Yang buat lu mikir kalo lu yang ngambil alih kasusnya?
168 jam sejak Revan mengucapkan itu. Tidak ada semenit, semenjak ucapan itu, yang tidak mengganggu Gracia. Harusnya dia senang. Harusnya dia mengajak Revan mencari lebih dalam. Di hadapannya, kesempatannya terbuka lebar untuk menjawab kecurigaannya, dan ia cuman perlu mengiyakan rekannya.
Tapi bagaimana jika Revan benar?
Artinya semua yang terjadi sampai titik ini di luar kendalinya. Tidak... pikiran semacam ini yang meracuni pendengung Populi. Cecurut dan pemakan bangkai bekerja penuh waktu di kepolisian, tapi tidak mungkin Gracia menjadi korbannya. Orang kepercayaannya yang membuka akses kasus ini ke dirinya. Lulu, yang sama takutnya, sama enggannya—sama inginnya—untuk mengorek seberapa dalam busuk menggerogoti kepolisian.
Bukan berarti Revan salah, 'kan?
"Gak enak, ya?"
Gracia mengerjap seakan mengusir asap di penglihatannya. Fiony duduk di seberang meja makan, dua mangkuk nasi dan karage memisahkan keduanya. Kenapa tiba-tiba dia bertanya? Lamunannya tidak separah itu sampai tangannya berhenti menyuap.
"A-aku bisa beliin bento kesukaan kamu."
"Gak usah."
Seakan menegaskan ucapannya, Gracia kembali menyuap makanannya. Cukup untuk meyakinkan Fiony, meski sorot matanya masih skeptis. Lagi pula, dia tidak perlu meyakinkan apa pun—dia tidak seharusnya di sini. Iya, dia mengatakan itu tapi tetap saja dia tidak menolak ajakan makan malam Fiony. Tiga kali kejadian yang sama, Gracia akui, bukan lagi kebetulan. Kali ini dia serius soal seharusnya tidak di sini. Terlalu banyak beban di kepala, dan berkaca dari pertanyaan Fiony, Gracia sangat buruk menjaga semua beban itu.
Tuan rumah kini kembali menyantap dan melanjutkan ceritanya. Sesuatu soal meeting yang dijadwalkan lagi untuk ketiga kalinya di hari yang sama dan efeknya ke deadline. Gerutu, kecapan bibir, dengus kesal, dan beragam ekspresi bak kembang api di ufuk. Di antara semua itu, chatter comm kepolisian yang berisik—tidak ada panggilan Revan bukan berarti tidak ada panggilan sama sekali—ditambah kehangatan dari aroma oven dan kilau biru-merah helikopter kepolisian yang melintas, tidak ada ruang untuk Gracia mencerna pikirannya.
Karena bagaimana kalau ternyata Revan tidak salah.
Apa berarti dirinya yang salah?
***
"Kontol."
Aroma pantat dan tai basah mencuat dari ujung rokoknya. Bagus. Rokok terakhirnya mati karena tinja. Revan ingin sekali menghardik ke sumber masalahnya. Namun, akal sehatnya tahu rokoknya tidak seberapa dibanding nasib wajahnya kalau menengok ke atas. Tidak akan mengubah apa pun juga—pipa bocor tidak bisa mengganti rokoknya.
Revan mencoba bernafas dari mulut dan kembali melangkah. Bajingan di sini bak labirin sempit dengan pipa menjalar dan melintang seperti tanaman merambat. Revan bisa mengecap udaranya—bukan cuman aroma, tapi rasa buangan manusia ditangkap indranya.
Kalau disuruh pilih antara bunuh diri atau datang ke tempat ini, Revan bakal menembak kepalanya dua kali.
Gara-gara siapa? Jelas Revan: inspektur terhebat se-Metro Jakarta. Dua minggu habis buat mengejar limusin misteriusnya itu dan apa yang dia dapat? Ratusan mobil, pelat nomornya sama, dan semuanya bisa berada di ratusan klub malam bersamaan.
Siapa yang dia bohongi—maksimal cuman tiga yang bisa dia ikuti dari klub atau lounge, hanya untuk melihat mereka tenggelam di lautan kendaraan Metro Jakarta!
Intuisinya selalu memanggil ingatan soal fasilitas misterius itu ke permukaan. Keduanya pasti berkaitan—setidaknya, Hasan percaya keduanya berhubungan, dengan asumsi Revan tidak salah menafsirkan kenapa rujukannya berada di jurnal yang sama—tapi bagaimana memastikannya? Datang ke sana? Truknya yang dari klinik saja dijaga kontraktor. Tujuannya pasti tempat mereka bersarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Science Fiction[R rated: Mengandung kekerasan grafis/eksplisit, bahasa kasar, kilas balik mengganggu, penggunaan narkoba/zat terlarang, dan adegan seksual grafis/eksplisit] Metro Jakarta, tahun 2099. Kota yang sudah lama menanggalkan statusnya sebagai pusat pemeri...
