"Apa yang membuatmu punya nyali sebesar ini, Emy? Kau bertanya dengan nada menuduh seolah kami telah melakukan kejahatan besar padamu."
Emy menggigit bibirnya karena merasa bersalah atas tindakannya yang kurang sopan. Yang ayahnya katakan benar, sikapnya sangat tidak pantas, dimana etika seorang lady yang selama ini dia agungkan?
"Maaf, tidak seharusnya aku bersikap seperti ini tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Pertanyaan itu mengganggu pikiranku setelah terlibat perbincangan yang cukup rumit dengan your grace kemarin."
Tuan Nohan melirik kearah istrinya yang tampak sedikit gelisah, alisnya mengernyit karena dapat menebak telah terjadi sesuatu dengan gadis itu.
Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menghela napas dalam. Dia tidak bisa menangkup dunia dalam pangkuannya, harus ada yang direlakan.
Tuan Nohan kembali menatap putrinya, "pembicaraan apa yang membuatmu tidak lagi memikirkan sopan santun dan etiket, Nak?" Suaranya melembut. Emy semakin merasa bersalah.
"Your grace salah paham dengan sikapku, di akhir pembicaraan dia mengatakan kalau keluarga kita sepertinya terbiasa tertarik dengan milik orang lain. Ucapannya itu sangat menggangguku, tadi aku memberanikan diri mendatanginya untuk bertanya apa maksud dari ucapannya, tapi dia justru mengatakan kalau kalian dan Zavi punya jawaban yang lebih baik darinya, aku harus bertanya langsung pada kalian."
Tuan Nohan menghela napas panjang, nyonya Nohan sedikit tersentak mendengar itu. Reaksi orangtuanya membuat Emy semakin curiga.
Dia berbohong dibeberapa kata seperti Edmund yang salah mengartikan sikapnya serta pembicaraan yang berakhir rumit, tidak seperti itu yang sebenarnya.
Emy mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya, "aku tertarik dengan your grace, ayah." Tuan dan nyonya Nohan hampir tersedak liurnya sendiri mendengar itu.
Beberap detik suasana ruang kerja menjadi hening setelah nyonya Nohan tersadar segera dia mengunci pintu.
"Kau tidak boleh mengatakan itu." Nyonya Nohan memelankan suaranya sambil duduk tepat di sebelah putrinya.
Dia melanjutkan, "kau akan segera debut, jangan sampai mempermalukan diri sendiri. Ibu mengerti kau mengaguminya tapi tidak boleh secara terang-terangan mengakuinya. Seorang lady tidak boleh menunjukkan sikap seperti ini."
"Aku tahu." Bahu Emy luruh tapi beberapa detik kemudian kembali tegak dan berkata dengan yakin, "tapi ketertarikanku bukan sekedar kekaguman."
Dia menatap ayah dan ibunya bergantian lalu dengan sepenuh hati mengatakan, "aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Selama ini aku mengaguminya secara diam-diam, dan setelah melihatnya langsung rasa itu berubah menjadi cinta."
"Anggap kita tidak pernah membicarakan ini." Putus tuan Nohan tanpa memikirkan perasaan putrinya.
Emy menatap manar ayahnya, "ayah."
"Kau tidak boleh punya perasaan pada suami orang, terlebih dia seorang Duke. Meski dia belum menikah status sosial kita tidak bisa menolong perasaanmu." Nyonya Nohan mencoba menasehati putrinya.
Status sosial mereka hanya bisa menikah sampai gelar marquess, tidak dengan Duke. Karena Nohan hanya seorang earl dimana status sosial itu tidak setara dengan seorang Duke. Lebih tepatnya Nohan tidak mau memiliki hubungan keluarga dengan pria itu.
Emy menatap ayahnya penuh harap, "status bangsawan bukan lagi menjadi soal. Aku pernah mendengar siapapun bisa menikah dengan Duke selama kedua keluarga setuju. Dan lagi your grace memiliki hubungan yang istimewa dengan raja, aku yakin raja akan membantu kalaupun tidak ada jalan untuk kami."
KAMU SEDANG MEMBACA
Samar
RomanceNovel sedang proses cetak. Kunjungi Ig: Ado_9027 atau Novelis_ado9027 untuk info lebih lanjut. Edisi exlusive, terbatas. Hanya untuk 22 orang tercepat. Terdapat extra bab yang tidak ada di PLATFORM. *** Jangan coba-coba berani plagiat cerita ini kal...
