Walau Tidak Begitu Nikmat

1.2K 62 80
                                        

Hera seperti mayat hidup, duduk di pinggir kasur tanpa data sementara kakinya sedang dibasuh dengan air hangat oleh Mete.

Setelah kejadian semalam Hera tak lagi terlihat seperti manusia yang punya nyawa kecuali napas teraturnya yang berderu. Pria itu melecehkannya dengan kejam - lalu meninggalkannya begitu saja.

"Tidak ada gunanya kau seperti ini, dunia tidak akan berubah." Suara Mete mengintrupsi Hera.

Sedari awal Mete merawatnya tidak pernah sekalipun suaranya terdengar bicara dengan Hera. Mete seperti pelayan pada umumnya yang hanya mengerjakan tugas sesuai perintah tanpa boleh membangun hubungan baik dengan orang yang di rawatnya.

"Bi, kenapa aku sulit sekali mati? Aku ingin menebus semua kesalahanku dengan kematian. Aku sudah siap menerima siksaan neraka atas kesialan yang menyertaiku." Suara Hera datar tanpa rasa.

"Aku tidak minta di lahirkan, lalu kenapa menjadi salahku?" Tanyanya lagi dengan suara lirih nan parau.

Mete tidak mengatakan apapun, selesai membersihkan kaki Hera pelayan itupun bangkit sambil mengangkat baskom berbahan alumunium yang berisi air hangat.

Sekembalinya dari kamar mandi Mete mengambil perlengkapan obat, Hera harus menggunakan salap yang mampu menghilangkan bekas luka.

Tuannya tidak suka melihat bekas luka pada tubuh Hera.

Mete bisa merasakan kegilaan tuannya pada Hera, kegilaan sudah sampai dititik dimana menyiksa Hera adalah kebutuhan hidupnyw. Setiap hari Mete menemukan luka baru pada tubuh Hera.

Seperti sekarang contohnya, sudut bibir Hera luka, begitupun  dengan pergelangan tangan yang memerah cenderung kebiruan. Belum lagi bagian punggung yant terdapat memar dan lebam.

Di bagian lutut dan paha juga ada, Hera mendapat kekerasan fisik dan verbal. Mete yang selama ini mengikuti pertumbuhan Hera sedikit miris melihat luka-luka tersebut.

Hera menatap Mete yang sedang mengolesi telapa kakinya, "kalau aku mati sekarang banyak orang yang akan menjadi korban." Mete menaikkan pandangan, menatap Hera tanpa mengatakan apapun.

"Dia menuduhku memiliki hubungan gelap dengan seorang pria yang pernah berniat menolongku. Karena tuduhan itu dia menekanku. Bi, tidak apa kalau dia menyiksaku berulang kali tapi kenapa melibatkan orang tak bersalah?" Hera sudah sangat putus asa, tidak tahu harus bertanya pada siapa.

"Yang harus kau lakukan sekarang tetap hidup agar mereka yang kau maksud tidak mengalami hal yang sama seperti nona muda." Hera menatap puas Metet kemudian mengangguk kecil dengan susah payah menelan liur.

Dia pikir ... dia pikir Mete memiliki rasa kasihan padanya walau sedikit tapi nyatanya tidak. Betapa bodohnya dia mengatakan semua itu pada mantan pengasuh bibinya.

Mete tidak merundungnya bukan berarti menyukainya, kan? Hera merasa terlalu percaya diri dengan sikap Mete. Kesalah pahaman yang memalukan.

"Maaf," ucap Hera pelan.

Mete membantunya berbaring lalu menyelimutinya sampai batas dada. Gerakkannya terhenti saat Hera mengatakan sesuatu.

"Bi, maaf karena aku salah paham dengan sikapmu. Aku takkan bicara omong kosong lagi." Kemudian Hera berbalik memunggungi Mete yang terpaku dengan posisi setengah membungkuk.

Mete menatap wajah Hera dari samping, tidak mengatakan apapun atas ucapan Hera. Dia menegakkan tubuh lalu berbalik pergi setelah memadamkan lentera.

*
"Dia sudah tidur." Mete menahan Edmund yang mau masuk kedalam kamar Hera. Tepat saat Mete membuka pintu, Edmund bersiap masuk.

SamarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang