37. Sitasi

81 6 6
                                        

20 tahun lebih Revan hidup, dan baru kali ini dia masuk ke klinik MediPharm. Seperti ini rupanya, tidak beda jauh seperti yang diiklankan. Meja resepsionisnya diawaki oleh layar dengan wajah androgini yang tak pernah luntur senyumnya. Lirikan Revan menyusuri lesung di pipi wajah itu, lalu tatapan penuh kehangatan di matanya, berakhir di rambut kecokelatan yang memanjang hingga menutupi telinganya.

Mereka kira bisa ngebohongin kita dengan wajah ini? Revan menggeleng. Dia mencoba membalas senyuman di layar. Antreannya masih lama, yang mengejutkan dirinya. Lobi klinik ini begitu steril; lantai vinyl berwarna gading yang mengilau, memantulkan hijau telur asin dari wallpaper yang khas untuk merek MediPharm. Lampu LED dibuat seterang mungkin seakan ingin memanggang pasien yang menunggu. Tentu mereka menyeimbanginya dengan suhu yang dijaga selalu sejuk, meski Revan akui, bukan pilihan yang tepat di saat gerimis di luar.

Tapi Revan masih bingung. Kenapa tidak ada yang sadar? Sejak dia masuk, Revan tahu siapa di antara petugas di sini yang bukan petugas. Bahkan petugas keamanannya terlihat begitu profesional—dalam arti berbeda. Tidak ada senyuman menenangkan, pandangan yang memindai bak elang, tangan yang dijaga di dekat sabuk—atau holster yang tersembunyi di sana. Sial, Revan lihat ada yang lewat sambil menyelimpang VX-77 "Ghost" yang dimodel dari submachine HK-MP5. Siapa yang mau mereka bunuh!

Setidaknya pasien di sini bisa merasakan CCTV yang jelas-jelas baru dipasang—sepertinya klinik ini tidak seserius menutupi bekas bor dengan mengecat ulang. Tiap sudut dipenuhi kamera itu. Salah satunya menyorot dan mengikuti langkah Revan ke kafe di samping pintu masuk, sedikit ke kanan dari resepsionis.

Klinik ini berada persis di tengah Distrik Jakarta Pusat. Seberapa serius mereka merasa terancam dengan serangan Bandeirantes? Di pinggiran mungkin, tapi di sini?

Kameranya belum pindah dari dirinya. Revan beranjak ke kasir kafe dan memesan americano. Revan tidak kaget kalau tempat ini adalah lumbung kapitalis—air berasa kopi ini harganya 8.5 AD—tapi setidaknya dia bisa membaur. Sekarang tinggal menunggu antreannya dipanggil.

Satu jam lebih Revan menunggu. Kopinya menyisakan ampas yang mengumpul di dasar cangkir kaca. Antreannya dipanggil dari resepsionis. Dia diarahkan ke bilik kaca sekitar 10 meter ke di samping ruang tunggu pasien. Decit dari langkahnya di lantai yang licin membuat beberapa pasang mata menengok ke arahnya. Di dalam bilik dengan pembatas kaca buram, terdapat lima meja berjajar. Salah satu petugas menyapa dan memintanya duduk. Kursi ini terasa masih hangat. Kulit sintetis dan tidak adanya bantalan membuat bokong Revan seakan digigit. Ditambah lagi ruangan ini begitu menyesakkan berkati aroma alkohol yang tajam plus parfum jeruk dari perempuan di seberangnya.

"Selamat datang di MediPharm. Ada yang bisa kami bantu?"

Revan membalas senyuman petugasnya. "Ada banyak kalo iklan kalian bisa dipercaya." Petugasnya tertawa singkat. Revan mengangkat bokongnya yang mulai nyeri, cukup untuk mengurangi sakitnya. "Tapi berkat iklan kalian, aku akhirnya kepikiran buat melakukan augmentasi. Gak ada yang lebih bagus di kota ini dibanding MediPharm, 'kan?"

Senyum bak model iklan terpampang di wajah petugas. "Benar sekali! Ini kali pertama Anda memasang augmentasi dalam bentuk apa pun?"

"Pertama kali terlintas di kepala bahkan." Revan mengangkat kedua tangannya. "Aku tipe yang butuh waktu sebelum berkomitmen, kecuali kalian bisa mengubah pikiranku kayak iklan yang kalian pasang."

"Kami tersanjung." Dia menyapu mejanya. Katalog produk klinik ini disajikan via hologram di atas meja. "Kami punya semua untuk meningkatkan kualitas hidup Anda. Jangan sungkan jika Anda butuh bantuan saat mengecek katalog kami."

"Iya... semuanya cybernetics?" ucap Revan sambil menggeser hologram di depannya. "Aku kurang nyaman dengan elektronik yang gak disimpen di kantong."

Tabula RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang