Tidak Pantas Mendapat Cinta

606 68 72
                                        

Zavion terkejut saat melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang. Dia melirik kearah Norman yang mengedik acuh, dengan langkah dia cepat masuk kedalam ruang tamu.

"Dengan siapa kau datang kemari, Emy?!" Tanyanya tegas.

"Kau pergi tanpa sepengetahuan ayah dan ibu?" Tanyanya lagi kali ini dengan nada suara tidak sabaran.

"Aku datang sendiri dengan menyewa kereta kuda, sampai di perbatasan lady Scott memberiku tumpangan, aku juga menginap dirumah singgah miliknya, tidak terjadi apapun padaku." Jelas Emy.

"Lady Scott?" Zavion mengernyit. Dia mengenal keluarga itu tapi tidak pernah bertegur sapa.

Emy kembali berkata, "ya, dan aku pergi tanpa sepengetahuan mereka. Aku sudah meninggalkan surat dan menuliskan dengan jelas kemana tujuanku. Zavi, aku ..."

"Kau keterlaluan, Emy! Seorang lady tidak boleh kemanapun tanpa seorang pendamping. Sebentar lagi kau debut kalau pemberitaan buruk tentangmu menyebar, kau tidak hanya menyusahkan diri sendiri tapi juga keluarga kita."

"Aku tidak mau menikah dengan siapapun saat ini," ucap gadis itu yakin.

Norman meninggalkan kakak beradik itu karena masalah ini tidak ada hubungan dengannya. Tapi dia cukup terkejut dengan keberanian Emy yang selama ini tumbuh besar didalam rumah dengan pengawasan ketat dua puluh empat jam.

Kalau Eliza yang melakukannya mungkin dia masih percaya tapi ini Emy. Demi apapun saat melihat Emy berdiri didepan pintu rumah, dia tidak ingin mempercayai apa yang dilihatnya tapi setelah gadis itu menyapanya baru dia sadar kalau itu memanglah Emy.

Emy melepas jubah dan melipatnya dengan anggun kemudian meletakkannya diatas kursi, sebelah tempatnya duduk.

Zavion masih menatap tidak percaya adiknya, seorang Emy bersikap diluar etiket yang begitu di junjungnya tinggi, sungguh luar biasa. Sorot mata Emy menegaskan keyakinan diri yang tak tergoyahkan.

"Jaga ucapanmu, dimana sikap seorang lady yang selama ini kau junjung tinggi?"

"Aku tidak tahu yang jelas saat ini aku butuh penjelasan darimu." Gantian kini Emy yang menatapnya penuh tuntutan.

"Kau sudah bertemu dengan your grace? Dia mengatakan sesuatu tidak?" Ada rasa penasaran tinggi dalam pertanyaan itu.

"Mengatakan apa? Jangan bilang kau kemari ..."

"Terakhir kali aku bicara dengannya dia membuatku penasaran. Saat aku menanyakan pada ayah dan ibu, bukannya mendapat jawaban aku justru di hukum menyalin kembali aturan seorang lady."

Zavion menyugar rambut setelah itu melepas mantel dan melemparnya asal keatas meja. Dia duduk dengan menyandarkan setengah tubuhnya dikursi.

"Besok Norman akan mengantarmu pulang, aku sertakan surat agar ayah dan ibu tidak menghukummu." Kepala Zavion hampir meledak karena nyeri yang teramat sangat.

"Aku tidak mau pulang sebelum mendapat jawaban atas ucapannya."

"Kau tidak perlu memikirkannya, apapun yang dikatakannya sama sekali tidak bermakna. Seorang duke juga bisa mengatakan omong kosong, kau masih terlalu muda untuk memahami itu, Emy."

"Dia mengatakan kalau keluarga kita gemar pada milik orang lain. Kalimat itu bukan omong kosong, Zav! Tidak mungkin dia berkata sembarangan apalagi untuk keluarga kita! Jelas itu penghinaan, benarkan? Ayah dan ibu juga tidak terlihat terkejut saat aku mengatakan ini."

Zavion tercenung sesaat lalu kembali berkata, "keputusanku sudah bulat. Besok Norman akan mengantarmu pulang, sekarang istirahatlah. Karena tidak ada pengurus rumah yang tinggal untuk menyiapkan kamarmu, maka kau bisa tempati kamar tamu."

SamarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang