Dikediamannya, Edmund menatap langit gelap yang berkabut, tidak ada bintang apalagi bulan. Dan dia tidak pernah menunggu dia benda langit itu untuk di nikmati.
Sambil menyesap brandy pikirannya melayang, tatapannya menuju satu titik yang sudah rata dengan tanah, tempat dimana gadis itu tinggal selama ini.
Setiap kali mengingat gadis itu herani melarikan diri dengan cara melukainya, rahangnya mengeras dengan emosi yang membuncah. Tidak akan dia biarkan gadis itu lepas, tidak sampai menginginkannya mati.
Ya ... mati dengan cara yang paling menyakitkan adalah akhir yang bagus untuk gadis itu. Tidak perduli seberapa bengis rencananya, pada akhirnya gadis itu akan mati dengan cara yang paling diinginkannya.
"Tuan, kereta kuda sudah siap." Lapor Polo yang kehadirannya tidak di hiraukan Edmund.
Menenggak habis brandinya dengan sekali tenggak, pria itu melempar asal gelas sambil berlalu pergi. Sedikitpun tidak menghiraukan Polo yang berdiri dekat ambang pintu.
Malam ini sedikit berbeda, tuannya meminta kereta kuda lengkap dengan lambang kebesaran keluarga. Biasanya kereta kuda itu hanya di gunakan untuk menuju istana tapi tuannya bukan manusia yang akan masuk kedalam istana dimana raja tinggal.
Polo tidak yakin kalau saat ini tuannya akan mendatangi tempat itu untuk .... Untuk?
Mata Polo sedikit membelalak sebelum kembali normal, helaan napas panjangnya mengartikan bahwa tuannya masih semangat mengejar buruannya.
Polo berjalan mendekati jendela untuk menutup tirai, tatapannya jatuh ketitik yang sama dengan Edmund tadi.
'Hidup ataupun mati, aku tak berharap kau kembali' batin Polo dingin.
Beberapa waktu melihat Hera sedikit banyaknya hati pria tua itu tersentuh. Pandangan dan kepercayaannya tentang kutukkan sedikit berkurang tapi tidak berarti dimata tuannya.
Dengan kata lain dia tidak punya daya menolong gadis malang itu. Pantaskah dia disebut malang? Mungkin.
Poli menutup jendela dengan tirai megah berwarna hitam pekat lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tidak ada cahaya yang menerangi, beginilah suasana kastil.
Gelap dan suram.
**
Langkah kaki kecil tanpa alas kaki terus membelah jalanan setapak yang sangat dingin. Wajah cantiknya sangat pucat dengan bibir kering dan pecah-pecah, tatapannya sayu dan tidak berdaya, pemilik langkah dan wajah itu adalah Hera.
Hera tidak tahu apa yang terjadi padanya, bagaimana bisa berada di kediaman pria itu. Pria yang pernah menumpang teruh digubuk yang bukan miliknya.
Dalam tidurnya Hera mendengar semua percakapan yang terjadi tapi matanya enggan terbuka. Sampai dititik dimana dia mendengar pria itu bicara dengan orang yang paling tidak ingin dilihatnya lagi didunia ini.
Tidak hanya didunia tapi juga dialam baka.
Hera tidak sanggup menanggung kutukkan lebih dalam lagi kalau terjadi sesuatu pada pria itu. Demi apapun tidak akan sanggup, nyawanya pun tidak akan bisa menebusnya.
Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu jelas merupakan peringatan dan ancaman. Katakan Hera tidak berpendidikkan tapi gadis itu cukup mahir menilai intonasi dan kata yang terucap, karena hampir seumur hidupnya dia mendapatkan perlakuan dan kalimat seperti itu.
Lintasan kejadian terakhir kali digubuk membuat tubuhnya menggigil. Sosok itu berniat menghancurkan jiwanya dengan merenggut kehormatannya.
Dia tidak akan membiarkannya kecuali dalam keadaan mati. Kesuciannya adalah harta paling berharga yang dia punya, tidak akan pernah diberikannya pada siapapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Samar
RomanceNovel sedang proses cetak. Kunjungi Ig: Ado_9027 atau Novelis_ado9027 untuk info lebih lanjut. Edisi exlusive, terbatas. Hanya untuk 22 orang tercepat. Terdapat extra bab yang tidak ada di PLATFORM. *** Jangan coba-coba berani plagiat cerita ini kal...
