Saat Sedang Tidak Bersamanya

616 67 55
                                        

Selama perjalanan ke Cadbury Hera dan Zavion tidak banyak bicara. Hera yang tidak tahu harus bagaimana begitupun dengan Zavion yang merasa bersalah karena pembicaraan terakhir kali terlalu keras menurutnya.

Zavion memilih menjadi kusir agar bisa terhindar dari suasana canggung karena Hera takkan membuka suara kalau tidak ditanya lebih dulu.

Gadis itu bahkan tidak mengeluh lapar ataupun haus apalagi membutuhkan pakaian baru karena pakaian lamanya sudah sangat lusuh dan tidak pantas di pakai lagi.

Dengan penuh pengertian Zavion memenuhi semuanya tanpa bertanya pada Hera. Dia yang tidak pernah terlibat dengan wanita kini tampak telaten merawat seorang gadis.

Hatinya senang? Tentu saja.

Dia tidak pernah sesenang ini padahal bahaya didepan sedang menanti. Cepat atau lambat rekan bisnis sekaligus suami Hera akan datang dan bertanya langsung padanya karena kecurigaan tak kunjung terbukti.

Andrian Edmund sebenarnya bukan tandingannya tapi demi gadis ini dia mau terlibat. Kalau bukan cinta apalagi? Tidak ada hal yang bisa membuat manusia berkorban segila itu kecuali karena cinta.

Rasa itu sudah tumbuh dihati Zavion tapi masih samar.

Mungkinkah terlihat jelas? Waktu yang akan menjawab.

Hera masuk kedalam rumah sambil memeluk gumpalan kain yang berisi pakaian lusuh dan kotak benangnya. Hanya Hera yang membawa barang rongsok kemanapun.

Rumah temannya pria yang menolongnya tergolong cukup besar. Mungkin bisa menampung seratus orang diruang utama yang pasti digunakan untuk ruang jamuan.

"Rumah ini peninggalan orangtua Norman. Dulu saat orangtuanya enggan turun kedesa, mereka menerima tamu dan menjamunya dengan baik. Maka itu terdapat ruang jamuan yang lumayan besar. Rumah ini terdapat sepuluh kamar, sudah termasuk kamar pelayan. Aku tahu karena hampir seumur hidupku selalu main disini saat ada waktu." Jelas Zavion sambil membuka topi dan menyangkutkannya ditempat yang telah tersedia.

Rumah ini selalu bersih karena Norman memperkerjakan sepasang suami istri yang datang tiap enam bulan sekali untuk membersihkan rumah ini.

Kenapa enam bulan sekali? Karena dia akan berkunjung hanya disaat musim dingin.

"Aku antar kekamarmu?" Zavion sudah berada di undakan tangga, menatap Hera yang masih berdiri ditengah ruangan.

"Kamar pelayan saja," ucap Hera setelah mengumpulkan keberanian untuk membuka suara.

"Kau bukan pelayan," ucap Zavion. Dia berjalan mendekati Hera, berdiri tepat didepannya. Hera yang menunduk dapat melihat ujung jari Zavion yang terbungkus kaus kaki atau stoking berwarna hitam.

"Kau tamuku, harus di jamu dengan baik. Jangan sekali-kali mengatakan hal yang menyinggung perasaanku."

Hera mundur sambil menggeleng pelan, "aku tidak bisa menerima lebih dari ini, tolong mengerti. Kamar pelayan cukup untukku."

Zavion ingin mengatakan sesuatu tapi di urungkannya. Setelah menghela napas panjang dia mengangguk, "baiklah, ayo aku antarkan kekamar pelayan sesuai keinginanmu." Dia menekan dua kata terakhir agar Hera mengerti kalau dirinya tak suka.

Tapi Hera tidak mengerti, menurutnya Zavion sudah cukup baik karena tidak memaksakan kehendak seperti beberapa waktu lalu.

Kamar pelayan cukup besar untuk Hera yang selama hidupnya tidak pernah dapat kamar yang layak. Dia sangat berterima kasih karena kamar ini sangat nyaman untuk ditinggali.

Sebagai balasan dia akan merawat rumah ini seperti merawat dirinya. Entah sampai kapan persembunyian ini berhasil, sementara waktu Hera tidak akan memikirkannya.

SamarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang