Diantara salah satu pengunjung tempat itu memperhatikan gerak gerik Edmund dengan seksama. Cerita yang beredar tentang pria itu ternyata benar adanya.
"Aku belum pernah melihat manusia seiblis dia," ucap pria yang duduk dengan pria yang memperhatikan Edmund sedari tadi. Mereka berdua bukan berasal dari desa yang di pegang Edmund, tentu tidak tahu apapun tentang pria itu.
"Sekarang kau sudah melihatnya," ucap pria tampan sambil tertawa, menampilkan lesung pipi kecil diaudut bibir. Kelebihan yang menjadikannya begitu di puja banyak wanita.
"Aku dengar dia baru kembali kemeja judi, selama ini tidak pernah karena kekasihnya melarang."
"Kau tahu banyak tentangnya, tidak kusangka."
Temannya mencebik, "kau lupa siapa aku? Berita hangat mana yang tidak bisa aku dapatkan?" Setelah menenggak minumannya sampai tandas, pria itu melanjutkan, "dan didesa ini, iblis tadi selalu menjadi topik pembicaraan. Aku dengar kekayaannya melebihi raja, bisa kau bayangkan seberkuasa apa dia?"
Dengan semangat pria itu kembali bicara, "aku dapat info dari orang terpercaya, semua yang berjudi dengannya jatuh miskin. Harta benda semua di pertaruhkan, sialnya tidak satupun dari mereka jera. Dari judinya saja sudah bisa dibayangkan betapa kayanya dia. Haruskah aku belajar darinya?"
"Silahkan, aku ingin lihat akhir usahamu. Berhasil atau malah mati."
Temannya mencebik sambil mengumpat, pria itu tertawa pelan sambil menikmati minuman yang cukup enak. Desa ini terkenal akan anggur dan kapas yang memiliki kwalitas tinggi, belum lagi perkebunan teh dan kopi, bisa dibayangkan seberapa makmurnya pemilik desa ini.
Seorang pelayan datang membawakan daging asap pesanan mereka, teman pria itu tidak menyiakannya. Sekantung uang dia berikan pada pelayan itu untuk memberinya beberapa informasi tentang Edmund.
Tempat perjudian adalah pusat informasi akurat, tidak ada yang tidak bisa didapat selama memiliki uang sebagai imbalan.
"Kekasihnya meninggal karena menyelamatkan keponakkannya, sangat di sayangkan. Harusnya akhir bulan ini keduanya menikah, karena kejadian naas itu, sir Edmund seperti orang yang kehilangan arah. Setiap malam dia menghabiskan waktu untuk berjudi, membuat para bangsawan bangkrut dalam sekejap."
"Keponakkan?"
Pelayan itu mengangguk lalu bicara dengan mengecilkan suaranya, "keponakkan kekasih sir Edmund lahir dengan kutukkan. Siapapun yang berurusan dengannya pasti mati. Tidak ada yang mengakuinya kecuali kekasih sir Edmund. Akibatnya wanita itu mati karena menyelematkannya."
"Apa itu bisa disebut pembawa sial? Hidup mati bukan urusan manusia." Teman pria tampan itu tidak setuju dengan pemikiran tak berdasar itu.
"Satu desa ini meyakininya."
Pria tampan itu melarang temannya mendebat, tiap daerah memiliki kepercayaannya masing-masing. Kurang sopan mendebat dan mengatakan kalau itu tidak benar.
"Lalu dimana sekarang keponakkannya itu? Siapa yang mengurusnya?"
"Sebelum meninggal kekasih sir Edmund memintanya menikahi sipembawa sial itu. Otomatis dia di asuh oleh sir Edmund?"
"Apa? Menikah? Dia menikahi anak kecil? Keterlaluan."
"Hei tuan, kecilkan suaramu." Teman pria tampan itu mengangguk lalu mengecilkan suaranya.
Pelayan itu melanjutkan, "sipembawa sial itu sudah dewasa. Dia sangat cantik tapi sayang hidupnya membawa kutukkan. Secantik apapun dia tidak akan ada yang menerimanya."
"Begitupun iblis itu?" Pelayan itu mengangguk karena tahu siapa yang di maksud iblis oleh tamunya ini.
"Kau boleh pergi." Usir teman pria itu.
"Tunggu." Pria tampan itu melempar sekantong uang, "beritahu kami tentang gadis itu sebanyak yang kau tahu." Pelayan itu dengan semangat duduk kembali lalu menceritakan tentang Hera yang dia tahu.
**
"Mengataiku suka bergosip, tahunya kau juga."
Pria tampan itu tidak menghiraukannya, dengan santai dia meninggalkan tempat perjudian itu, menuju penginapan. Dalam otaknya masih terngiang apa yang pelayan itu sampaikan.
"Betapa malangnya gadis itu, kalau benar iblis itu membencinya, dapat di pastikan hidupnya sangat menderita. Bukan tidak mungkin apa yang pelayan itu katakan semuanya benar."
"Kita tidak bisa mempercayainya sebelum melihatnya langsung." Pria itu naik keatas kuda lalu memacunya. Malam dingin menyeruak masuk kedalam tulang, sesegera mungkin dia harus tiba di penginapan untuk berendam sambil menikmati anggur.
Sementara itu dikediamannya, Edmund tengah mabuk diruangan khusus tempat penyimpanan minuman ber-alkoholnya. Dia menatap lukisan kekasihnya, sorot mata penuh kerinduan terpancar jelas.
"Kenapa kau tega meninggalkanku? Membuatku terjebak bersamanya? Apa yang harus kulakukan? Tahukah kau? Aku sangat ingin membunuhnya. Tiap kali mihatnya, aku teringat dirimu. Harusnya dia yang mati." Racau Edmund.
Dia menenggak minuman yang paling tinggi alkoholnya agar bisa mabuk. Pria itu tersungkur dilantai dengan tatapan kosong, ingatannya kembali kemasa dimana dirinya dan Camelia melewati hari-hari bahagia.
"Salahku membiarkanmu merawatnya, andai aku percaya kalau dia pembawa sial. Kita berdua tidak akan berakhir seperti ini." Edmund tertawa miris, "kalau aku menderita maka dia juga, jangan salahkan aku, sayang." Tatapannya kembali jatuh kelukisan kekasihnya yang tersenyum manis.
Edmund kembali minum sampai tak sadarkan diri.
Digubuk kecil Hera tengah meringkuk karena seluruh tubuhnya sakit. Sepertinya demam tinggi, tubuhnya menggigil dengan suara gigi bergemeletak.
Hera menyadari kalau tubuhnya sudah tidak kuat, senyumnya mengembang karena merasa inilah waktunya dia pergi selama-lamanya dari dunia kejam ini.
Sayup dia mendengar pintu rumahnya terbuka, sesosok makhluk menjulang tinggi dengan penampilan serba hitam masuk.
"Akhirnya kau datang menjemputku, malaikat maut." Setelah mengatakan itu, Hera tidak tahu apapun lagi.
"Kondisinya sangat memprihatinkan, takutnya dia tidak mampu bertahan," ucap dokter yang dibawa Polo kekediaman Hera.
Pria yang Hera lihat tadi adalah Polo, pria paruh baya itu memiliki firasat buruk dan nyatanya benar. Kalau dia tidak memberanikan diri seperti ini, mungkin besok dia dan tuannya mendengar tentang kematian gadis muda ini.
"Lakukan sesuatu, dia tidak boleh mati."
"Aku sudah berusaha, aku sudah memberikan akupun pereda demam. Tinggal kita lihat sampai besok, kalau tidak sadarkan diri, maka tidak ada yang bisa kita lakukan lagi. Tubuhnya sangat lemah, tenaga lebih besar keluar daripada gizi yang masuk."
Dokter itu mencebik sambil membenahi barang-barangnya, "kau membawaku kemari tanpa persetujuan tuan. Kalau dia mengetahuinya, kau tanggung sendiri, jangan libatkan aku. Entah apa yang ada di otakmu, bagaimana bisa prihatin dengan manusia pembawa sial ini."
Polo menatap temannya dengan kesal, "kau seorang ayah, tidakkah ..."
"Tidak ada yang mau di lahirkan dengan kutukkan tapi apa boleh buat kalau Tuhan menginginkan?" Dokter itu menatap Hera sekilas, "setelah ini jangan libatkan aku. Aku tidak mau tertimpa kesialan, aku sangat mencintai keluargaku."
Dokter itu melengos pergi.
Polo menatap pias Hera yang tergeletak ditempat yang tidak layak, "aku sudah berusaha, sekarang giliranmu. Jika ingin bertahan, besok kau harus membuka matamu, kalau tidak, aku akan menyiapkan pemakaman yang layak."
Polo pergi meninggalkan gubuk Hera dengan perasaan kalut. Entah kenapa dia merasa Hera bukanlah gadis pembawa sial, semua yang terjadi pasti hanya kebetulan.
Tapi tidak ada yang kebetulan didunia ini bukan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Samar
RomanceNovel sedang proses cetak. Kunjungi Ig: Ado_9027 atau Novelis_ado9027 untuk info lebih lanjut. Edisi exlusive, terbatas. Hanya untuk 22 orang tercepat. Terdapat extra bab yang tidak ada di PLATFORM. *** Jangan coba-coba berani plagiat cerita ini kal...
