38

55 5 2
                                        

Enam klinik yang Revan kunjungi. Keenamnya mengulang omong kosong yang sama.

Revan mengecek ponselnya. 18:39. Cahaya kota mulai bangun malam ini. Kendaraan semakin memadati jalan. Klinik di belakangnya berada di perbatasan Jakarta Selatan dan Pusat. Revan menjentik jarinya. Abu rokoknya jatuh ke genangan air di trotoar. Hidungnya beradaptasi kembali setelah digempur bau obat dan alkohol yang menusuk parunya. Rasanya seperti di kayangan, berada di antara asap knalpot dan tembakau.

Gerimis berganti dengan tetesan berirama di rambutnya. Jas hujan dan payung mulai ditanggalkan. Di sekitarnya, Revan melihat orang-orang mengencangkan jaketnya. Udara malam pasca hujan menggerogoti hingga ke tulang.

Dia membuka galerinya. Enam klinik dan tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya. Apa yang dimaksud Vox? Artikel itu jelas-jelas membahas soal dugaan penggunaan organ ilegal di klinik MediPharm. Dugaan, tanpa bukti-itu isi beritanya. Revan tidak tahu alasan apa lagi yang membuat Vox menaruhnya di jurnal.

Mana yang lebih penting sekarang? Revan kehabisan pilihan. Dia tidak buta. Notifikasi pesan dari Gracia ia biarkan tidak terbaca. Lebih menyayat hatinya adalah puluhan notifikasi dari Feni. Dia sudah berjanji untuk meneleponnya, apalagi setelah semalam ia menghiraukan panggilannya.

Revan tidak sadar dia sudah bersandar di motornya. Babel adalah jebakan. Kalau bukan jebakan, paling tidak dia cuma pengalihan. Ini yang membuat Vox dibunuh. Sampai situ Revan tahu.

Tidak cukup sampai situ. Pikir, sudut apa yang belum ia lihat? Bagaimana kalau pembuktian terbalik? Tidak seperti arti harfiahnya, tapi kalau dia tidak menemukan bukti yang mendukungnya, bagaimana kalau mencari bukti yang menolak dugaannya?

Dia menghisap rokoknya sampai terbakar separuh. Pikirannya menjernih. Dia tahu sudut mana yang ia perlu cek.

***

Bodoh.

Dia tidak kaget, tapi benar-benar bodoh.

Revan tidak akan datang. Tidak masalah. Andai saja Feni tidak meneleponnya sore ini menanyakan soal kekasihnya. Setengah jam lebih hanya menenangkan dan membual ke temannya.

Energinya nyaris habis dan misinya belum dimulai. Selama rekannya tidak mencari perkara di luar sana, Gracia sudah tidak peduli. Dia janji akan menyisihkan waktu untuk rekannya-dia perlu menyiapkan kata-kata manis yang belum pernah ia pakai sebelumnya.

Mendengar kata 'manis' di kepalanya membuat Gracia menoleh ke arah meja rias di kamar ini. Dia beranjak dari tempat duduknya-kasur empuk dengan tiga lapis selimut dan bed cover berwarna maroon. Gracia akui, ruangan mahal ini layak dengan semua uang-dari rekening palsunya-yang ia habiskan. Lantai dari karpet beludru membuatnya bak berjalan di atas awan. Dia melewati layar 60 inci yang berperan sebagai TV dan cermin di saat yang sama.

Gracia tidak tertarik dengan berbagai riasan yang, tampaknya, bagian dari room service kamar ini. Ia memandang kotak makan pemberian Fiony. Isinya nasi dengan potongan fillet ikan yang disiram saus teriyaki. Dia tidak mau membohongi dirinya, Fiony cukup ahli memasak. Ia tidak sanggup menghabiskan semuanya; pengalaman mengajarkannya agar tidak makan besar sebelum misi. Pantry kamar ini memiliki microwave yang bisa menghangatkan hidangannya nanti.

Telinganya menangkap langkah kaki. Suaranya menggema-kamarnya berada di akhir lorong lantai. Awalnya ia merasa tidak ada yang menarik, sampai ia sadar suaranya semakin dekat. Kini dadanya bergetar mengikuti detak jantung yang makin kencang. Gracia tidak bergerak sejengkal pun dari meja rias yang menghadap langsung ke pintu kamar. Di dalam kepalanya ia menghitung-kalau suara ini penghuni kamar lain di lorong, mereka akan segera berhenti. Namun tiap detik yang berlalu, Gracia yakin siapa pun yang sedang berjalan hanya punya satu tujuan.

Tabula RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang