Mereka bisa saja melarikan diri. Jauh lebih cepat dibanding diam di sini dan melawannya.
Apa yang mereka dapat? Temannya merintih di lantai, menangis sambil mencoba menangkup usus dan lambung yang ingin keluar dari luka di perutnya. Dia harusnya jadi peringatan pertama. Dia memang dijadikan peringatan pertama.
Anehnya, mereka melawan. Enam orang yang sengaja ia sisakan. Di sini, di ruang tamu di sebuah flat, di antara meja dan loveseat berdebu. Lampu gantung mati, meninggalkan cahaya pecah dari layar TV yang masih menayangkan iklan larut malam. Kilat cahaya. Aroma mesiu bercampur bau karpet lembap yang tak pernah diganti. Percik dari peluru yang memantul mengenai tubuhnya ke rak yang penuh dengan koleksi teko. Mereka punya cybernetics yang membantu melihat dalam gelap. Harusnya saat itu mereka tahu, tidak ada gunanya melawan.
Salah satu dari mereka mencoba peruntungan. Ganti autopistol-nya dengan pisau arc-bowie yang berkilau biru. Mencoba menyelinap dari belakang, menerkam bak harimau yang mengincar leher buruannya.
Tidak ada yang luput. Semuanya ia lihat seperseratus detik sebelum orang itu menggerakkan ototnya. Dia menangkap kepala itu di tengah terkamannya dengan tangan kanannya. Wajah kecilnya—kelihatannya belum menyentuh dewasa—menatap takut. Pisaunya mengayun liar mencoba membebaskan diri.
Kelima penghuni rumah ini makin deras menghujani tembakan. Sampai mereka sadar peluru tak berdampak apa pun kecuali memantul dan melubangi temannya. Alih-alih berhenti, otak kadal mereka memegang kendali. Satu pria dengan tambahan CPU yang menempel di punggungnya mencoba quickhack. Sepertinya dia sadar tamu tak diundang malam ini bukan manusia utuh. Dia bisa merasakan orang itu masuk ke kepalanya. Dia tahu apa yang ia incar—pertama RAM, lalu ketika gagal, semua modul cybernetics. Trik klasik: memory leak untuk overload CPU dan memaksa lumpuh.
Andai rencana pria itu berhasil, mereka selamat malam ini. Kejadian ini hanya jadi mimpi buruk dan besok semuanya kembali normal.
Tubuhnya mengejang tak terkendali. Mata dan telinga menangis darah, menitik ke karpet lembap yang kini menyerap segalanya. Kurang dari sedetik, otot punggungnya berkontraksi begitu keras hingga tulang belakangnya terlipat ke dalam. Layar TV di sudut ruangan berkelip sekali, lalu padam, menyisakan gelap total kecuali percikan senjata. Kematian cepat yang damai baginya, tak pernah tahu kesalahan fatal karena tidak memastikan sistem pelindung macam apa yang menantinya saat mencoba quickhacking.
Tiga peringatan sudah lebih dari cukup. Dia menarik plasma rifle dengan tangan kirinya, sinarnya memantul di teko-tekonya yang sudah pecah di rak, lalu melepaskan empat tembakan. Masing-masing orang yang tersisa meledak, serpihan mereka menempel di dinding yang mengelupas.
Dia menengok ke bawah. Ternyata isi perut perempuan itu sudah tumpah. Tatapan kosong tak bernyawa menatap balik.
Tinggal satu. Anak kecil di tangan kanannya sudah berubah menjadi spons akibat ulah teman-temannya. Di antara tembakan tadi, salah satunya berasal dari kaliber besar. Tinggal sedikit bagian femur yang menempel ke tempurung lutut kiri anak ini, sisanya putus dan meninggalkan patahan tulang tajam yang mencuat.
Menarik. Ia masih merasakan nafas anak ini mengenai telapak tangannya. Sudah tak kuat mengayunkan pisaunya, tapi masih menolak pergi. Lagi-lagi, dia menemukan tatapan yang sama.
Harapan.
Dia mencengkeram lebih kencang. Bunyinya renyah. Tatapan itu masih ada.
Harapan.
Ia mencengkeram lagi. Kali ini tempurung kepalanya mulai remuk. Tulang pipinya masuk ke rongga mulut. Darah merembes bak kain basah yang diperas. Tatapan itu...
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Fiksi Ilmiah[R rated: Mengandung kekerasan grafis/eksplisit, bahasa kasar, kilas balik mengganggu, penggunaan narkoba/zat terlarang, dan adegan seksual grafis/eksplisit] Metro Jakarta, tahun 2099. Kota yang sudah lama menanggalkan statusnya sebagai pusat pemeri...
