40

68 4 7
                                        

"Semua unit siaga di Kantong Anggrek sampai perintah lebih lanjut."

"Kami butuh bantuan ke Gedung Distrik Jakar—"

"Negatif, lokasi belum bisa kami amankan—"

Tiga hari. Tiga hari penuh kekacauan. Populi datang dan menyiram bensin dengan pesan provokatif lewat nomor resmi kepolisian.

Pemantiknya berada di tautan yang mereka kirim. Kali ini, data perusahaan Odawara Group tersebar luas, menyeret nama besar ke kobaran api. Serangan terjadi tengah malam, tapi bisa diredam kurang dari sejam. Eli saja sampai tidak tahu apa isi pesan atau tautan yang dikirim.

Yang pasti pers tidak kehabisan berita selama tiga hari. Cuma dua variasi: antara hinaan ke Kepolisan dan Pak Bertrand, atau mengulang terus kecaman dua institusi ini sampai telinga berdarah.

Revan melirik ponselnya, pikirannya berputar. Odawara Group. MediPharm hanya satu dari tentakel perusahaan itu. Kalau tidak ada asap jika tak ada api, berarti perusahaan itu adalah tungku raksasa. Perdagangan organ ilegal, sasaran serangan geng. Apa hubungannya? Andai Hasan mau menulis dan bukan sekadar menempel seperti tugas anak sekolah, Revan sudah tahu jawabannya.

Sebuah truk perlahan mundur ke garasi MediPharm di seberang jalan. Klinik yang sama yang ia kunjungi pertama kali. Logonya langsung membuat Revan menghela napas panjang. Salah satu perusahaan kargo yang diakuisisi Odawara Group. Di jurnal Hasan, artikel tentang akuisisi ini ada di bagian yang sama dengan MediPharm.

"Buat lu semuanya berhubungan." Revan memandang langit bak beludru hitam. Guyuran hujan memijat wajahnya.

Dia menghisap rokoknya. "Siapa yang dijaga? Kliniknya" Revan mengintai pintu depan yang dikawal dua kontraktor bayaran bersenjata militer, "atau truknya?"

Atau yang lebih jelas jawabannya: melindungi dari siapa? Bandeirantes? Tiga hari dan tidak ada serangan. Kepercayaan publik ke perusahaan milik Odawara Group sedang menukik tajam dan geng itu memilih diam? Setelah jadwal rutin serangan mereka?

"Kalo bukan karena ini, apa alasannya?"

Gracia tahu. Pagi setelah pesan berantai, Gracia mendatangi Eli dan senior yang menggantikan Dirga. Minta bantuan mereka melacak wajah dan suara targetnya. Eli bilang namanya Nossa Senhora. Cebol sialan itu seperti memakai kacamata kuda. Cuma nama itu yang ia inginkan. Sialnya, dia dapat hasil. Entah apa hasilnya, tapi dia yakin ada kaitannya dengan geng itu yang malu untuk keluar rumah.

Truk itu masih membongkar—atau memasukkan; sulit memastikan dari gang ini—muatan. Satu kontraktor yang berjaga di pintu depan dipanggil ke gang belakang klinik. Dia berhenti mendadak, lalu menyorot ke gang tempat Revan bersembunyi.

Bajingan, belum sempat dia menghabiskan rokok itu. Dia membuangnya ke genangan air yang ia pijak. Bunyi mendesis dibarengi asap tipis. Tidak ada cahaya lagi. Tidak dari rokok ataupun dari jalanan di luar. Dia menempel ke dinding. Lembap dan basah, nyaris lengket di tangan. Lebih dari itu, dia benar-benar kedinginan. Kalau kontraktor itu mendekat, dia pasti mendengar gemeretak giginya.

Sebuah mobil melintas, memutus pandangan kontraktor. Setelah lewat, dia memutar arah ke garasi klinik. Revan menghela nafasnya.

"Kayaknya gue gak dibolehin ngerokok."

Samar mesin truk menyala. Lampu depannya menerangi gang dan garasi di belakang klinik. Kontraktornya ikut naik truk. Revan menarik retsleting jaketnya ke atas. Kasih jarak 10 menit lalu ikuti dengan motornya.

HP-nya bergetar. Kontak Feni terpampang di layar ponselnya. Mengundangnya; menantangnya.

Moncong truknya sudah keluar ke jalan. Di saat yang sama panggilannya belum ia angkat. Kunci sudah tertancap. Kejar truknya!

Tabula RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang