46

50 3 4
                                        

Jangan. Apa pun yang terjadi, jangan berani pejamkan matamu. Masih berani setelah yang terjadi barusan?

Revan menguap, mengerjap, membiarkan bawah sadarnya memutar semua yang menghantui tidurnya. Versi tidak dipotong atau disensor. Semuanya. Ruangan yang gelap, teriakan, merah di tangan dan wajahnya. Tubuh digantung dan berputar anggun di udara, persis seperti komposisi Tchaikovsky.

Hidup dan mati. Baginya, bagi yang lain, bukan bagi siapa-siapa. Pernah terpikirkan kalau yang memisahkan—yang menentukan bahkan—adalah siapa yang pertama kali memejamkan matanya? Seperti petak umpet.

"Van."

Terlambat! Mereka mendobrak pintu depan. Secepat kilat, sesenyap tidur lelap. Ketika pandangan bertemu, di saat itu, siapa pun tahu nasib siapa yang ditagih dan—

"Revan."

Fe... Feni? Berarti...

Perlahan tirai diangkat dari pandangannya. Meja kayu dengan kursi dilipat di atasnya. Jendela kaca menghadap ke jalanan gelap di gang. Display kaca, mesin kopi dan kasir di sebelahnya. Kursinya yang menghadap ke pintu depan terpental ke belakang.

"Revan?"

Dunianya kabur, terombang-ambing ke segala arah. Dia bisa saja jatuh kalau bukan karena Feni yang menahan tangannya. Wajahnya yang polos masih terlihat cantik, namun ketakutan mewarnai sorotnya.

Bajingan, mati-matian dia berusaha, ujungnya tetap saja tertidur.

Tenangkan jantungmu. Berdiri lebih tegak, dan demi Tuhan jauhkan tangan kananmu dari pistol di jaket. Feni butuh jawaban—sekarang.

Jadi Revan tertawa. Tidak lepas tapi cukup kencang sampai menggema. "Aku ngorok, ya?"

"Kenapa masih di sini?" ucap Feni. Dia masih memakai kaos longgar yang menutupi pahanya. Peta Indonesia terpampang di depan, lengkap dengan beberapa titik berbentuk biji kopi di tiap pulau terbesar. Rambut pirangnya digerai sampai menyentuh leher.

"Gak tau, tiba-tiba aku—"

"Pindah, yuk, ke kamarku."

Revan berhenti mengembalikan kursinya yang terjatuh. Feni tidak pernah menyuruh. Meminta? Sudah pasti. Sampai sekarang Revan ogah menunjukkan pistolnya—atau korek api—di dekat kekasihnya. Tapi tadi, meski dibalur kelembutan, adalah pertama kalinya Feni menyentuh batas memerintah.

"Duluan aja, nanti aku nyusul."

"Kamu bilang gitu setengah jam lalu."

Setengah jam? Revan mengecek ponselnya. 2:30 pas. Berarti dia tertidur tak lama setelah sampai.

"Ketiduran." Feni melepaskan pegangannya ke tangan Revan. Lingkaran hitam di sekitar matanya makin mencolok digelapnya kafe. "Serius, abis ini aku nyusul."

Dia kembali ke posisi sebelumnya: duduk menghadap pintu kafe. Tidak ada yang berubah; masih rumah tapak dengan dua skuter merah terparkir di seberang. Jangan-jangan ini tetangga yang Feni maksud?

Tubuhnya lebih lega saat mendengar langkah kaki menjauh di belakang. Memang bodoh. Dia tidak perlu melakukan ini. Dia harusnya di kasur, bersama Feni, jauh lebih nyaman dibanding kursi kayu. Justru karena bodohnya itu, dia tidak sanggup mengusir Feni dengan alasan masuk akal.

"Mau kubuatin teh?"

Teh? Jadi Feni bukan ke atas? Bagaimana dia membuat teh di pantry yang gelap. "Kayaknya gak u—"

Feni sudah mengisi teko dengan air keran. Dia masih memunggungi Revan. Dengan gerakan terlatih, tangannya menakar teh ke teko dan menyalakan kompor.

Revan cuman bisa menghela nafas. Rasanya salah membuka mulutnya. Menonton Feni saja terasa salah. Apakah dia mengganggu? Kenapa dia perlu merasa itu?

Tabula RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang