rantai kesialan dalam kehidupan orang lain.
Hal yang paling dibencinya dari sang bibi adalah terlalu menjaganya sepenuh hati. Memperlakukannya dengan sangat baik sampai tidak memikirkan diri sendiri.
Hera sangat ingat hari dimana bibinya jatuh dari kuda yang seharusnya dia tunggangi. Andai dia bisa lebih keras dan tegas pada bibinya maka kesedihan ini tidak akan terjadi.
Camelia adalah gadis yang sangat penyayang dengan sifatnya yang periang, siapapun akan langsung jatuh hati pada gadi cantik baik itu, termasuk seorang Andrian Edmund.
Sedari kecil Camelia sudah bertekad menjaga Hera dengan sepenuh hati, karena mendiang kakak iparnya selalu memperlakukannya seperti anak sendiri.
Dirinya tidak pernah kekurangan kasih sayang sedikitpun, kebahagiaan selalu menyertainya. Maka dari itu saat kakak iparnya meninggal, dia bertekad menjaga Hera sebaik mungkin.
Padahal saat itu dirinya baru berusia lima tahun lebih sedikit.
Hera ingat bagaimana bibinya selalu memarahi pelayan jika kedapatan menghina atau menyakitinya. Selalu pasang badan jika bibi-bibi yang lain menghardik, termasuk pada ayahnya juga.
Bibinya yang satu itu tidak pernah takut pada siapapun, tentu karena dia tahu semua orang menyayanginya dengan sepenuh hati. Bahkan pria yang berstatus ayahnya begitu memanjakan bibinya itu.
Apapun yang diinginkan bibinya selalu didapat dengan mudah, tidak pernah berkata tidak. Beda hal dengan dirinya, meski tidak pernah meminta sekalipun, ayahnya langsung menolak tegas begitu bibi meminta sesuatu atas namanya.
Sejak itu bibi selalu meminta untuk dirinya sendiri meski barang itu akan diberikan padanya. Dan Hera merasa hidupnya sangat beruntung dan baik-baik saja disaat Camelia masih hidup.
"Bi, andai kau tahu hidupku tidak baik-baik saja tanpamu. Masihkah kau mengorbankan diri? Kenapa kau begitu bodoh hari itu? Kau tahu? Bahkan aku tidak diizinkan melihatmu untuk yang terakhir kali disaat kau sadar dan setelah itu pergi, padahal aku tahu kau sangat ingin bertemu aku, bukan? Kau tahu tidak? Aku juga dilarang menangis. Untungnya bibi Mete memelukku, dalam pelukkannya aku menangis untukmu. Dan sampai detik ini, aku tidak tahu dimana makammu."
Airmata Hera mengalir dengan derasnya, kedua tangan menutup mulut agar isakkannya tidak terdengar, kebiasaan yang dilakukan sejak kecil.
Apa yang Hera katakan benar, gadis itu sama sekali tidak tahu dimana makam bibinya. Yang dia tahu dari bibi Mete, bibinya dimakamkan ditanah milik pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Samar
RomanceNovel sedang proses cetak. Kunjungi Ig: Ado_9027 atau Novelis_ado9027 untuk info lebih lanjut. Edisi exlusive, terbatas. Hanya untuk 22 orang tercepat. Terdapat extra bab yang tidak ada di PLATFORM. *** Jangan coba-coba berani plagiat cerita ini kal...
