Dia Tidak Akan Bisa Menyentuhmu

705 70 92
                                        

"Aku bilang juga apa!" Norman frustasi saat ini. Tiba-tiba Edmund menyampaikan kabar melalui orang suruhannya ingin datang berkunjung kekediaman Zavion dengan alasan kunjungan mitra kerja.

Norman menatap kesal temannya yang masih duduk terpaku tanpa bereaksi sama sekali, "sekarang bukan saatnya kau membatu seperti ini. Sudah ku duga dia tahu istrinya ada di tanganmu. Sebelum semuanya terlambat lebih baik kau mengaku sekarang!"

"Tidak akan." Suaranya tenang dan rendah, nyaris Norman tidak percaya kalau itu suara temannya.

"Jangan keras kepala! Jelas kau tahu kalau dia mencurigaimu. Dan pegeledahan beberapa waktu lalu hanya alasan untuk sampai kerumah ini! Zavi, jika kau tidak menyayangi nyawamu atau nyawaku, pikirkan nyawa orangtua dan kedua adikmu! Demi Tuhan! Jangan sampai mereka menanggung resiko dari perbuatan gilamu ini."

"Perbuatan gila apa? Menolong orang yang kesusahan kau sebut gila?! Kalau kau sangat ketakutan, pergilah! Aku tidak akan melibatkanmu! Sampai matipun tidak!" Zavion menatap temannya dengan tajam.

"Kau anggap ini tidak gila? Kau membawa istri orang lain kerumah ini! Persetan kalau dia istri dari pria biasa tapi dia bukan pria biasa! DIA PENGUASA ESTAT INI DAN BEBERAPA WILAYAH LAIN DILUAR CADBURY JIKA KAU LUPA!!" teriak Norman frustasi.

"Aku tidak lupa. Tapi aku tidak akan menyerah, dia tidak mungkin menggeledah rumah ini dengan tangannya sendiri. Dan kalaupun dia tahu, aku punya banyak jawaban dan penjelasan atas pertanyaannya. Aku tidak menculik istrinya!"

Norman menjambak rambutnya frustasi, untuk pertama kali dalam hidupnya dia ingin sekali membenturkan kepala Zavi ketembok agar  ingatannya hilang.

Menolong katanya? Menolong apanya? Jelas terlihat kalau temannya itu enggan berpisah dari gadis yang belum membuka matanya sampai saat ini.

Sudah satu minggu.

Norman menghembuskan napas kasar lalu dengan lelah berkata, "aku sudah mengingatkanmu betapa bahayanya ini. Jangan bilang aku tidak setia kawan jika terjadi sesuatu padamu."

Zavion mengangguk paham, tidak mungkin dia melibatkan temannya itu. Untuk ketakutan Norman cukup dia mengerti, apa yang di lakukannya ini memang sangat luar biasa beresiko.

Zavion bangkit lalu masuk kedalam kamar dimana Hera masih terbaring tanpa data, "dua hari lagi dia akan datang kemari. Kalau kau ingin lari, bangunlah. Aku akan membawanu ketempat dimana dia tidak akan bisa menyentuhmu, aku janji."

Tidak ada tanggapan dari gadis yang masih tertidur dengan tenangnya.

Zavion menatapnya cukup lama sebelum meninggalkan kamar tersebut.

***
Polo menyaksikan gubuk tempat yang Hera tinggali beberapa waktu terakhir dilalap habis oleh api. Tuannya memerintahkannya untuk membakar gubuk ini.

Seluruh pelayan bertanya-tanya kemana penghuninya pergi, dibalik rasa ingin tahu itu ada rasa bahagia yang tidak terbilang. Akhirnya mereka tidak lagi tinggal bersama sipembawa sial.

"Akhirnya musim dingin kita kembali tenang, tidak perlu khawatir akan kelaparan karena bahan makanan kurang!" Seru Bacil yang berdiri tidak jauh dari Polo.

Polo berbalik, "jangan bergosip. Sebelum kalian bekerja sudah aku terangkan dengan jelas apa yang boleh dan tidak. Mulai sekarang jika ada yang berani mengeluarkan suara untuk hal tidak perlu, aku tidak segan memasukkan bara api kedalam mulutnya."

Bacil dan yang lain menelan lurah dengan kasar.

"Tanpa terkecuali," ucapnya saat sijuru masak ingin membuka suara. Juru masak itu langsung mengatupkan bibirnya.

Langit mendumg menyambut kobaran api dan awan hitam yang menyelimuti langit Cadbury.

Setelah itu dia pergi meninggalkan seluruh pelayan dan pekerja yang menyaksikan gubuk di lalap habis seolah sedang membakar kesialan sampai hangus tak bersisa.

Polo kembali kekastil menuju ruang kerja tuannya, guna melaoprkan perintah yang telah dilaksanakannya.

"Saya yakin dia sudah mati, tidak akan ada yang bertahan dengan cuaca seperti ini apalagi tubuhnya sangat lemah dan tapuh."

Edmund tidak mengatakan apapun tapi dari sorot matanya jelas memancarkan ketidak sukaan terhadap apa yang pelayannya katakan. Bukan tidak suka mendengar asumsi tersebut tapi lebih ketidak perduliannya terhadap gadis yang berani lari darinya.

Lihat saja sampai berapa lama gadis itu bertahan diluar, tidak akan ada yang bisa lepas darinya. Hidup atau mati gadis itu akan ditemukannya.

"Maaf jika saya lancang, tapi saya harus mengingatkan anda."

Edmund mengambil cerutu dan menyalakannya. Menyandarkan tubuh dikursi kebesarannya tanpa menghiraukan pelayan yang begitu banyak bicara tanpa di minta.

Polo membungkuk hormat lalu mengatakan, "tuan Nohan menyampaikan pesan melalui orang suruhannya. Dia belum bisa menjamu anda karena kurangnya pelayan di kediamannya. Dia meminta waktu untuk menyiapkan segalanya."

Edmund menyipit tanpa mengatakan apapun lalu menyuruh Polo keluar dari ruangannya. Sepanjang hari dia menghabiskan waktu dengan membenamkan diri pada pekerjaan.

Baru saat makan malam pria itu keluar dari ruangannya, dimeja makan telah tersusun hidangan yang cukup lezat. Polo dengan setia melayaninya.

Edmund mulai memotong daging domba yang si steak dengan rempah pilihan. Rasanya tidak di ragukan lagi, juru masaknya adalah koki terbaik di Cadbury.

"Siapkan kuda." Perintahnya pada Polo tanpa menghentikan gerakkan tangannya memotong daging menggunakan pisau berlapis emas putih yang mengkilap.

Polo mengangguk sopan lalu undur diri dari hadapannya, begitu sampai diistal kuda dia menyampaikan pesan tuannya lalu kembali menuju kastil.

"Tidakkah kalian lihat kalau Polo berubah?" Gumam Bacil yang melihat Polo dari pintu dapur. Dia dan pelayan satunya baru ingin mengantarkan makanan untuk penjaga istal.

"Aku rasa kuga begitu, apa mungkin dia merasa kehilangan? Dan menurutmu dimana gadis itu?" Tanyanya dengan suara yang teramata pelan.

"Gadis itu memang pembawa sial, Polo tidak pernah bicara dengan nada yang tinggi pada kita terutama Margaret tapi hari ini sikapnya membuat kita semua sakit hati. Dan semua karena si sialan itu, aku harap dia mati mengenaskan diluar sana."

"Aku tidak menyukainya tapi bukan berarti mengharapkannya mati dengan cara seperti itu, jangan terlalu kejam."

"Jangan mengingatkanku, tuan saja sangat membencinya. Sudah sepantasnya kita melakukan hal yang sama, kau tidak boleh membelanya."

"Aku tidak membelanya, hanya saja kalau mengharapkan yang buruk berbalik padaku."

Bacil memutar jengah bola matanya lalu pergi menuju istal dengan diikuti temannya itu.

**
Seperti biasa Edmund tengah berada dirumah judi, malam ini ada tiga bangsawan bodoh yang mengantarkan hartanya dengan suka rela. Belum seprempat jam ketiganya kalah begitu saja, mereka menatap pias harta yang kini menjadi milik Edmund.

"Aku dengar kau sedang membangun pabrik wol, tidakkah kau membuka kesempatan untuk para pembisnis berinvestasi?"

"Tidak pantas membahas bisnis disaat semua harta kalian telah habis," ucapnya tenang.

"Oh ... jika kau membukanya kami akan berusaha mencari dana untuk berinvestasi," ucap salah satu dari tiga orang yang telah jatuh miskin itu.

"Tuan, kau sudah mabuk berat sebaiknya berhenti minum." Suara seorang pelacur menarik perhatian semua orang tanpa terkecuali.

"AKU INGIN MABUK BERAT MALAM INI UNTUK MERUTUKI KEBODOHAN TEMANKU! TDAKKAH DIA PIKIR KALAU TINDAKKANNYA ITU BISA MENGHANTAR NYAWA SELURUH KELUARGANYA TERMASUK DIA DAN AKU?!"

"Oh ... iya, temanmu keterlaluan." Susah payah pelacur itu membawa pria mabuk itu menuju kamar.

"Diantara semua manusia kenapa dia yang harus ditolong!!!" Sayup masih terdengar teriakkannya.

Edmund juga mendengar tapi tidak terpengaruh sedikitpun.

SamarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang