Wajar Kalau Aku Tersesat

765 87 84
                                        

Langit Cadburry tidak pernah bersahabat pada seluruh penduduk. Sesuka hati berubah tanpa perduli apa yang sedang dibutuhkan penduduk saat itu.

Seperti sekarang ini langit berubah mendung disaat penduduk tengah senang karena sebelumnya langit tampak cerah, matahari tidak malu-malu keluar.

"Baru saja aku akan kepasar untuk belanja tapi cuaca kembali seperti semula." Kesal Bacil.

Salah seorang pelayan terbahak, "sudah tahu langit tidak pernah bersahabat dengan kita, kau justru percaya matahari akan lama bersinar." Bacil berdecak kesal.

"Sudah enam bulan dari sejak perencanaan tuan membangun pabrik, tahukah kau sudah sejauh mana?" Tanya salah satu pelayan senoir yang sedang mencuci sayur.

Kalau sudah membahas tuan muda, Bacil selalu semangat. Kekesalannya langsung menguat entah kemana, dengan senyum lebarnya dia mengangguk mantap.

Dia duduk disalah satu kursi dimana tetdapat banyak buahan diatas meja, "sebentar lagi kita akan punya pabrik pemintalan sendiri. Dan aku dengar pabrik yang tuan bangun sama besarnya dengan milik tuan Nohan. Aku jamin tuan akan semakin berjaya dengan adanya pabrik itu." Tiba-tiba wajah Bacil berubah sendu, "tapi sayang tuan tidak berniat membuka lembaran baru."

"Kalaupun tuan membuka lembaran baru, kau tidak masuk itungan. Sadarlah, kau dan tuan seperti langit dan bumi. Mengagumi boleh tapi jangan berharap."

Bacil menatap juru masak kediaman Edmund dengan tajam, "kau tidak pernah mendukungku, tidak masalah juga! Tapi jangan mematahkan semangatku, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Bisa saja tuan menyukaiku."

Juru masak itu berdecih tak suka, "kalau begitu lebih baik tuan tidak pernah membuka lembaran baru. Bagaimana mungkin dari mendiang nona Camelia yang cantik jelita turun kasta ke dirimu?"

"Kau ..."

"Berhenti bergosip, apa kalian lupa aturan dikastil ini?" Suara Polo membuat semua pelayan termasuk juru masak terdiam kaget.

Bacil menoleh pada Polo, "kami bukan menggosip ..."

"Aku tidak butuh penjelasan." Pria itu menatap juru masak, "siapkan makan malam spesial, tuan mengundang seseorang." Juru masak mengangguk patuh.

Sebelum pergi Polo memperingati seluruh pelayan untuk tidak lagi bergosip terlebih tentang tuannya.

**
Enam bulan belakangan hidup Hera bisa dikatakan baik, Edmund tidak menyiksanya karena sibuk mengurus pabrik yang sedang dibangun.

Meski menggunakan bangunan kosong miliknya tapi perlu perhatian khusus karena ada beberapa bagian yang harus di renovasi. Edmund tidak akan membiarkan para buruh bekerja tanpa pengawasan.

Karena kesibukkannya, hidup Hera terasa sedikit lebih damai. Para pelayan juga tidak ada yang mengganggunya karena dia pintar menghindar dari mereka semua.

Hera menyelesaikan tugasnya sebelum matahari terbit, disaat semua orang masih tidur, dia membersihkan pemandian Edmund. Dan saat matahari menampakkan diri, dia sudah berada digubuknya kembali.

Sebisa mungkin dia tidak terlihat selama enam bulan ini. Dan sekarang dia tengah memanen hasil tanamannya, ada sayur dan buah, dia akan menyimpannya sampai musim dingin tiba.

Langit semakin gelap dan akhirnya hujanpun turun, Hera bergegas masuk kedalam gubuk sambil membawa keranjang tua yang berisi sayuran dan buah yang baru dipanennya.

Hera menyalakan kayu bakar dan ditempat perapian. Kayu bakar yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit dari hutan. Ya, Hera memberanikan diri mencari kayu bakar, kalau tidak dia akan mati kedinginan saat musim dingin tiba.

Dalam diamnya sambil menatap api yang melahap kayu bakar, Hera teringat bibi Mete, pengasuh mendiang bibinya. Meski bibi Mete tidak pernah ramah padanya, tapi jelas tidak membencinya.

Entah bagaimana kabarnya wanita paruh baya itu. Saat bibinya meninggal, wanita itu salah satu dari banyaknya orang yang sangat kehilangan.

Bibi Mete menyayangi bibinya seperti anak sendiri. Semua kebutuhan bibinya dipenuhi tanpa kurang satu apapun. Kedekatakan mereka seperti ibu dan anak, Hera sempat ini namun secepat mungkin mengenyahkan perasaan itu.

Dia tidak pantas iri dengan kasih sayang yang didapat bibinya. Bibinya terlahir dengan keberuntungan dan berkat yang berlimpah, berbeda dengannya yang lahir dengan kutukkan.

Menghela napas panjang, Hera mengenyahkan semua pikirannya. Dia berharap bibi Mete dalam keadaan baik-baik saja.

"Haloo ada oranggggggg!!" Terdengar keras ketukkan pintu belakang rumahnya bersamaan dengan suara seorang pria.

Hera bangkit dan berdiri disudut ruang tergelap, menahan napas karena takut dengan suara tersebut. Sebelumnya belum pernah ada orang yang datang dari pintu belakangnya.

Dari pertanyaannya pasti bukan pelayan estat ini.

"Tolong ... aku butuh tempat berteduh!" Teriak pemilik suara dari luar sambil terus mengetuk pintu.

"Aku tahu ada orang didalam! Percayalah, aku bukan orang jahat! Aku tersesat dan berakhir disisnu. Siapapun yang ada didalam, kumohon pertolongannya."

Hera meremas ujung dressnya, hati dan pikirannya berkecamuk. Antara ingin menolong dan tidak, diluar hujan semakin deras dengan suara petir yang menggelegar.

Hera berpikir sejenak, memangnya kenapa kalau pria itu orang jahat? Bukankah bagus? Kalau tujuan pria itu merampoknya, pasti akan membunuhnya agar tidak ada saksi mata.

Mati? Itulah yang diharapkannya.

Tidak perduli bagaimana caranya, yang penting mati. Meski enam bulan ini hidupnya baik-baik saja bukan berarti keinginan itu hilang dari dalam hatinya.

Hera menuju pintu belakang dengan tertatih, perlahan membuka pintu yang terus di ketuk keras.

"Oh ... maaf!" Hera menutup mata karena tangan pria itu hampir memukulnya. Untung saja pria itu bisa menahan gerakkannya.

"Nona, apa kau baik-baik saja?" Perlahan Hera membuka mata, bertemu tatap dengan seorang pria tampan berwajah teduh. Mata Hera menyipit karena merasa pernah melihatnya.

Setelah beberapa detik tatapan Hera menjadi kecewa, pria yang ada dihadapannya mengernyit bingung.

Suara petir membuat keduanya tersadar dari lamunan masing-masing. Pria itu berdehem kecil, "apa aku boleh masuk?"

Hera tidak menjawab tapi menggeser tubuhnya, tanda memberi izin. Sebelum menutup pintu dia melihat langit yang sangat gelap dan berkabut disertai hujan lebat yang di samai badai dan petir.

Pria itu membuka mantel lalu menyangkutkannya dipaku belakang pintu. Hera mengambil langkah menjauh, duduk ditepi kasur lepeknya.

"Maaf, aku mengganggumu. Setelah hujan reda, aku akan langsung pergi." Pria itu menatap Hera dengan cahaya seadanya dari perapian.

Hera tidak bergeming.

"Aku tidak tahu kalau gubuk ini kau tinggali seorang diri." Pria itu kemudian berbalik, "kalau begitu aku pergi, sepertinya kau tidak nyaman."

Hera menoleh sedikit, "jangan hiraukan aku. Kau bisa berteduh disini sampai hujan berhenti."

Suaranya membuat pria tersebut tersenyum manis tanpa Hera tahu.

Kemudian dia berbalik lagi, duduk dekat perapian untuk mengeringkan diri.

"Aku tersesat dihutan, tadinya aku bersama dua temanku tapi ditengah hutan kami terpisah. Aku bukan asli penduduk sini, wajar kalau aku tersesat." Pria itu menjelaskan kondisinya tapi Hera tidak bergeming.

Dia menatap kearah jendela, melihat hujan yang turun semakin deras. Sedikitpun tidak tertarik dengan pria yang numpang berteduh itu.

"Zavion Nohan, itu namaku. Kau bisa memanggilku Zavion atau apapun yang kau suka, senyamanmu saja."

Dia melihat Hera yang sama sekali tidak menghiraukannya. Dalam gubuk ini, dia bisa merasakan sepi dan hampa.

Itukah yang gadis cantik ini rasakan saat ini?

SamarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang