Mungkinkah Aku Sudah Mati Rasa?

628 69 69
                                        

Eliza Nohan gadis riang yang cantik, kesayangan seluruh anggota keluarga. Gadis berusia enam belas tahun itu merupakan anak bungsu tuan Nohan dan istrinya.

Mendengarnya meneriakkan nama Zavion, orangtua dan adik yang satunya segera keluar. Mereka tersenyum bahagia melihat calon pewaris kembali pulang dari tempat yang jauh guna mengembangkan bisnis.

"Suaramu sangat nyaring, aku yakin tidur siang Puby terganggu." Puby nama anjing kesayangan keluarga Nohan. Anjing pemburu yang malas, lebih suka tidur meringkuk didalam kandang daripada menggerakkan otot-ototnya.

Keluarga ragu kalau anjing itu anjing pemburu seperti anjing sejenisnya. Tapi walau begitu semua menyayanginya tanpa terkecuali, semalas apapun Puby akan tetap mendapat jatah makan sesuai dengan porsinya.

Kepala pelayan dan pekerja lainnya sering kali memarahi Puby karena kasih sayang sang tuan dan keluarganya. Bahkan ada yang rela menggantikan posisi Puby, tapi meski begitu mereka juga menyayanginya.

Puby yang beruntung.

"Dan aku yakin saat melihatmu dia akan berlari sekencang mungkin untuk menghambur kedalam pelukkannu. Puby sangat menyayangimu, Zav." Eliza melerai pelukkan lalu melihat kakaknya penuh tanya, "tidak ada oleh-oleh?"

"Ohhh sayang, aku tidak pulang dalam keadaan santai. Aku pulang karena urusan mendesak dan harus kembali dua hari lagi."

"Apa yang membuatmu pulang tanpa pemberitahuan? Ibu belum menyiapkan apapun untuk menyambutmu. Emy tidak menikah dalam waktu dekat." Emy adik Zavion yang seusia Hera, sifatnya kebalikan Eliza.

Gadis itu sangat pendiam tapi memiliki sifat lembut dan penyayang, Zavion versi wanita.

Zavion menyambut pelukkan ibunya lalu berkata, "belum waktunya Emy menikah. Aku belum menemukan pria yang pantas untuknya."

"Kau tidak bisa menahannya karena tahun ini debut pertamanya. Banyak gantleman yang akan melamarnya. Kau harus menyiapkan mahar yang besar untuknya, mengerti?"

Nyonya Nohan melanjutkan, "dia bukan kau yang bisa menikah kapanpun kau mau. Sekarang ayo masuk, ayahmu sudah menunggu." Tuan Nohan berdiri didepan pintu dengan tatapan penuh tanya.

Zavion tidak bisa menutupi apapun dari ayahnya, dan memang sebaiknya pria itu tahu apa yang dia lakukan saat ini didesanya. Hera harus ada pelindung selama dia tidak berada disini.

"Liza, sebaiknya kau ikut aku. Jangan menempel pada Zavi karena sepertinya dia harus bicara serius pada ayah dan ibu."

Zavion berterima kasih pada Emy karena memahaminya. Menatap sayang Eliza yang cemberut, dia berkata, "aku akan menemuimu setelah bicara pada ayah dan ibu." Eliza mengangguk dengan senyum yang menawan.

***
Tuan Nohan yang merupakan seorang bangsawan ternama di Cadbury, dibuat terkejut dengan pengakuan putra kebanggaannya, tidak ada yang bisa dikatakannya saat ini begitupun dengan istrinya.

"Aku harap kalian bisa membantuku menjaganya."

"Kau meminta ini karena tahu Andrian Edmund akan datang untuk mencari keberadaan istrinya."

"Dia tidak pernah menganggap gadis itu istrinya." Zavion ingat apa yang pria itu tanyakan padanya, "gadis itu tidak ubah seperti hewan peliharaan."

"Walaupun begitu dia tetap istrinya. Kau salah membawa gadis itu kemari meski niatmu tulus. Andrian Edmund bukan manusia yang mudah di hadapi. Tidak ada yang berani mencari masalah dengannya ..."

"Aku sangat berharap padamu." Potong Zavion. Tuan Nohan menghela napas gusar.

Nyonya Nohan mengelus lembut punggung putranya, "ibu bangga kau menjadi pria yang bertanggung jawab. Menolong memang sudah menjadi keharusan, tidak perduli siapa, kau memang harus menolongnya. Tenanglah, ibu akan menjaganya untukmu, tapi ibu minta kau bisa menjaga diri, jangan sampai terluka karena menolongnya."

Wanita paruh baya itu menatap suaminya, "tidak ada manusia yang terlahir dengan kutukkan. Dari apa yang Zavi katakan, gadis itu sangat butuh bantuan sekarang. Kita hanya harus menutupi kebenaran dari pria yang kau risaukan itu. Tidak perlu cemas, meskipun curiga dia tidak mungkin meragukan keteranganmu."

Tuan Nohan menghela napas panjang, raut kekhawatiran tidak bisa disembunyikan tapi benar apa yang istrinya katakan, tidak ada manusia yang terlahir dengan kutukkan.

Jujur dia juga iba dengan gadis yang entah siapa nama dan bagaimana rupanya. Tapi yang jelas putranya telah jatuh hati dengan gadis itu, sangat mirip dengannya.

"Baiklah, kalau kau sudah memutuskannya." Tuan Nohan menatap putranya, "selama tidak mengancam keselamatanmu dan yang lain, ayah akan membantu."

"Terima kasih." Zavion lega bukan main.

"Kenapa kau membawanya kesana?"

"Norman tidak ingin kalian mendapat masalah. Disana jauh lebih aman, ibu hanya perlu sesekali melihatnya. Dia gadis yang sangat tertutup. Seumur hidup menyandang status pembawa sial membuat kepribadiannya sulit di dekati. Aku tidak ingin dia tidak nyaman dengan kehangatan keluarga kita, karena dia tidak bisa membalasnya."

"Malangnya."

"Sangat malang, kalau inu bertemu dengannya, aku jamin ibu langsung jatuh hati. Dia gadis yang cantik, wajahnya membuat siapa saja langsung ingin melindunginya."

"Andai dia bukan istri orang, ibu akan menikahkannya denganmu. Tidak perduli bagaimana penilaian orang, selama kau menyukainya, ibu akan senang hati menerimanya."

Zavion tersenyum dengan sedikit rona pipi diwajahnya.

"Sekarang kau beristirahatlah, perjalananmu pasti sangat melelahkan." Zavion mengangguk lalu bangkit dan pergi meninggalkan ruangan ayahnya.

"Kita tidak bisa membantunya, Andrian Edmund memiliki hubungan erat dengan kekerajaan. Raja akan menuruti keinginannya selama di akui sebagai saudara oleh pria itu, dia bukan lawan kita," ucap tuan Nohan gusar.

"Tapi Zavi membutuhkan bantuan kita, aku tidak akan mengecewakannya." Tegas nyonya Nohan.

Dia melanjutkan, "sejak kapan kau takut pada raja? Kau Nohan yang tidak takut pada apapun, dan raja tahu kau tidak akan mencampuri urusan yang bukan urusanmu. Kalaupun pria itu curiga, dia bisa apa? Kecuali menangkap basah istrinya, dia tidak bisa menuduh kita secara terang-terangan."

"Emy akan debut, kalau masalah ini di ketahui banyak orang, reputasinya hancur. Pelamar akan mundur, dan selamanya dia akan kesulitan mendapat suami."

Nyonya Nohan terdiam.

Sementara itu ditempat persembunyiannya Hera duduk termangu didalam kamar, hanya ditemani cahaya lilin kecil. Dia sudah biasa dengan kegelapan, tidak ada rasa takut sedikitpun.

Jari telunjuknya terbenam dalam lelehan lilin, tidak lagi merasakan sakit karena jiwanya jauh lebih sakit saat ini. Sebelah tangannya menggenggam cincin pemberian Zavion, janji sepihak yang pria itu ucapkan dan dia harus menepatinya.

Sungguh ironi.

Hera menghargai pertolongan Zavion tapi sadar kalau pertolongan ini akan membawa petaka. Sosok itu tidak akan berhenti mengejarnya sebelum melihat jasadnya.

Dengan kata lain, pria yang menolongnya dalam bahaya. Apa yang harus dilakukannya?

Tatapan Hera jatuh pada telapak kakinya yang meninggalkan bekas mengerikan. Hari terakhir ditempat itu dia mendapat perlakuan yang mengerikan.

Bacil yang melukai telapak kakinya dengan besi panas dan sosok itu yang ingin menodainya. Sangat luar biasa mengerikan.

Hera meneteskan cairan lilin keatas telapak kakinya, "kenapa tidak sakit?" Gumamnya.

'Mungkinkah aku sudah mati rasa?' Batinnya dengan tatapan pias, tidak bergairah sama sekali.

SamarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang