Tiga kali Gracia melihat pelayan yang sama masuk ke bilik ini. Tubuh kekar bebas dari pakaian, topeng yang menutupi mata, dan choker di leher. Kali pertama dia datang membawa dua ikat uang, kali kedua dia datang dengan botol brandy dan sepuluh gelas. Yang terbaru, dia datang dengan dua gelas coupe. Hanya, dua gelas.
"Makasih, Sayang. Dan bilang ke bosmu, kali ini, jangan langsung dirusak mainannya."
Mainan. Sama seperti pelayan itu. Sama seperti semua yang bekerja di tempat semacam ini. Kelas ekonomi, bisnis, eksekutif, prinsipnya tetap sama: mereka hanya mainan.
Gracia menerima itu, tapi tidak dengan otaknya.
"Nah, sampe di mana kita?" Nossa Senhora tersenyum manis. "Ah... mustahil kita lupa tamu kehormatan."
Si Tangan Kanan mengangkat gelas berisi brandy dengan tangan kadalnya. Sembilan pengawal lainnya menyusul, melingkari Gracia yang berada di tengah bilik. Mereka memasang wajah datar. Tatapan mereka menginginkan satu hal: Gracia mati.
"Saúde, untuk para pendosa!" Nossa mengangkat gelasnya, "karena Surga itu pasti, tapi Neraka itu pilihan!"
***
Sial.
Ini bukan klub malam atau rumah bordil.
Ini BD lounge.
Pantas tempat ini lebih sunyi dari kuburan. Segala suara yang orang dengar adalah yang diputar langsung ke otak mereka. 'Mereka' yang dimaksud adalah pelanggan—atau para pelanggan—yang memesan studio khusus selama yang tabungannya sanggup beli. Iya, ternyata lounge juga tidak tepat, karena tempat ini lebih seperti bioskop.
Dan ini letak kesialannya.
"Totalnya jadi 980 AD."
Sebanyak itu buat menyewa satu jam. Lebih murah kalau dibagi ke sepuluh orang, tapi lihat dia! Tagihan pelurunya saja belum lunas, apalagi memesan BD yang tak akan ia taruh di kepalanya, sendirian, semuanya atas nama pekerjaan.
Gajinya manis, tapi tidak semanis itu.
Setidaknya tempat ini punya bar. Tidak lengkap dan sepi. Bagus karena pesanannya bisa cepat dilayani. Jelek karena Revan baru tahu kenapa bisa sesepi ini.
"Bajingan nyampurin air keran ke minuman gue."
Memesan botol terlalu mahal untuk dompetnya. Coba saja dia punya kenalan dengan dompet tebal dan akses carte blanche ke rekening palsu kepolisian.
Tidak ada gunanya memikirkan cebol sialan itu. Sekarang, fokusnya adalah mencari penumpang limusin misterius yang Eli lacak. Limusinnya benar terparkir, tapi siapa atau berapa yang turun?
"Lima studio di lantai satu," Revan mendongak ke tangga di depannya yang terhubung ke lantai dua, "lima lagi di atas." Pelayan, laki-laki dan perempuan, datang silih berganti dari bar atau jendela dapur dengan nampan penuh botol, gelas, atau makanan. Sejauh ini, hanya mereka yang punya akses masuk ke studio—selain pelanggan tentunya.
"Tetep aja, gue harus mulai dari mana?"
***
"Dan khusus buat lo," Nossa Senhora menjentik jarinya. Tengkuknya mendeteksi gerakan sebelum telinganya. Ototnya berteriak "lompat!". Jantung Gracia nyaris kabur. Pengawal di belakangnya barusan lewat. Dia diserang? Penglihatannya pecah—satu mengikuti pengawal yang lewat di samping, satunya lagi terjaga ke Nossa di seberangnya.
Botol? Itu yang pengawalnya bawa?
"Kaget ya?" Seringai Nossa menampilkan deretan gigi berkilau. "Janji, di bisnis yang gue jalanin, nilainya ngalahin emas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Science Fiction[R rated: Mengandung kekerasan grafis/eksplisit, bahasa kasar, kilas balik mengganggu, penggunaan narkoba/zat terlarang, dan adegan seksual grafis/eksplisit] Metro Jakarta, tahun 2099. Kota yang sudah lama menanggalkan statusnya sebagai pusat pemeri...
