45

79 3 8
                                        

Trigger warning: Ada banyak deskripsi soal kekerasan. Iya, ini bukan satu-satunya momen semacam itu, tapi bab ini secara khusus membahas kekerasan dengan lebih mendalam. Silakan lewati bab ini jika kalian tidak merasa nyaman

***

Mabuk tidak terasa ringan.

Tidak bagi Gracia yang jelas.

Kesadarannya masih bertahan layaknya untaian benang tipis sebelum bajunya sobek. Tiap menit—atau jam, detik?—benang itu dirajut seperti baru, hanya untuk ditarik paksa kembali.

Kesat. Kulitnya menggaruk permukaan. Gracia bisa mengangkat lehernya, tapi tangannya? Ada yang menahan. Dua-duanya menjuntai ke atas.

Tak berdaya. Semua karena rencana matangnya.

Ini pembuktiannya ke Pak Alex? Menjijikkan! Di catur saja, yang lawannya hanya satu orang yang sama, dia belum pernah mencicipi sekakmat. Bodoh. Bodoh.

Cari sudutnya, Gracia. Dia sedang diseret, entah ke mana, tapi mereka belum ingin dia mati. Itu sudutnya. Tidak mungkin dia dibawa ke markas mereka. Kecuali mereka punya signal jammer, sama seperti yang Gracia temui saat serangan MediPharm. Tapi Bandeirantes benci mencolok, dan tidak ada yang lebih mencolok dari area tanpa sinyal, permanen, di tengah kota.

Langkahnya menggema. Bukan, ini bukan kakinya. Rajut lagi kesadaranmu. Dua... empat... delapan... sepuluh derap kaki yang menggema di sekitarnya barusan. Lima pasang kaki. Kurang dari separuh yang mengawal Nossa di bar. Siapa? Tangan Kanan, dua orang ber-poncho? Nossa kemungkinan ada di antara mereka, jadi total empat. Satu lagi? Siapa yang ikut dari bar?

Sekarang tubuhnya terasa ringan. Hawa panas dan sumpek berubah jadi semilir dingin. Tangannya masih menjuntai ke atas, tapi pergelangannya diikat. Berat, dingin, licin, menggigit pergelangannya.

Rantai.

Dia disentak sampai sendinya nyaris copot dari bahu. Kakinya kini menggantung. Apa rencana mereka? Rajutan kesadarannya kini cukup kuat untuk membuka matanya.

Yang ia lihat pertama kali adalah kepalan tangan melesat ke wajahnya.

Pipi kirinya yang menjadi sasaran. Begitu kuat, tengkoraknya terpental ke samping. Bukan buku jari yang mengenainya. Lebih tajam, semacam sisi—

Pukulan kedua datang ke pelipis kanan. Luput dari pandangannya. Kulitnya terkoyak—ia bisa merasakan udara dingin menyentuh lapisan implannya yang terekspos. Ia tak bisa membuka matanya. Dengung di telinganya... terlalu keras. Terlalu bising.

Tidak cukup bising untuk mendengar tawa yang mengalun nyaring. Tawa Nossa Senhora.

***

"—dan gue butuh ke lokasi ini 10 menit yang lalu!"

"Lokasi Anda terlalu jauh—"

"Kalo kalian jalan kaki!"

"—semua unit sedang dikerahkan ke Pusat dan—"

"Satu unit aja yang gue minta!"

"Panggilan kami sedang sangat sibuk dan Anda mengham—"

"Alesan aja dari tadi, anjing! Bukan kali ini gue berurusan sama satuan lu dan gue gak takut—"

Mereka menutup panggilannya? Revan memukul dinding berdebu di mana ia bersandar. Kontol! Satuan Taktis punya lebih dari seratus personel aktif dan semuanya sibuk? Dikira dia sebodoh itu; tidak ada Satuan Taktis yang tersedia ketika suara Revan yang masuk ke telinga operator!

Tabula RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang