Tanpa Sehelai Benangpun

1.1K 71 82
                                        

"Aku beri waktu untuk menyembuhkan diri, setelah itu jangan sakit lagi. Kita banyak agenda yang harus di jalankan, permainan ini tidak akan menarik kalau pemeran utamanya tidak tetlibat."

Edmund menggenggam kuat tangan Hera, kalau bukan buatan Tuhaan, percayalah tangan mungil Hera pasti remuk. Genggaman itu menjanjikan kesakitan yang teramat sangat.

Dan Hera harus merasakannya.

"Ada pepatah lama yang mengatakan lidah lebih tajam dari pedang dan liur lebih beracun dari bisa. Pedang bisa melukai tanpa harus membunuh, begitupun bisa yang lebih menyiksa, hidup tak mampu mati juga tak bisa."

Edmund mencondongkan tubuhnya, mengikis jarak, tepat didepan bibir Hera berkata, "dan aku mau melihatmu seperti itu pelacur kecil."

Satu kecupan mendarat dibibir Hera yang pucat dan dingin. Suhu tubuh Hera sangat tidak stabil, panas dingin lebih tepatnya. Saat suhu tubuhnya meningga, gadis itu merasakan dingin yang luar biasa, begitupun sebaliknya.

Edmun kembali menegakkan tubuhnya, "tetaplah hidup karena kalau kau berusaha untuk mati, aku akan mengantarkan mereka lebih dulu sebelum maut menjemputmu."

Edmund meninggalkan Hera sendirian setelah itu.

Hera ingin semua ini berakhir tapi mustahil, sebelum pria itu melepasnya, dia akan tetap terikat dalam rantai dendam yang takkan berakhir.

**
"Tuan, sebaiknya panggil dokter. Kondisinya semakin melemah, saat ini dia terus meracau dengan suhu tubuh yang sangat panas. Saya khawatir dia tidak mampu bertahan." Lapor Polo.

Edmund memerintahkan Polo mengawasi Gera, memastikan gadis itu tetap hidup. Saat ini hidup Hera sangat penting untuknya, tidak perduli apa yang telah di perbuatnya, gadis itu harus tetap hidup.

"Hal sepele seperti ini, haruskah kau lapor padaku?"

"Saya tidak berani mengambil keputusan terhadap apapun yang bersangkutan dengan dia. Anda sangat memperhatikannya." Edmund menatap tajam kepala pelayannya ini.

"Mulai sekarang lakukan apapun asal dia hidup. Aku masih ingin beramain dengan nasib dan takdirnya. Dia harus mendapat balasan dari semua kesialan yang dibawanya."

Polo menatap lamat tuannya, tatapan penuh makna yang di sadari Edmund, "kau tidak akan mengerti. Sekarang pergilah." Usir Edmund.

Polo kembali memanggil dokter pribadi keluarga Edmund tapi kali ini kedatangannya di ketahui pria itu. Dokter yang memeriksakan Hera tak begitu terlihat ketus.

"Bagaimana?" Polo bertanya pada dokter tapi tatapannya tak luput dari Hera. Hera tak sadarkan diri tapi racauannya tidak berhenti, gadis itu terus meyebut nama bibinya.

"Kalau malam ini dia bisa melewati masa kritisnya, maka dia selamat kalau tidak, tidak ada harapan. Kau bisa menyiapkan segalanya karena sebelum malam besok dia sudah pasti ..."

"Kalau dia mati, kau dan keluargamu juga akan mati." Dokter langsung berdiri dan membungkuk hormat pada Edmund yang ternyata sedari tadi berdiri di pintu.

Dengan tenangnya dia berjalan masuk, berdiro tepat disamping Hera, "pastikan dia selamat, kalau kau tidak mau kemampuanmu di ragukan banyak orang."

Dokter itu bersimpuh, "maafkan aku your grace. Tapi kondisinya sangat memprihatinkan. Yang sadar hanyalah alam bawah sadarnya, kalau jiwanya menyerah maka tidak ada yang bisa kita lakukan. Fisiknya sudah tidak mampu menahan kondisinya yang begitu lemah."

Edmund menendang dokter tersebut sampai tersungkur, "aku tidak butuh omong kosongmu."

Polo membantu dokter tersebut untuk kembali bersimpuh. Tidak ada yang bisa melawan kehendak tuannya kecuali Tuhan. Dan sepertinya sekarang Tuhan lebih memilih menonton semua kejadian ini.

"Ada satu cara yang mungkin bisa sangat membantu." Dokter itu mencoba tenang walau nyeri pada dada kirinya akibat tendangan Leo.

Bukan tendangannya yang kuat melainkan bootsnya yang takam. Gigi pada boots itu menekan dada kirinya.

"Apa itu?"

"Dia membutuhkan seseorang untuk memelukny, suhu tubuh manusia sangat efektif menurunkan demam. Tapi masalahnya dimana kita bisa menemukan orang yang mau membantunya. Karena metode ini harus di lakukan tanpa sehelai benangpun."

Dokter melanjutkan, "dan kalau orang yang membantunya tidak memiliki stamina yang kuat maka penyakit yang diderita gadis ini bisa menular dengan mudahnya. Dan penyakit yang di tularkan sukar di sembuhkan."

"Ternyata kau benar dokter tidak berguna."

"Maaf tuan tapi itu satu-satunya cara. Yang gadis ini alami sama seperti selir dari raja China yang beberapa waktu lalu datang berkunjung. Dia menceritakan apa yang di alaminya, gejalanya sama persis, dan yang membuatnya selamat adalah metode yang tabib sarankan. Aku sudah mendengarnya langsung dari tabib tersebut dan dia memberi pengajaran pada kami tentang pengobatannya. Pelukkan antar kulit dengan suhu tubuh yang menyatu bisa menetralisir demam."

Edmund mengusir dokter tersebut.

***
"Bagaimana pendapatmu tentang Cadburry?" Tanya mrs. Scott pada Emy. Tamu yang secara khusus di undangnya pada jamuan minum teh.

"Cadburry daerah yang cukup lembab cenderung basah. Sejak kedatanganku, aku tidak pernah melihat matahari bersinar dengan penuh percaya diri karena selalu ada awan tenal yang menyelimutinya."

"Begitulah Cadburry kalau tidak mana mungkin di julukki daerah penyihir?"

"Penyihir?"

"Jangan khawatir, penyihir yang di maksud cukup baik dan berdedikasi untuk daerahnya. Tapi setelah vampir dan peri menyebar para penyihir memilih pergi meninggalkan tempat ini. Tapi karena sidah di tinggali beratus abad lamanya, auranya masih melekat sampai detik ini."

Mrs Scott tertawa lalu melanjutkan, "aku tahu kau tidak akan mempercayai ceritaku yang pastinya kau anggap mitos. Tapi bagi masyarakat desa ini, cerita tersebut fakta."

"Karena itu kalian mempercayai beberapa mitos?"

"Mitos? Mungkin lebih tepatnya ramalam yang sudah atau belum terjadi. Biasanya sebagian manusia menyangkal tentang fakta tersebut walau dalam hatinya merasa apa yang di ramalkan benar adanya."

"Termasuk kelahiran seorang anak yang disertai kesialan?"

"Kau pasti sudah mendengar cerita tentang keluarga Dowson. Saat melahirkan, nyonya Dowson meninggal. Otomatis kelahiran putrinya menjadi penyebab kematiannya, dan menurut ramalan nenek moyang kami, anak yang lahir seperti itu disebut pembawa sial."

"Sangat tidak masuk akal, anak terlahir suci. Dia tidak tahu apapun yang terjadi saat dirinya lagir kedunia. Sangat tidak masuk akal mengutuk bayi tidak berdosa."

"Kau bisa mengatakannya karena tidak mengalaminya langsung. Salah satu alasan kenapa desa ini tidak di sinari matahari dengan baik adalah ..." mrs Scott menatap yakin Emy lalu menjalankan, "karena pernah ada anak sial yang lagir sebelum putri Dowson. Bersamaan dengan kelahirannya, desa ini diterjang badai yang cukup besar. Tidak sedikit yang mati karena kejadian itu."

"Itu hanya kebetulan."

"Tuhan tidak akan mengirim bencana kecuali ada keburukkan yang menyebabkannya."

"Seperti apa gadis itu?"

"Aku tidak tahu pastinya tapi dari kabar burung yang menyebar, wajahnya sangat cantik. Tapi sayang, kecantikannya tidak menjadi berarti karena kutukkan yang menyertainya."

"Sangat cantik?"

"Keturunan Dowson dikenal akan rupanya yang menawan. Keturunan mereka keturunan yang cukup di gilai. Semua orang sepakat kalau keluarga yang memiliki fisik sempurna adalah keluarga  Edmund dan Dowson."

Mrs Scott melanjutkan, "hampir seluruh keluarga Dowson memiliki nasib yang sangat beruntung. Para wanita langsung mendapat calon suami yang sesuai dengan keinginannya dan para pria bebas menjadi penggila wanita kelas satu."

"Kau tahu banyak tentang gadis itu? Maksudku duchess."

"Tidak, aku tidak tertarik."

SamarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang