20

50 6 0
                                        

Tidak ada yang mustahil di tempat ini dengan harga yang pas. Begitu akurat kalimat itu untuk menjelaskan Kepolisian Metro Jakarta. Kadang, bukan soal harga yang pas-nominal uang memiliki nilai berbeda tergantung kantong yang menerima.

Gracia ingin menambahkan penggalan lain ke kalimat itu. Bukan soal kantong yang menerima, tapi siapa dan kenapa uang itu diberikan. Bagi Gracia, tidak mungkin sosok yang ia tangkap ke sel tahanan tanpa berkas lengkap. Masalahnya sudah jelas: tidak ada berkas sama sekali. Jika kabar tahanan baru yang berhubungan dengan kasus ini sampai terendus, Gracia sama saja seperti menambah bensin ke bara api.

Jadi dia melakukan yang harusnya ia lakukan. Revan yang memimpin negosiasi dengan petugas tahanan, Gracia yang mengurus 'pembayaran'. Setelah semuanya terurus, fokus kedua polisi ini adalah sosok misterius yang mereka tangkap.

Sosok ini terlihat tua. Janggut dan rambut tumbuh liar di wajah pria ini. Wajahnya tampak sangat kurus sampai matanya seperti ingin copot dari tempatnya. Saat ditangkap, sosok ini masih mengenakan setelan kemeja yang-meski lusuh-terbuat dari kain kapas, tidak seperti material pakaian pada umumnya.

Gracia sibuk memerhatikan sosok yang duduk di tengah ruangan interogasi. Tatapan tajam dilayangkan sosok itu ke arah pintu ruangan. Sosok itu tahu apa yang sedang terjadi, dan dia terlihat siap menghadapi siapapun yang akan menemuinya.

"Apa yang lo dapet?" tanya Gracia ke Revan yang baru masuk ke ruang observasi.

"Illia Ihorovych Stepanenko." Revan menyalakan komputer di ruangan itu yang menampilkan berbagai macam informasi yang ia temukan. "Dateng ke Metro tanggal 20 Juli 2066. Paspornya keluaran Free State of Crimea-Zaporozhie. Beruntung banget, telat sehari dan dia gak bisa ninggalin negaranya."

Orang ini apatride? Gracia menelisik dokumen imigrasi yang tercantum di layar. Illia lahir pada 1 Januari 2046 di Kyiv. Setahu Gracia, Crimea-Zaporozhie tidak memberi kewarganegaraan untuk individu yang lahir di Ukraina. Gracia paham alasan dibalik kesalahan data ini. "Dia imigran gelap rupanya."

"Iya kan? Datanya kayak diisi buat formalitas doang." Revan lalu menatap ke layar yang menampakkan Illia. "Tapi usianya cocok sama profil dia. Paling enggak 50 tahun menurut gue."

"Gak ada data selama di sini?"

Revan menggelengkan kepalanya. "Satu-satunya entry di data tenaga kerja cuma bilang kalo dia pernah belajar di semacam politeknik di Donetsk. Gue coba liat situsnya, cuma aksesnya diblokir sama Federasi Rusia karena 'ancaman keamanan domestik'. Sama dia ditulis 'cukup fasih berbahasa Indonesia'. Tapi dia kerja apa, tinggal di mana, skor kreditnya, atau catatan medisnya, gue gak nemu sama sekali."

Sepertinya Illia adalah 'si Slav' yang dimaksud di drive yang Gracia temukan. "Masuk akal kalo komputer dia kita temuin di mess itu."

Bayangan soal tempat yang mereka kunjungi siang ini membuat Revan bergidik. "Banyak orang-orang kayak dia yang diterima begitu aja ke Metro. Gak ada tempat lagi buat mereka balik." Revan menjadi sadar dengan kondisi tubuh orang ini. Revan seakan bisa melihat tulang dibalik kulit sosok ini. "Keberuntungannya belom abis kalo dia masih idup sampe sekarang."

"'Beruntung' bukan penjelasan yang cukup soal koneksinya ke Vox."

Ucapan temannya membuat Revan berpikir. Apa mungkin dia yang mendesain program yang meretas sistem keamanan tercanggih di kota ini? Bukti yang ada mengarah ke situ. Tapi siapa dia? Apa kaitannya dengan Vox dan Populi?

"Dia gak mungkin cerita kalo gak kita yang nanya duluan." Revan beranjak untuk menyiapkan rekaman. Dia tidak sempat melakukan itu karena tangan Gracia yang menahannya.

"Kalo direkam, semua orang bisa akses."

"Gak semuanya, cuma yang-" Butuh waktu sepersekian detik agar Revan menangkap maksud Gracia. "Gue lupa akses kita gak ada artinya lagi."

Tabula RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang