6

121 11 5
                                        

Paginya Gracia dan Revan sudah disibukkan dengan temuan-temuan terbaru yang perlu mereka dalami. Bripda Petrus memang tidak lengkap dalam mengerjakan laporannya, tapi ada banyak informasi krusial dari investigasi sebelumnya yang dapat membantu mempermudah pekerjaan Gracia dan Revan.

Di meja kedua polisi ini, masing-masing komputer sudah menyala, sekat pembatas antar meja sudah penuh dengan coret-coretan. Secangkir kopi yang masih membumbungkan asap, masih belum tersentuh di atas meja Revan. Pemilik cangkir putih berlogo Kepolisian Metro Jakarta dari tadi berusaha menahan menguap. Dia takut ketahuan sama nenek lampir di sampingnya, apalagi kemarin Gracia sudah mewanti-wanti untuk tidak tidur terlalu malam. Jangan salahkan Revan, karena kalau dia disuruh memilih menghabiskan waktu istirahat malamnya untuk vidcall dengan kesayangannya atau mengurusi kerjaan, dia pasti memilih opsi pertama.

"Bripda Petrus berhasil nemuin alamatnya Hasan. Anehnya, gak tau kenapa, dia gak pernah dateng buat ngamanin tempat tinggalnya," ucap Gracia yang dari tadi sibuk dengan tabletnya. Helaan nafas yang berat pun terlepas dari seorang Gracia. "Seharusnya tempat itu gak didatengin siapa-siapa selama 6 bulan ditinggal. Kalo kita beruntung, masih banyak yang bisa kita temuin di sana."

"Udah sampe mana komunikasi kita sama Unit Patroli?" suara Gracia langsung membuat Revan tersentak dari duduknya. Kepalanya serasa berputar seakan mencari nyawa yang menghilang.

"Gue udah kirim inquiries barusan. Tapi lu pasti gak suka sama balasannya mereka Gre," balas Revan sambil mengucek-ucek matanya. Merasa bahwa tindakannya tidak mempan untuk menghilangkan kantuknya, ia lalu menyeruput kopinya.

Gracia menunggu Revan melanjutkan kalimatnya. Namun, tak dapat dipungkiri kalau Gracia punya firasat seperti apa tanggapan dari pihak mereka.

"Mereka gak percaya sama permintaan kita. Katanya... Kasus ini udah jalan sejak 6 bulan lalu, tapi kenapa baru sekarang kita minta keterangannya? Belum lagi mereka juga bilang kalo kasus ini harusnya udah lama ditutup dari atas..."

Revan tahu kalau Gracia juga tahu ke arah mana pembahasan mereka. Walaupun Revan sengaja menyimpan kecurigaannya, dia rasa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkit keresahannya sejak kemarin.

"Intinya, mereka butuh bukti kalo kasus ini beneran jadi aktif. Dan gak Gre, mereka gak percaya sama status di sistem, kata mereka kalo itu bisa diubah sama siapa aja."

Tidak dilanjutkan pun Gracia mengerti maksud Revan. Kedua tangan Gracia jadi mengepal di atas keyboard komputernya. Jika tidak ada orang lain di ruangan ini, Gracia pasti sudah membanting kedua tangan itu ke mejanya. Nafasnya mendengus kasar bak banteng yang mengamuk.

Tapi secepat itu, dalam hitungan beberapa tarikan nafas, Gracia mampu mengendalikan emosinya. Revan yang tadinya ingin menenangkan temannya terpaksa mengurungkan niatnya.

"Biar gua yang ngurus siang ini," Gracia lalu kembali mengetik di komputernya. "Buat sekarang, kita perlu siap-siap untuk datengin tempat tinggal korban kita."

Sepertinya percuma bagi Revan untuk memastikan kondisi temannya. Kalaupun dia bertanya, Gracia pasti memilih untuk mengelak dari pertanyaan seputar kondisi atau perasaannya. Akhirnya Revan hanya bisa mengunci mulutnya.

Sebuah peta lalu muncul di sekat pembatas meja Gracia dan Revan, menampilkan sebuah area di dekat Banjir Kanal Barat. Area itu sudah lama menjadi pemukiman semi-kumuh yang dibangun di atas luapan banjir kanal, berisikan kompleks apartemen berbentuk bangunan panggung dan pemukiman yang menjalar sepanjang aliran sungai. Di peta yang mereka lihat, lokasi apartemen Hasan berada di dalam area yang diarsir dengan warna merah. Revan lalu menoleh ke kalender di komputernya. Kedua alisnya terangkat tinggi saat menatap tanggalan yang tertera.

Tabula RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang